Waspada Banjir dan Longsor! Sepekan ke Depan NTB Masih Dilanda Cuaca Ekstrem

BERSIHKAN: Kementerian PUPR bersama BPBD KLU, Damkar KLU, TNI Polri membersihkan longsoran di Jalan Nasional, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, KLU, Rabu (24/2/2021). (IST/RADAR LOMBOK)

MATARAM–Sepekan ke depan sebagian besar wilayah NTB diprediksi masih dilanda cuaca ekstrem; diguyur hujan lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang. Masyarakat diminta tetap waspada dengan banjir dan tanah longsor.

Kondisi tersebut, dikatakan, Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Lombok Barat, Budi Setyawan berdasarkan apa yang disampaikan BMKG Pusat dalam press release pada 23 Februari kemarin. Bahwa kondisi cuaca wilayah Indonesia dari 23 Februari sampai 28 Februari 2021. Termasuk wilayah NTB diperkirakan terjadi cuaca ekstrem. “Untuk periode sepekan ke depan dari tanggal 23 Februari samapi 28 Februari 2021, BMKG memprakirakan potensi cuaca ekstrem dan curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Termasuk dibeberapa wilayah di NTB,” katanya.

Karena sebagian besar wilayah Indonesia (96 persen dari 342 zona musim) saat ini telah memasuki musim hujan. Sebagaimana telah disampaikan juga oleh BMKG pada Agustus dan Oktober 2020 lalu, puncak musim hujan terjadi pada Januari-Februari 2021 di sebagian Sumatra bagian selatan, sebagian besar Jawa termasuk DKI Jakarta, sebagian Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat, dan bagian selatan Papua.

Sementara berdasarkan prakiraan cuaca berbasis dampak (IBF) untuk dampak banjir/banjir bandang, selama 2 hari ke depan (tanggal 23-24 Februari 2021) potensi dampak dengan status SIAGA adalah Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. “Wilayah lebih detail dapat diperiksa di laman web signature.bmkg.go.id,” ujarnya.

Berdasarkan analisis terintegrasi dari data BMKG, PUPR dan BIG, perlu diwaspadai daerah yang diprediksi berpotensi banjir kategori menengah pada Dasarian III (sepuluh hari ke-3) Februari 2021 yaitu sebagian kecil Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah bagian utara, sebagian kecil Jawa Timur, sebagian kecil Nusa Tenggara Barat, sebagian kecil Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, dan sebagian Papua.

Disamping itu, ia juga menyebutkan, untuk potensi pertumbuhan Awan Cumulonimbus (Cb) di wilayah udara Indonesia dengan persentase cakupan spasial maksimum antara 50-75 persen (OCNL / Occasional) untuk periode tanggal 23-28 Februari 2021 berpotensi di beberapa wilayah seperti di  sebagian Sumatra Utara, sebagian Jambi, sebagian Sumatra Selatan, sebagian Sumatra Barat, sebagian Bengkulu, sebagian Lampung, sebagian Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, Kalimantan Utara, sebagian Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, sebagian Sulawesi Tengah, Bali, NTB, NTT, Maluku Utara, Maluku, sebagian Papua Barat, Papua, Pesisir barat Pulau Sumatera.

Selanjutnya, di Selat Sunda, Pesisir Utara Pulau Jawa, Laut Jawa, Laut Bali, Pesisir Selatan Kalimantan Selatan, Selat Makassar, Laut Flores, Laut Banda, Pesisir Selatan Pulau Jawa, Samudera Hindia Selatan Pulau Jawa dan Nusa Tenggara, Teluk Cenderawasih, Sebagian Laut Arafuru.

Sedangkan Potensi Pertumbuhan Awan Cumulonimbus (Cb) persentase cakupan spasial >75% (FRQ / Frequent) diprediksi terjadi di Samudra Hindia Selatan Pulau Jawa dan Nusa Tenggara.

Disampaikan juga, untuk Prakiraan tinggi gelombang sepekan ke depan dari tanggal 24 Februari sampai 01 Maret 2021, dengan ketinggian 1.25-2.5 M (kategori sedang) berpeluang terjadi di Selat Malaka, Perairan utara Sabang, Perairan barat Aceh, Perairan Kep.Simeulue hingga Kep.Nias, Perairan timur Kep.Mentawai – Padang, Laut Natuna Utara, Perairan utara Kep.Anambas – Kep.Natuna, Laut Natuna, Perairan timur Kep.Bintan – Lingga, Perairan Riau, Perairan utara Bangka Belitung, Selat Gelasa, Selat Karimata, Perairan selatan Kalimantan, Perairan utara Jawa Barat, Laut Jawa bag.barat, Laut Bali, Laut Sumbawa, Selat Lombok – Selat Alas bag.utara, Selat Sape, Selat Sumba, Laut Sawu, Selat Ombai, Perairan Kupang – P.Rote, Laut Flores, Selat Makasar bag.utara dan selatan, Perairan Kep.Selayar, Teluk Bone bag.selatan, Perairan selatan Baubau – Kep.Wakatobi, Laut Banda, Perairan selatan P. Buru – P. Seram, Perairan Kep.Sermata – Kep.Tanimbar, Perairan Kep.Kei – Kep.Aru, Laut Arafuru bag.barat, Perairan P. Yos Sudarso, Laut Sulawesi, Perairan utara Sulawesi, Perairan Kep.Sangihe – Kep.Talaud, Laut Maluku, Perairan utara Kep.Sula, Perairan Kep.Halmahera, Laut Halmahera, Laut Seram, Perairan Fakfak – Kaimana, Perairan utara Papua Barat – Papua, Samudra Pasifik Utara Halmahera hingga Papua.

Kemudian, untuk gelombang dengan ketinggian 2.5-4.0 meter (kategori tinggi) berpeluang terjadi di Perairan barat Kep.Mentawai, Perairan Enggano – Bengkulu, Perairan barat Lampung, Samudra Hindia barat Aceh hingga Bengkulu, Selat Sunda bag.barat dan selatan, Perairan selatan Jawa hingga P.Sumba, Selat Bali – Selat Lombok – Selat Alas bag.selatan, Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara, Laut Jawa bag.tengah dan timur, Perairan utara Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Laut Arafuru bag.tengah dan timur.

Sedangkan gelombang dengan ketinggian 4.0-6.0 meter (kategori sangat tinggi) juga berpeluang terjadi di Samudra Hindia barat Lampung, Samudra Hindia selatan Jawa hingga Bali. “Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem seperti puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, hujan es, dan lain-lain. Dan dampak yang dapat ditimbulkannya seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin,”imbaunya. (sal)