Waspada Penyakit Hepatitis Akut pada Anak

dr. H Lalu Hamzi Fikri (FAISAL HARIS/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Dinas Kesehatan (Dikes) Provinsi NTB terus melakukan upaya antisipasi dengan adanya penyakit Hepatitis Akut pada Anak. Pasca ditemukan kasus di Indonesia, meski sejauh ini belum ditemukan kasus di NTB.

Kepala Dikes Provinsi NTB, dr. HL. Hamzi Fikri menyampaikan, salah satu upaya yang dilakukan pihaknya dalam antisipasi penyakitHepatitis Akut pada Anak di NTB telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) yang ditujukan ke semua Kepala Dinas Kesehatan di kabupaten kota untuk mewaspadai terhadap penemuan kasus penyakit Hepatitis Akut pada Anak. “kita atensi dan pantau terus,”katanya saat dikonfirmasi Radar Lombok pada Senin (9/5).

Dalam SE yang dikeluarkan tersebut, sambung Fikri sapaan akrab mantan direktur RSUD Provinsi NTB tindaklanjuti dari SE Nomor : HK.02.02/C/2515/2022 yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan tentang Kewaspadaan Terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Akute Hepatitis Of Unknown Aetiologi). Dimana Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menerima laporan pada 5 Aprill 2022 dari Inggis Raya mengenai 10 kasus Hepatis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute hepatitis of unknown aetiology ) pada anak-anak usia 11 bulan-5 tahun pada periode Januari hingga Maret 2022 di Skotiandia Tengah.

Sejak itu secara resmi dipublikasikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh WHO pada tanggal 15 April 2022, jumlah laporan terus bertambah. Per 21 April 2022, tercatat 169 kasus yang dilaporkan di 12 negara yaitu inggris sebanyak 114 kasus, Spanyol 13 kasus. Israel 12 kasus. Amerika Serikat 9 kasus.

BACA JUGA :  Gubernur Sesali Kebijakan Sekda Gita yang Wajibkan ASN Beli Tiket MotoGP

Kemudian, di Denmark sebanyak 6 kasus, Irlandia sebanyak <5 kasus, Belanda 4 kasus, Italia 4 kasus, Norwegia 2 kasus, Perancis 2 kasus, Romania 1 kasus dan Belgia ditemukan satu kasus.

Kasus tersebut terjadi pada anak-anak dari dikisaran usia 1 bulan sampai dengan 16 tahun. Tujuh belas anak di antaranya 10 persen memerlukan transplantasi hati, dan 1 kasus dilaporkan meninggal. Gejala klinis pada kasus yang teridentifikasi adalah hepattis akut dengan peningkatan enzim hati, sindrom jaundice akut, dan gejala gastrointestinal (nyeri abdomen, diare dan muntah-muntah). Sebagian besar kasus tidak ditemukan adanya gejala demam. “Penyebab dari penyakit tersebut masih belum diketahui,” kata Fikri mengutif SE yang dikeluarkan Kemenkes.

Meski pemeriksaan laboratorium telah dilakukan dan virus hepatitis tipe A,B. C. D dan E tidak ditemukan sebagai penyebab dari penyakit ersebut. Adenovirus terdeteksi pada 74 kasus yang setelah dilakukan tes molekuler, teridentifikasi sebagai F type 41. SARS-CoV-2 ditemukan pada 20 kasus, sedangkan 19 kasus terdeteksi adanya koinfeksi SARS-CoV-2 dan adenovirus.

Dengan adanya SE tersebut, lanjut Fikiri, dimaksu dimaksudkan untuk meningkatkan dukungan Pemerintah Daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, Kantor Kesehatan Pelabuhan, sumber daya manusia (SDM) Kesehatan, dan para pemangku kepentingan terkait kewaspadaan dini penemuan kasus Hepatitis Akut yang tidak Diketahui Etiologinya. “Untuk itu kita tetap mengacu pada SE yang dikeluarkan Kemenkes sebagai penekanan terhadap kabupaten kota dalam upaya antisipasi, walaupun sampai saat ini belum ada laporan (kasus) di NTB, tapi tetap waspada,” ucapnya.

BACA JUGA :  Pemprov Usulkan Rp 700 Miliar Bangun Fasilitas Pendukung Mandalika

Fikri juga sampaikan, gejala hepatitis akut berat yang belum diketahui penyebabnya. Diantaranya, mual, muntah, diare berat, demam ringan. Kemudian gejala lanjutannya, air kencing berwarna paket seperti teh dan BAB berwarna putih pucat, Warna mata dan kulit menguning, Gangguan pembekuan darah, Kejang dan Kesadaran menurun. Lalu cara untuk mencegah anak dari hepatitis akut yakni rutin cuci tangan dengan sabun, pastikan makanan dalam keadaan matang dan bersih, tidak bergantian alat makan dengan orang lain, hindari kontak dengan orang lain serta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan. Kemudian, kurangi mobilitas, gunakan masker jika berpergian, jaga jarak dengan orang lain dan hindari keramian atau kerumunan. “Terapkan pola  Hidup Bersih dan Sehat , sederhana nya 5 M, mencuci tangan dgn sabun dan air mengalir, menjaga jarak, memakai masker, menjaga jarak dengan terutama dengan ornag  yang sakit, mengurangi  mobilitas,” jelasnya.

Fikri juga mengakatan bahwa tidak ada kaitan antara Vaksinasi COVID-19 dengan Penyakit Hepatitis Akut pada Anak. Bahkan hal ini sudah dibantah Kementerian Kesehatan jika tidak adanya kaitan antara vaksinasi COVID-19 dengan penyakit Hepatitis Akut yang belum diketahui penyebabnya pada Anak. (sal)