Zul-Rohmi Gagal Genjot IPM NTB

Indikator Kesehatan dan Pendidikan Masih Jeblok

Grafik IPM NTB ( Wahyudin)

MATARAM – H Zulkieflimansyah bersama Hj Sitti Rohmi Djalilah telah memimpin NTB sebagai gubernur dan wakil gubernur telah memasuki empat tahun atau tiga tahun lebih sejak dilantik pada September 2018 silam. Namun, selama tiga tahun lebih memimpin NTB, paket pasangan Zul – Rohmi belum mampu mengubah posisi Indeks Pembangunan Manusia (IMP) NTB dan masih bertahan berada di posisi ke 6 dari nomor paling bawah dari 34 provinsi. Berdasarkan data Badan Pusat Statisik (BPS) Provinsi NTB peringkat IPM NTB pada tahun 2021, masih berada di urutan ke 29 dari 34 Provinsi se Indonesia.

BPS NTB mencatat peringkat IPM NTB masih bertahan di urutan ke 29 dari 34 Provinsi se Indonesia. IPM terendah atau 34 dipegang oleh Provinsi Papua, kemudian posisi 33 Papua Barat, 32 Nusa Tenggara Timur (NTT), 31 Sulawesi Barat, 30 Kalimantan Barat dan baru posisi ke 29 di tempati Provinsi NTB yang kini sudah tiga tahun lebih dipimpinan Zul – Rohmi. “Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi NTB masih berada di posisi sedang atau 29 dari 34 provinsi di Indonesia. NTB tetap berada di papan bawah klasemen bersama Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, NTT, Papua Barat dan Papua,” kata Kepala BPS Provinsi NTB Wahyudin, Rabu (1/12).

Diterangkan Wahyudin, berdasarkan perhitungan dilakukan di 2021 IPM NTB adalah sebesar 68,65 atau tumbuh hanya 0,59 persen. Perhitungan tersebut mengalami peningkatan dibandingkan dengan IPM 2020. Di mana terjadi peningkatan rata-rata pertahunnya sekitar 1,06 persen selama 10 tahun terakhir dari 2010 sampai dengan 2021.

BACA JUGA :  Dikunjungi Jokowi, Inak Suinah: Seperti Khayalan dan Mimpi

NTB berada di urutan di 29 dari 34 provinsi dengan IPM 68,65 poin, ada

Lampung, Sulawesi tengah, Maluku, Gorontalo, Maluku Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, NTT, Papua, Papua barat  itu masuk katagori sedang. Papua IPM paling rendah dan paling tinggi ada DKI Jakarta, kemudian Yogyakarta. Jika melihat secara seluruh provinsi sebagian besar angka IPM berada di bawah rata-rata nasional sebesar 72,29 poin. Sementara, jika dilihat dari komponen pembentuk IPM ada tiga indikator utama, yakni kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

Dari sisi kesehatan usia harapan hidup saat lahir penduduk NTB 2021 mencapai 66,69 tahun. Artinya balita atau bayi yang lahir 2021 harapan hidupnya kedepannya mencapai 66,69 tahun. Kemudian dari sisi pendidikan, ada dua variabel rata rata lama sekolah dan harapan lama sekolah.

Untuk rata-rata lama sekolah di 2021 itu mencapai 7,38 tahun atau baru secara rata-rata sampai dengan kelas 2 SMP. Sementara untuk harapan lama sekolah itu 13,90 tahun, artinya ini sudah masuk kuliah. Sedangkan indikator ekonomi yang diwakili oleh pengeluaran per kapitan per tahun yang disesuaikan bahwa pengeluaran per kapita per tahun mencapai Rp 10.377.000 untuk pengeluaran perkapita pertahun. “Kalau di rata-rata perbulannya tidak mencapai Rp 1 juta, hanya sekitar Rp840 ribuan rata-rata perbulan perkapita. Dengan rata-rata ini, dapat kita katagori IPM NTB masih berstatus sedang. Artinya kisaran masih 60-70 poin,” jelasnya.

BACA JUGA :  Kibarkan Semangat Kemerdekaan di Tengah Pandemi

Menurut Wahyudin, jika melihat dari angka-angka 3 indikator tersebut masih dapat ditingkatkan terkait dengan lama sekolah dan harapan lama sekolah. Nantinya bisa lebih meningkatkan PMI di NTB. Sedangkan dari sisi pengeluaran perkapita pertahun walaupun mengalami peningkatan, tetapi ini sudah lumayan tinggi jika dibandingkan dengan provinsi lain.

Satu hal lagi perlu di lihat indikator kesehatan masih di bawah 70 tahun umur harapan hidupnya. Sementara di provinsi lain sudah di atas 70 tahun.

Ini yang mesti digenjot oleh pemerintah daerah, yang bisa ditingkatkan tahun-tahun mendatang.

Sementara itu, NTB untuk angka IPM menurut kabupaten/kota pada tahun 2021 sama seperti tahun sebelumnya. Di mana Kota Mataram memiliki IPM tertinggi sekitar 79,14 poin, kemudian Kota Bima 76,11 poin dan Sumbawa Barat 71,85 poin.  “Ketiga Kabupaten/Kota ini termasuk katagori IPM tinggi antara kurang lebih 70 poin. Sedangkan 7 kabupaten/kota lainya berkategori sedang dan paling rendah Lombok Utara 64,77,” tandasnya. (dev)