Wilayah NTB Rawan Bencana 

Lima Daerah Rentan Terjadi Banjir

BANJIR: Wilayah Desa Kabul Kecamatan Praya Barat daya Kabupaten Lombok Tengah menjadi salah satu korban bencana banjir pada musim hujan tahun ini. (ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

MATARAM-Wilayah Provinsi NTB sedang dihadapkan persoalan rawan bencana. Sebab, antara pulau Lombok dan Sumbawa yang menjadi daerah teritorial Provinsi NTB dihadapkan pada kondisi cuaca berbalik. Pulau Lombok sudah mulai disentuh musim penghujan yang menyebabkan daerah itu rawan terjadi bencana banjir. Sementara pulau Sumbawa masih bercengkerama dengan musim kemarau yang berdampak pada kekeringan di sejumlah kawasan.

“Kita di NTB sedang menghadapi dua kondisi cuaca berbeda. Di pulau Lombok sudah hujan, sementara di pulau Sumbawa masih kita droping air bersih untuk masyarakat yang terdampak kekeringan. Jadi ada dua yang sedang kita hadapi antara hujan dan panas,” ujar Kepala BPBD Provinsi NTB, H Sahdan kepada Radar Lombok.

Berdasarkan informasi yang diterima dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Indonesia akan dilanda fenomena La Nina pada 2021-2022. Fenomena alam yang menyebabkan udara terasa lebih dingin atau penyebab curah hujan yang lebih tinggi di suatu wilayah. Sehinga menjadi salah satu pemicu bencana hidrometeorologi  berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor maupun angin kencang atau puting beliung. “Masing-masing daerah beda masa puncak (La Nina). Khusus di NTB akan terjadi puncaknya pada Januari-Februari 2022,” terang Sahdan.

Dalam persiapan menghadapi kondisi cuaca di NTB, BPBD terus melakukan koodinasi dengan BPBD kabupaten/kota se NTB. Bahkan belum lama ini pihaknya telah melakukan rapat dengan BPBD kabupaten/kota untuk mengecek kesiapsiagaan menghadapi bencana di daerah masing-masing. Masing-masing BPBD kabupaten/kota memaparkan kesiapan mereka sekiranya menghadapi bencana. Mulai soal kesiapan logistik, personel dan lain sebagainya.

“Alhamdulillah dari persiapan yang kita lakukan bersama teman-teman BPBD kabupaten/kota sudah sangat memadai. Bahkan di beberapa kabupaten sudah melakukan apel siap siaga menghadapi bencana. Kami juga nanti akan melakukan apel siap siaga menghadapi bencana. Tinggal menunggu jadwalnya, katanya.

Selain itu, kata Sahdan, pihaknya juga telah membuat sebuah aplikasi siaga NTB yang merupakan sebuat aplikasi yang dapat diakses masyarakat ketika ingin melaporkan kejadian bencana di wilayah masing-masing. Di samping memanfaatkan media sosial yang ada, ketika terjadi bencana tidak ada yang terlewatkan untuk tidak ditangani pihaknya. “Jadi kesiapan-kesiapan ini yang sudah kita lakukan,” katanya.
Lebih-lebih wilayah pulau Lombok sudah ada terjadi bencana banjir di wilayah Lombok Tengah. Karena respons cepat dari masyarakat dalam melaporkan, pihaknya bersama gubernur langsung turun ke lokasi dalam menagani apa yang dibutuhkan masyarakat. “Saat terjadi bencana di salah satu desa di Lombok Tengah kemarin (Kamis, red) kita langsung turun ke lapangan melihat langsung kondisi seraya memberikan bantuan kepada masyarakat,” tuturnya.

Mengenai program yang sudah disiapkan dalam menghadapi bencana hidrometeorologi di wilayah NTB, Sahdan mengaku, kondisi seperti ini setiap tahun rutin terjadi pada saat musim hujan tiba. Baik bencana angin puting beliung, tanah longsor maupun banjir. Maka banyak program yang sudah dilakukan, mulai dari program metigasi bencana. “Jadi ketika kita berbicara bencana. Ada pra bencana, bencanan terjadi. Kemudian pasca bencana. Maka kami konsentrasikan sebetulnya 70 persen di pra bencana. Sehingga ini yang perlu kita perkuat bagaimana program dalam mengedukasi masyarakat,” jelasnya.

BACA JUGA :  Dioperasi 9 Jam, Inaya dan Anaya Berhasil Dipisahkan

Kemudian adapun program lain yang sedang dikembangkan, yakni program desa tanggung bencana (Destana) yang sudah terbentuk di semua wilayah NTB. Terget pembentukan Destana sampai 2023 mendatang hingga 434 desa dari total desa yang ada di NTB. “Dan ini akan kita perluas jangkuannya sehingga nanti semua desa di NTB menjadi desa tangguh bencana yang siap menghadapi dalam situasi apapun ketika terjadi bencana,” sambungnya.

Namun apapun program yang dilakukan ketika tidak didukung anggaran yang besar, kata Sahdan tentu menjadi masalah. Tahun ini BPBD hanya didukung anggaran untuk tangani bencana hidrometeorologi, mulai dari bencana kekeringan dianggarkan sekitar Rp 250 juta. Lalu untuk menghadapi bencana banjir, banjir bandang, tanah longsor maupun angin puting beliung dianggarkan sekitar Rp 500 juta. “Karena ketika kita berbicara anggaran dari APBD sangat kecil. Khusus untuk logistik ini mungkin sekitar Rp 500 jutaan. Kalau untuk kekeringan kemarin kita siapkan Rp 250 juta,” paparnya.
Dengan anggaran tersebut, Sahdan merasa sangat kurang jika dilihat dari jenis bencana yang terjadi di NTB. Lebih-lebih anggaran dalam menangani masalah bencana alam masih banyak dipangkas untuk menangani masalah bencana non alam Covid-19 yang saat ini masih terjadi. “Oleh karena itu, dengan anggaran yang sangat minim itu kami berusaha semaksimal mungkin melakukan pelayanan masyarakat terdampak. Termasuk kami menjalani kerjasama dengan NGO yang ada di NTB ini,” katanya.

Meski begitu, pemprov telah menganggarkan untuk dana biaya tidak terduga (BTT) yang bersumbar dari APBD yang dapat dipergunakan dalam menanangani masalah bencana. Karena masalah bencana ini tidak ada yang dapat memprediksikan benar-benar terjadi. “Tapi mudahan-mudahan dana itu masih tersedia di BPKAD untuk kita dapat gunakan,” harapnya.
Selanjutnya, kesiapan dari sisi sarana dan prasana dalam menangani bencana banjir, banjir bandang, tanah longsor maupun puting beliung, sudah disiapkan. Baik mengenai peralatan yang dibutuhkan ketika terjadi bencana. Di antaranya, perahu karet, pompa serba guna, pompa air, tenda pengungsi, dampur umum lapangan, ambulans, mobil, kendaraan truk yang dapat digunakan untuk mobiliasi bantuan dan lain sebagai. “Karena kami sesungguhnya provinsi ini hanya mem-backup kabupaten kota.

Maka kenapa kita mengaja mereka untuk rapat supaya kita tahu kesiapan masing-masing daerah. Agar daerah juga tidak asal-asalan dalam memprogramkan mengenai bencana ini,” ujarnya.  Untuk ke depan dari sisi kesiapan saran dan perasarana, kata Sahdan, pihaknya saat ini sedang mendata sehingga apa yang menjadi kekurangan agar lebih mengetahui sebarapa kebutuhan dalam aspek sarana dan parasana yang nanti tentu dilaporkan ke BNPB. “Supaya nanti BNPB bisa mensuport kekurangan kita itu,” sambungnya.

BACA JUGA :  Penambangan Emas PT STM Butuh Perda RTRW

Sahdan menyebutkan, jika dilihat dari beberapa tahun terakhir ini, 10 wilayah kabupaten kota di NTB yang masih langganan terjadi bencana. Untuk banjir dan tanah longsor masih terjadi diwilayah Lombok Barat di kecamatan Sekotong, Pelangan, Lombok Utara diwilayah pusuk, terjadi tanah longsor, Tanjung  Kemudian terjadi juga diwilayah Lombok Selatan, baik di Kute, Silong Belanak. Lombok Terjadi bancar di Labua Lombok, Sambelia, Obel-Obel. “Di pulau Lombok ini bencana banjir, tanah longsor masih rawan terjadi. Tapi kalau untuk puting beliung tidak bisa kita pastikan lokasinya karena sifatnya sangat dinamis,” sebutnya.

Sedangkan di pulau Sumbawa, sebut Sahdan dimualai dari Sumbawa Barat, di kecamatan Taliwang masih jadi langganan banjir karena kondisi wilayahnya yang berbentuk manggok. Ketika hujan sedikit saja maka potensi banjir akan terjadi. “Tapi sekarang ini punya harapan di Taliwang ini berkurang banjirnya. Karena sudah ada dua  Bendungan, mudah-mudahan dengan dua bendungan ini Taliwang aman dari banjir,” katanya.

Selanjutnya, kabupaten Sumbawa, benjir terjadi di kecamatan Alas, Brang Biji Sumbawa besar, Terano dan kecmatan Empang juga masih sering bencana banjir. Kemudian wilayah kabupaten Dompu masih terjadi langanan banjir di kecamatan Woja, termasuk diwilayah udara Dompu. Kabupaten Bima juga masih menjadi langanan banjir. Bahkan pada Maret-April 2021 juga diterjang banjir bandang yang cukup berdampak terhadap masyarakat. “Dan yang paling kita tidak bisa lupakan adalah kota Bima. Salah satu kota yang dihantam banjir secara terus menurus setiap tahun. Karena informasi dari kepala BPBD kota Bima baru-baru ini ketika hujan kecil-kecil saja beberapa perumahan terendam banjir. Disebabkan memang karena kondisi lingkungan yang sangat rusak,” sambungnya.

Kemudian untuk bencana longsor terjadi di wilayah didaerah Naga Tompu di kabupaten Dompu, Tambora, didaerah pengunungan Bima dan Dompu. Sementara didaerah Sumbawa terjadi diwilayah selatan disekitaran wilayah Lunyuk yang merupakan daerah perbukitan dan beberapa sekitar lainnya. Begitu juga di Sumbawa Barat.

Sedangkan untuk bencana Abrasi pantai, terjadi diwilayah tiga gili di Lombok Utara, kemudian wilayah Lombok Utara di Sekotong, Sengigi. Lalu Abrasi juga terjadi diwilayah Mataram di sekitar pantai Ampenan. Lombok Utara didaearah tiga Gili dan beberapa pingiran pantai, begitu juga di Lombok Tengah terjadi diwilayah selatan dan Lombok Timur terjadi abrasi dipingkir pantai Labua Haji Sambelia. Hal yang sama diwilayah pulau Sumbawa yang berapa dipingkir pantai rawan terjadi abrasi. “Jadi masalah bencana ini berpotensi terjadi di 10 kabupaten kota di NTB. Tapi yang paling rentan terjadi di lima kabupaten kota. Yakni Kota Bima, Kabupaten Bima, Dompu, Sumbawa dan Lombok Timur,” bebernya. (sal)