Wasiat Maulana Harus Dijaga

Wasiat Maulana Harus Dijaga
MEDIASI: Bangkesbangpoldagri Provinsi NTB mempertemukan NW Pancor dan NW Anjani sebagai upaya mencapai islah, Rabu (2/10).( AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

Seruan NW Bersatu Kembali Didengungkan

MATARAM – Polemik organisasi Nahdlatul Wathan (NW) belum usai. Namun semangat untuk islah terus dijaga. Upaya rekonsiliasi atau mediasi untuk NW bersatu terus dilakukan oleh Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi NTB. 

Rabu (2/10), Forkopimda kembali mengundang para petinggi NW Pancor maupun NW Anjani. Tokoh agama dan tokoh masyarakat juga turut hadir untuk memberikan semangat islah tersebut. 

Kepala Bangkesbangpoldagri Provinsi NTB, H Lalu Syafi’i dalam kesempatan tersebut mengingatkan, bahwa organisasi NW memiliki jargon kompak, utuh, bersatu. Jamaah NW, dari kedua belah pihak menurutnya memegang teguh hal tersebut. “Kita optimis NW bisa bersatu. Kita ingin buat sejarah, pelaku sejarah. Nantinya akan selalu dikenang siapa pengurus yang berkontribusi menyatukan NW,” ujarnya di hadapan seluruh yang hadir. 

Terdapat beberapa solusi yang telah dirumuskan Forkopimda untuk persatuan NW. Nantinya, usulan solusi tersebut bisa disepakati mana yang akan diambil. Seluruh Forkopimda akan menandatangani kesepakatan solusi, mulai dari Gubernur, Ketua DPRD, Kapolda, Danrem, Kejati dan lain-lain. 

Solusi pertama, yaitu NW Pancor dan NW Anjani menjadi satu. Ada yang menduduki posisi Dewan Muhtasyar dan Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW). Kedua, pemerintah juga akan tetap mengakui keberadaan keduanya kalau tidak bisa bersatu. Ketiga, islah dengan menggunakan sistem presedium. Paling lambat 6 bulan kepengurusan baru didaftarkan ke pemerintah. ‘’Dan ingat, islah tanpa syarat,” tegas Syafi’i.

Ketua I PBNW Pancor, H Rosiady Sayuti hadir langsung dalam pertemuan tersebut. Mantan Sekda Provinsi NTB ini juga meyakini NW akan bersatu. Tinggal menunggu waktu saja, bisa cepat dan bisa juga lambat. 

Menurut Rosiady, penyakit yang sudah lama ada tentu tidak bisa sembuh dalam waktu singkat. Perpisahan NW sudah cukup lama, butuh persatuan adalah sunnatullah. “Mungkin sepekan, atau sebulan bisa bersatu. Intinya kita jangan putus asa. Kalau tidak bisa dalam waktu dekat bersatu, karena teorinya memang begitu. Tapi pasti akan sembuh (bersatu),” ucapnya. 

Bagi pria yang menjadi dosen Universitas Mataram ini, masalah utama NW adalah dualisme kepengurusan. Namun NW sendiri tetaplah satu. “Kepengurusan inilah yang selama ini kita saling intip, saling kejar untuk dapatkan pengakuan negara,” kata Rosiady. 

Rosiady melihat dari sisi positif juga adanya perpecahan di tubuh NW. Saat ini NW sudah berkembang di mana-mana. Jumlah madrasah semakin besar. “Kita ditakdirkan Allah mungkin untuk menjalani semua itu. Nantinya kita akan semakin dekat. Ujungnya pasti integrasi. Saya optimis dan husnudzon. Apakah nanti pastabikul khairat dipertahankan, apakah bentuk presedium. Itu nantinya diputuskan,” ujar Rosiady. 

Banyak tokoh dari kedua belah pihak yang hadir dalam pertemuan tersebut. Termasuk Fihiruddin yang merupakan perwakilan dari kelompok muda NW. Namun Fihiruddin masih protes atas sikap NW Pancor yang menggaungkan islah, namun mendaftarkan Peninjaun Kembali (PK) di pengadilan. Dalam kesempatan tersebut juga, Fihir menilai pertemuan-pertemuan yang difasilitasi Forkopimda belum menyentuh pada ranah substansi dan solusi untuk menyatukan NW. “Kita semua ini penyakap jamaah di NW. Jangan kita noak. Siapa yang merasa jadi senior, juga bujuk keluarga inti bertemu. Forkopimda fasilitasi pertemuan umi Raihanun, Umi Rauhun, TGB Tsani, TGB Majdi. Jangan pertemuan-pertemuan gini terus, habis-habisin nasi aja,” cetusnya. 

Fihir menantang Bangkesbangpoldagri atau Forkopimda untuk mempertemukan keturunan Almagfirullah TGKH M Zainuddin Abdul Madjid. “Kalau zurriyat sudah bertemu, selesai masalah. Biar mereka yang putuskan solusi untuk bersatu. Kita cukup dari jauh saja,” katanya. 

Kepala Bangkesbangpoldagri Provinsi NTB, HL Syafi’i yang dimintai tanggapannya atas tantangan dari pihak NW Anjani, memastikan langkah tersebut akan dilakukan. Namun tentu saja diawali juga dengan pengurus yang lain. Apabila pengurus di bawah sudah setuju islah, kemudian di atas juga sepakat, maka persatuan akan terwujud. 

Ahli Sejarah, Dr Jamaluddin hadir juga memberikan pandangannya. Menurutnya, NW harus segera bersatu. Pasalnya, ini menyangkut wasiat Almagfirullah. “Janganlah kita menjadi orang-orang yang mengacaukan sejarah. Almagfirullah sudah punya wasiat, NW akan berpisah selama 20 tahun. Sekarang sudah 20 tahun. Kalau wasiat ini tidak dilakukan, maka wasiat sudah tidak dianggap lagi. Wasiat mati. Ini yang harus kita jaga,” terangnya. 

Saran Jamaluddin, pihak keluarga harus segera bertemu. Wasiat Almagfirullah jangan sampai tidak terjadi. “Bertemu saja umi dan anak-anaknya. Siapa yang mau mereka buat jadi PBNW, selesai urusan. Urusan ini tidak ribet, tapi butuh pertemuan untuk melunakkan. Hati-hati yang hatinya tidak lunak. Zaman Rasulullah, itulah yang jadi munafik,” sindirnya. 

Beberapa perwakilan dari Kejati, Korem dan lain-lain juga memberikan masukan dan saran untuk NW bersatu. Semuanya sepakat mendorong persatuan NW harus segera dilakukan. (zwr)