Wujudkan “Zero” Sampah di Obyek Wisata NTB

SAVE GILI’S ISLAND: Gerakan peduli lingkungan Save Gili’s Island di pantai Senggigi, yang dimulai dari aksi membersihkan sampai di pinggiran pantai, pameran barang kerajinan dari bahan sampah, dan konser musik reggae.

GERAKAN peduli lingkungan, khususnya mewujudkan lingkungan destinasi wisata NTB yang “zero” sampah, atau bersih dari sampah, dengan tajuk “Save Gili’s Island” terus digaungkan Komunitas Sama Sama Peduli, sebuah komunitas yang diinisiasi oleh H. Acok Bassok, pengusaha dan pemilik bisnis usaha wisata di Gili Trawangan, “Sama Sama Reggae Bar”.

Menariknya, imbauan dan ajakan untuk membersihkan sampah di lokasi-lokasi obyek wisata itu tidak saja dilakukan dengan cara mengajak orang, atau komunitas peduli lingkungan seperti kelompok pencinta alam, atau kelompok sadar wisata untuk melaksanakan aksi bersih saja.

Lebih dari itu, Sama Sama Peduli juga mengajarkan bagaimana memanfaatkan sampah-sampah yang dianggap tidak berguna itu menjadi barang-barang kerajinan yang bernilai ekonomi. Selain itu, dalam setiap kampanye gerakan peduli lingkungan ini juga di gelar konser musik reggae di setiap destinasi wisata yang menjadi lokasi aksi clean up.

“Konser musik reggae ini selain menjadi ajang kampanye peduli lingkungan, agar masyarakat sekitar obyek wisata mulai lebih peduli dengan lingkungan. Sekaligus juga dapat menjadi hiburan bagi para peserta clean up, masyarakat, dan wisatawan yang kebetulan sedang berkunjung,” kata Bassok, ketika dijumpai Radar Lombok, di sela aksi clean up di Pantai Senggigi, Lombok Barat, Minggu (13/11).

Menurut Bassok yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Gili Trawangan (APGT) ini, Gerakan Save Gili’s Island melalui konser music reggae ini telah berjalan sejak tanggal 1 Oktober 2016 lalu. “Kami telah menggelar konser musik reggae, Save Gili’s Island ini di tujuh lokasi berbeda, mulai dari Kota Mataram ada empat lokasi, yaitu di Bandini Cofe, Serena Cofe, Warjek Cofe, dan Paradiso Cofe.  Sedangkan di Provinsi Yogyakarta tiga lokasi, yaitu di Hardcase Café (5 November), Kampayo Café (6 November), dan Asmara Coffee Shop (7 November). Kali ini di Pantai Senggigi, untuk kemudian akan diakhiri di Gili Trawangan nanti,” jelas Bassok.

Sementara Manajer Save Gili’s Island, Sandy, menambahkan bahwa untuk kegiatan clean up di pantai Senggigi ini melibatkan sekitar 200-an peserta, yang telah dimulai sejak Minggu pagi, dengan cara menyisir dan memungut sampah, khususnya sampah yang tidak bisa cepat terurai seperti plastik dan kaleng di pinggiran pantai.

Berikutnya sampah-sampah itu dikumpulkan, untuk kemudian melalui workshop yang juga digelar, akan dijadikan berbagai barang kerajinan yang bisa bernilai ekonomi, seperti bangku, kursi, meja, lampu taman, pigura kaca hias, dan lainnya.

“Selanjutnya sore hari di gelar konser musik reggae, yang melibatkan sekitar 20 grup music reggae dari berbagai daerah di Lombok, mulai dari Joe Mellow Mood, Amtenar, Richard D’Gilis, dan lainnya,” jelas Sandy, yang juga salah satu pentolan Club Photografer Lombok Landscaper ini.

Disampaikan, sebenarnya komunitas Save Gili’s Island ini telah bergerak menggaungkan “zero” sampah di obyek wisata ini sejak lama. Hanya saja skup-nya masih terbatas di sekitar kawasan Tiga Gili saja. “Namun kami sadar, antar destinasi wisata di NTB ini saling kait terkait. Kalau ada satu destinasi wisata yang kumuh karena sampah, maka wisatawan yang berkunjung pasti akan menyamaratakan kondisi destinasi wisata lainnya di NTB,” ujar Sandy.

Karena itu sambung Sandy, mengapa kemudian Gerakan Save Gili’s Island ini akhirnya juga menggarap destinasi wisata selain kawasan Tiga Gili, seperti Pantai Senggigi sekarang ini. “Kedepan, kami juga akan melakukan kegiatan seperti ini di obyek-obyek wisata lainnya di NTB. Tak hanya di Pulau Lombok saja, tetapi juga ke Pulau Sumbawa,” tekad Sandy.

Ketika ditanyakan siapa penyandang dananya? Dengan sigap telunjuk tangan Sandy menunjuk ke arah H. Acok Bassok, yang sedang memberikan tas kain kepada salah satu wisatawan, yang saat itu kebetulan sedang menenteng minumannya dengan tas plastik. “Kegiatan ini beliau (H. Acok Bassok) semua yang membiayai. Cita-citanya cuma satu, ingin seluruh lingkungan di NTB ini bersih dari sampah, khususnya di destinasi wisata,” singkat Sandy. (gt)