Witan Sulaeman Lahir dari Tukang Sayur, Tekad Jadi Pesepakbola Hebat Tak Pernah Kendur

SELEBRASI; Inilah khas selebrasi Witan Sulaeman saat sukses menjebol gawang lawannya. (ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

Skuad Sepakbola Timnas Garuda Indonesia saat ini sedang terbang tinggi. Keberhasilan Timnas menembus final piala Asean Football Federation (AFF) masih menjadi perbincangan hangat warga Indonesia. Tak terkecuali warga Lombok secara khususnya, lantaran salah satu gelandang hebat Timnas, Witan Sulaiman berdarah asli Lombok.


NASRI BORDJANA—MATARAM


SENYUM khas nan manis kerap menghiasi layar kaca kala melangsungkan laganya membela Timnas Indonesia. Tidak banyak gaya dalam berselebrasi ketika sukses menjebol gawang lawannya. Sosoknya hanya berselebrasi sewajarnya, cukup memberikan tanda cinta lewat lengkungan jemari di layar kaca. Dibarengi senyuman manis yang menenangkan, membuat penonton dan penggemarnya ikut bahagia. Itulah sedikit gambaran singkat dari sosok Witan Sulaiman, gelandang Timnas berbakat berdarah Lombok tersebut.

Meski lahir dan dibesarkan dari keluarga sederhana, rupanya tidak menyurutkan tekad pemuda kelahiran 8 Oktober 2001 di Kota Palu itu untuk menjadi pemain hebat. Terbukti, berkat kerja keras dan kecintaannya terhadap olahraga sepakbola, pemuda berusia 20 tahun tersebut sukses ikut mengantarkan Timnas menuju babak grand final. “Sejak kecil memang dia (Witan, red) sudah sangat cinta sepakbola. Bahkan semasa kecilnya dia gak pernah ketinggalan nonton bola. Terutama klub yang dimainkan Lionel Messi,” tutur Humaidi, ayah Witan Sulaiman kepada pada Radar Lombok, Senin (28/12).

Witan kecil terbilang tidak pernah absen dari kompetisi sepakbola. Bahkan sejak di bangku taman kanak-kanak (TK), sosoknya sudah mengenal olahraga sepakbola dan aktif menimba ilmu di sekolah sepak bola (SSB) Masjid Agung. Lewat SSB tersebut, Witan kemudian mulai menunjukkan bakatnya di olahraga sepakbola. Berbakat sejak kanak-kanak, Witan lantas di masukkan ke SSB yang cukup masyhur di Kota Palu, yakni SSB Galara Utama Palu dari 2013-2016. Dua SSB inilah yang menempa bakatnya hingga remaja setingkat sekolah menengah pertama (SMP).

Karena bakat Witan dinilai semakin mumpuni,  akhirnya Humaidi selaku orang tua melanjutkan sekolah Witan ke SMA Olahraga Ragunan, Jakarta dari 2016-2019. Meski profesi Humaidi bersama istrinya, Nurhayati hanya sebagai penjual sayur, tidak lantas menyerah begitu saja. Dukungan dari kedua orang tuanya tersebut akhirnya menghantarkan kesuksesan Witan tampil impresif di Skuad Timnas Indoensia. “Kami lihat Witan juga sangat disiplin dalam hal berlatih. Baik saat di SSB tempatnya menimba ilmu dan sewaktu di rumah,” bebernya.

BACA JUGA :  Jelang MotoGP, 22.223 Kamar Hotel Bintang Hingga Homestay Sudah Dipesan

Sebelum masuk di SMA Ragunan, anak kedua dari tiga bersaudara itu kerap menjajal kompetisi sepakbola usia remaja membela SSB Galara Utama Palu. Dari sekian laga yang dilaluinya, penampilan Witan pun mendapat perhatian dari pihak Kemenpora. Sehingga selain dibiayai orang tuanya, Witan mendapat semacam beasiswa di SMA khusus Olahraga di Ragunan, Jakarta. Aktif dan disiplin di bangku sekolahnya, Witan kemudian terus ditempa sesuai bakatnya.

Setelah usianya dinilai cukup ideal, Timnas pun mulai melirik bakatnya. Meski begitu, Witan harus tetap mengikuti seleksi Timnas. Serangkaian tahap seleksi yang dilaluinya hampir membuatnya putus asa. Namun karena tekadnya yang ingin menjadi pemain hebat, Witan terus berlatih demi mewujudkan mimpinya.

Witan pun berkesempatan tampil membela Timnas U-19 dari 2017-2020 dengan 13 penampilan dan mengoleksi 9 gol. Hingga tibalah waktunya, di mana Witan mendapat kepercayaan membela Timnas U-23/senior di usia 20 tahun dari 2019-sekarang dengan 16 penampilan dan mengoleksi 4 gol. “Sempat kami tidak percaya karena usianya yang masih cukup muda dipercaya bela Timnas senior di piala AFF,” kenang Humaidi yang lahir di Dusun Menak, Desa Kalijaga, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur itu.

Untuk karier pada klub yang dibela Witan, Karier senior pada 2019 lalu, pemuda tersebut dipercaya bela PSIM Yogyakarta. Tidak berhenti sampai di situ, Witan kemudian malang melintang di klub Eropa. Yakni pada 2020–2021, Witan dipercaya bela Tim Radnik Surdulica. Kemudian pada 2021 saat sekarang ini, Witan membela Lechia Gdansk dan Lechia Gdansk II.

Seperti diketahui, penampilan Witan Sulaiman di Skuad Timnas Indonesia cukup mendominasi. Penampilannya di babak semifinal leg pertama menghadapi tim Singapore cukup menjadi penentu lolosnya Timnas Indoensia ke babak final piala AFF. Karena pada laga leg pertama itu, gol semata wayang Witan berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Padahal Timnas Indoensia sempat tertinggal dari tim tuan rumah saat itu.

BACA JUGA :  Logistik Tiba, WorldSBK Siap Digelar

Adapun pada laga lanjutan leg kedua melawan Timnas Singapore, Witan tidak pernah ketinggalan mengancam pertahanan tim Singapore. Asist dari pemain bernomor punggung 8 di tim senior dan bernomor punggung 21 di Timnas U-19 itu selalu membuat tim Singapore kewalahan. Daya juang serta kekuatan fisik Witan selama laga berlangsung tidak bisa diremehkan. Meski tinggi badannya 1,67 m, namun soal ketangkasan saat duel dengan lawan cukup menyulitkan tim lawan.

Laga yang cukup dramatis melawan Singapore sangat mengehbohkan jagat maya Indonesia. Timnas Indonesia yang sempat memimpin laga rupanya mampu dibalas di menit akhir babak pertama. Sehingga skor pun berubah menjadi 1-1. Namun demikian, Skuad asuhan Shin Tae Yong (STY) itu tidak menyerah begitu saja. Serangan demi serangan terus digencarkan.

Sayang, gol kedua dari tim Singapore kembali tercipta. Akibatnya, tim Asnawi Mangkualam Cs itu harus tertinggal skor sementara menjadi 1-2 lewat tendangan bebas pemain Singapore. Tidak berhenti sampai di situ, tim Indonesia pun kembali membalas ketertinggalannya. Sehingga skor pun kembali imbang menjadi 2-2.

Namun menjelang menit-menit injury time, tim Singapore mendapat kesempatan emas eksekusi pinalti. Tanpa diduga, kiper Indoensia, Nadeo berhasil menepis tendangan algojo Singapore tersebut. Hingga tibalah tanda-tanda kemenangan Timnas Indonesia. Karena di menit ekstra time, pemain Singapore melakukan gol bunuh diri. Ditambah lagi dengan gol keempat dari sosok Egy MV.

Akibatnya skor pun berhasil di pimpin Timnas Indoensia dengan skor 4-2 hingga laga usai. Atas kemenangan 4-2 dengan aggregat 5-3 tersebut, Timnas Indonesia pun dinyatakan berhak menuju babak yang ditunggu-tunggu, yakni babak grand final. Pada babak final nanti, Indoensia bakal bertemu dengan Timnas Thailand. Setelah Thailand dinyatakan berhasil menumbangkan Timnas Vietnam di babak semifinal. (**)