Warga Sembalun Gelar Ritual Adat Ngayu-ayu

SELONG–Warga Sembalun Lombok Timur kembali menggelar ritual adat Ngayu-ayu Kamis kemarin (14/7).

Ritual adat ini digelar tiga tahun sekali. Ritual adat ini sebagai peringatan atas seluruh rangkaian kejadian masa lalu. Ritual ini berupa  pengambilan air suci dari sejumlah mata air. Bagi warga setempat,  Ngayu-Ayu merupakan ritual peninggalan leluhur masyarakat Sembalun yang mencerminkan rasa syukur masyarakat terhadap anugrah Yang Maha Kuasa atas kelestarian alam dan air sebagai sumber kehidupan manusia dan hewani.

Ritual ini digelar di berugak desa di Sembalun Bumbung. Ritualnya memberangkatkan air hanya dari berugak desa menuju berugak Reban Bande.

Ritual adat ini menarik perhatian wisatawan yang sedang berkunjung ke Sembalun.  Tidak seperti sebelum-sebelumnya,   pelaksanaan ritual adat Ngayu-Ayu  tahun ini dilaksanakan dua kali, yaitu Kamis (14/7) kemarin dan Kamis mendatang (21/7). Hal ini terjadi akibat terjadi selisih paham antara para tokoh masyarakat Sembalun.        “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin mencari benang merah yang menjadi sebab permasalahan ini, akan tetapi sampai dengan saat ini tidak berhasil,” kata Ketua Panitia Ritual Adat Ngayu-ayu persi 14 Juli H Kartib.

Perbedaan pendapat dikatakan telah diupayakan untuk tidak terjadi, akan tetapi meski berbagai upaya dan cara telah dilakukan namun tidak berhasil.   “Kami sudah beberapa kali melakukan pendekatan kepada pihak mereka bahkan Kades sebagai mediator. Dan kalau memang kami bersalah, kami meminta maaf demi mencari akar permasalahannya,” ungkapnya.

Namun demikian hal tersebut tidak juga berhasil sehingga dengan terpaksa pelaksanaan ritual adat masyarakat ini dengan terpaksa dilaksanakan sendiri-sendiri. Karena tidak juga ditanggapi sehingga mau tidak mau dikatakan pelaksanaan ritual dilaksanakan secara sederhana, namun tidak mengurangi rukun yang ada. “Kami tidak berani meninggalkan situs yang sudah menjadi peninggalan leluhur dan tidak mau membuat yang baru. Ritualnya memberangkatkan air hanya dari berugak desa menuju berugak Reban Bande dan tidak ada yang lainnya dan kalau ada yang lain berarti itu adalah rekayasa dan kami tidak mau ada rekayasa,” kata mantan anggota DPRD Lotim ini.

Akibat perbedaan pendapat tersebut mengakibatkan masyarakat Sembalun terkotak-kotak. “Apa artinya Ngayu-Nyu kalau masyarakat pecah, sebagai pengulu desa harusnya memegang peran penting dalam hal ini,” katanya.

Dikatakan sebagai  catatan bahwa pelaksanaan ritual adat ini dilaksanakan murni dari upaya masyarakat Sembalun sendiri melalui  musyawarah dan mufakat seluruh tokoh  dan lapisan masyarakat dan tidak mau mengharapkan bantuan dari pemerintah.

Sementara itu Ketua Pelaksanakaan Ngayu-ayu versi Kamis (21/7) melalui Sekretarisnya Mahli sangat menyayangkan pelaksanaan ritual adat Ngayu-ayu tidak dilaksanakan  harus dua kali. Namun dia mengatakan bahwa proses Ngayu-ayu dimulai dengan pengambilan air dari 13 mata air (bukan 12 seperti versinya H Kartib). “Ngayu-ayu itu bukan hanya satu titik namun semua titik yang seharunya sebelum ke Berugak Reban Bande,” katanya.

Dikatakan pada proses pelaksanaan ritual ini nantinya akan melibatkan  semua unsur masyarakat Sembalun bahkan nasional hingga internasional. “Kita mengundang semua raja-raja nusantara  sekitar 25 perwakilan dan satu orang dari kesultanan Filipina Selatan dan sudah mendapatkan konfirmasi,” terangnya. Demikian juga dari Singapura dan Malaysia dan Tahiland. (lal)