Warga Suela Tewas Terseret Air Bah

EVAKUASI: Petugas kepolisian bersama warga saat melakukan evakuasi jenazah Arif, pria paruh baya yang tewas setelah terseret arus sungai, Sabtu lalu (18/3). (GAZALIE/RADAR LOMBOK)

SELONG—Nasib naas menimpa salah satu warga RT 04 Gubuk Lauk, Kekadusan Otak Desa, Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Lotim, bernama Arif, 75 tahun. Kakek yang masih berstatus lajang ini tewas terseret air bah yang tiba-tiba datang di Kali Pancor dekat rumahnya pada Sabtu lalu (18/3) sekitar pukul 16.00 Wita. Kakek yang memiliki masalah dengan pendengarannya ini tidak menyadari ketika sedang buang air di kali tersebut, dan air bah datang secara tiba-tiba.

Hari itu, lantaran cuaca cukup cerah dan tidak terjadi hujan, korban dan beberapa warga lain berani turun ke kali. Namun mereka tidak sadar, rupanya hujan lebat terjadi di bagian hulu, sehingga secara tidak terduga tiba-tiba saja aliran air yang cukup deras datang menerjang.

[postingan number=5 tag=”tewas”]

“Lantaran pendengarannya kurang baik, begitu air bah datang, dia tidak mendengar apa-apa, dan akhirnya hanyut terseret air hingga tiga sampai empat kilometer dari lokasi kejadian,” kata salah satu anggota keluarganya, H Sihin.

Dikatakan, korban diketahui terseret banjir oleh salah satu cucunya bernama Aji, yang juga sedang berada di kali, meski agak berjauhan. Teriakan minta tolong dari Aji rupanya membuat geger warga setempat, yang kemudian berusaha mengejar dan menolong korban. “Kita mengejar dengan menggunakan sepeda motor dan menghadangnya di Pringgabaya,” jelasnya.

Puluhan warga dan keluarganya beramai-ramai menuju di daerah Pringgabaya yang merupakan terusan kali tempat korban terseret. Rupanya mereka lebih dulu sampai di terusan kali di wilayah Bara Runtak, Desa Pringgabaya, sekitar 3 km dari TKP sebelah timur perusahaan penambangan galian C yang ada di Bararuntak Pringgabaya. Warga pun kemudian berhasil menolong korban yang terseret air banjir cukup besar tersebut. Sayangnya, nyawa korban tak bisa terselamatkan.

Mayat korban berhasil ditolong warga dengan posisi sebelah utara kali. Sementara guna membawa jasad korban pulang ke Ketangga, warga tidak bisa menyeberangi kali dengan air banjir cukup besar, sehingga terpaksa korban diseberangkan dengan menggunakan bantuan alat berat milik salah satu perusahaan penambang yang ada di sekitar lokasi.

“Sebenarnya di rumahnya lengkap jeding (kamar mandi) dan WC. Akan tetapi dia (korban) tidak mau buang air di WC, sehingga selalu turun ke kali untuk buang air,” imbuhnya.

Meski sering diingatkan keluarganya untuk tidak perlu ke kali guna mandi ataupun buang air. Namun korban tetap tidak pernah mau buang air di WC, melainkan selalu turun ke kali. Keluarganya selalu menghawatirkan keselamatannya saat turun atau berada di kali, mengingat dia mengalami ganggauan pendengaran, namun selalu mengabaikan ketika diingatkan.

Ketika berhasil di evakuasi warga, korban sudah tak bernyawa dengan luka lecet pada bagian kepala yang diperkirakan akibat benturan dengan bebatuan. Mengingat batu di kali tersebut besar-besar, sehingga diperkirakan akibat benturan tersebut kemudian korban meninggal.

Menurut sumber lainnya, korban sempat berusaha meminta tolong pada warga yang sempat melihatnya hanyut. Namun lantaran air banjir besar, apalagi aliran air juga bercampur material lain seperti kayu, membuat korban sangat sulit menyelamatkan diri dengan cara menepi ke pinggiran sungai, dan akhirnya tewas tenggelam.

Sementara Kapolres Lotim melalui Kasubag HUmas Polres Lotim, Iptu I Made Tista, ketika dikonfirmasi juga membenarkan kejadian tersebut. “Dua menit kemudian (setelah korban turun ke kali), aliran air besar tiba-tiba datang,” jelasnya.

Selanjutnya warga pun beramai-ramai berusaha mencari dan menolong korban. Sepanjang sungai disisir warga untuk mencari korban, dan akhirnya jenazahnya ditemukan di pinggiran kali. “Mayat korban ditemukan di samping kali Dusun Otak Desa, Pringgabaya,” terang Tista.

Kejadian ini pun kemudian dilaporkan ke Polsek setempat. Bersama warga, petugas langsung mengevakuasi jenazah korban yang ada di sungai itu, dan kemudian langsung dibawa kerumahnya. “Petugas dari Puskesmas kemudian datang ke untuk melakukan pemeriksaan,” sebutnya.

Dari hasil visum, di tubuh korban ditemukan luka memar akibat benturan benda keras. Setelah petugas melakukan koordinasi dengan pihak keluarga korban, untuk meminta pendapat apakah jenazah korban akan di otopsi atau tidak. Setelah mempertimbangkan, pihak keluarga korban menolak untuk dilakukan otopsi. “Pihak keluarga memutuskan untuk langsung memakamkan,” pungkasnya. (lal/lie)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid