Wisatawan Keluhkan Jembatan Kayu Danau Mangrove Gili Meno

Danau Mangrove Gili Meno
RUSAK : Salah seorang bule yang tengah melintasi jembatan kayu danau mangrove di Gili Meno dengan berhati-hati dan memegang tiang jembatan. Kerusakan jembatan sudah parah. (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

TANJUNG – Jembatan kayu danau mangrove Gili Meno Desa Gili Indah Kecamatan Pemenang menjadi salah satu daya tarik para pengunjung untuk menikmati panorama alam di kawasan wisata terkenal dengan honeymoon island tersebut. Para pengunjung yang datang ke pulau mungil itu memastikan diri menikmati angin segar danau mangrove untuk mengambil spot foto (selfiean) bersama pasangannya. Namun, kondisi yang dirasakan para wisatawan harus mengeluhkan fasilitas pendukung tidak terawat dan tidak diperbaiki. “Ini baru pertama kali saya ke sini (Danau Mangrove Gili Meno),” ucap salah seorang bule Jerman Lhusiana, Minggu (18/3).

Menurutnya, danau mangrove ini sangat indah dan sangat menarik mengambil spot foto. Hanya saja sedikit kecewa dan takut melintasi jembatan kayu kurang lebih sepanjang 200 meter. Kerusakan dimulai sejak pertama kali naik ke jembatan kayu hingga terakhir. “Tapi, sayang banyak yang rusak jembatan. Jadi, teman saya takut jalan,” terangnya menggunakan bahasa Inggris bersama dua teman lainnya yang sedang berusaha melintas.

Meski kondisi seperti itu, tidak membuat mereka terhalang untuk mengelilingi jembatan terakhir sembari melihat kondisi. Mereka pun secara perlahan-lahan sembari sesekali menengok ke jembatan kayu dilalui. “Kami harap ini segera diperbaiki,” harapnya.

Hal serupa dikeluhkan wisatawan lokal yang berkunjung menikmati liburan hari Nyepi dan juga akhir pekan. Mereka pun juga menyampaikan ketakutan melintasi jembatan kayu, karena terdapat beberapa titik rusak parah, kerusakannya pun sangat mengkawatirkan para pengunjung. Apalagi, ketika para pengunjung ramai berdatangan. “Ya mas, takut kita melintasi di sini,” tandas Melinda.

Selain itu, ia juga mengeluhkan kondisi fasilitas toilet umum yang tidak berfungsi. Hanya menjadi pajangan semata, sehingga para pengunjung yang ingin ke toilet pun harus menahan diri. “Toilet rusak, ini harus segera diperbaiki biar pengunjung betah,” imbuhnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lombok Utara H Muhammad mengaku, baru mendapatkan informasi mengenai kerusakan jembatan kayu danau mangrove tersebut. Selama ia menjabat tidak pernah mendapatkan laporan dari masyarakat setempat ataupun pemerintah desa setempat akan kondisi tersebut. “Baru tahu kalau itu rusak, tidak pernah mendapatkan informasi dari Pak Kades,” katanya.

Dijelaskan, jembatan kayu itu bagian dari fasilitas destinasi wisata danau mangrove Gili Meno. Namun, yang membangun jembatan kayu itu bukan dari Disbudpar, sehingga pihaknya pun tidak pernah melakukan perawatan. Jika pun kondisinya seperti itu, pihaknya akan segera menerjunkan jajarannya untuk meninjau langsung atas kerusakan tersebut. “Jika perlu perbaikan, maka nanti kita akan masukan pada APBDP 2018, kalau APBD murni 2018 tidak ada kita masukan dalam pembenahan destinasi wisata. Karena, tidak pernah ada usulan dalam pembahasan,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, perbaikan toilet umum itu akan menjadi pembahasan nanti. Apakah perlu ada penambahan fasilitas, tentu harus menunggu hasil turun peninjauan tim. Apa saja yang perlu dibenahi dan ditambah. Jika pun tahun ini tidak bisa, maka tentu akan diusulkan tahun anggaran 2019. “Nanti tergantung hasil pengkajian. Karena jembatan itu bukan ranah kita yang bangun. Tapi, itu tetap bagian dari fasilitas destinasi wisata,” pungkasnya. (flo)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut