Warga Pejanggik Gelar Perang Timbung

Warga Pejanggik Gelar Perang Timbung
PERSIAPAN: Salehudin bersama warga Desa Pejanggik lainnya bersiap-siap akan membuat timbung untuk dijadikan amunisi. (SAPARUDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYA-Perayaan ‘perang timbung’ (perang menggunakan jajan lemang) tahunan warga Desa Pejanggik Kecamatan Praya Tengah, akan digelar Jumat (25/8) hari ini.

Perayaan ini digelar warga Pejanggik setiap tahunnya pada hari Jumat bulan 4 kalender Sasak atau biasanya Jumat terakhir bulan Agustus. Seperti biasanya, perayaan ini akan dipusatkan di Makam Serewa Desa Pejanggik. Makam yang merupakan sesepuh dan leluhur Kerajaan Pejanggik. “Kalau sudah ada kembang dangah di dekat makam Serewa berwarna merah muncul, maka itu sebagai pertanda budaya perang timbung sudah dating. Makanya dipilih hari Jumat pada bulan 4 kalender Sasak,” tutur salah seorang warga Dusun Serewa Desa Pejanggik, Salehudin, Kamis kemarin (24/08).

Sedangkan makna tumbuhnya kembang dangah itu pertanda dalam jarak minimal 1 bulan, curah hujan mulai turun. Dan, petani diminta bersiap-siap untuk membersihkan sawah menyambut musim tanam.

Ia menambahkan, sesuai dengan penanggalan dan hari Jumat tutuk jatuh pada hari ini. Maka, semua masyarakat di Desa Pejanggik tanpa terkecuali ikut berpartisipasi persiapan menyambut perang timbung. Mereka semuanya dengan kesadaran sendiri dan dana sendiri membuat timbung di rumah mereka masing-masing. Di mana masing-masing rumah membuat timbung paling sedikit 300 biji dan menyembelih 10 ekor ayam. “Per keluarga membuat paling sedikit 300 timbung. Jumlah itu tidak berat karena cukup menyiapkan 5 batang bambu panjang, karena satu bambu bisa jadi 60 timbung,” terangnya.

Selanjutnya, pembakaran timbung baru dilakukan mulai Jumat pagi atau setelah salat Subuh. Pembakaran timbung ada kalanya dilakukan secara berkelompok dan ada juga dilakukan di keluarga mereka masing-masing. Timbung yang sudah jadi itulah yang dinaikkan ke atas makam Serewa, untuk dilakukan upacara adat dan beberapa acara lainnya. “Di acara puncak, paling timbung dibawa ke makam paling banyak sama sama 50 biji. Sedangkan sisanya dibagikan ke seluruh sanak kerabat mereka guna menyambung silaturrahmi,” ungkapnya.

Salehudin menambahkan, budaya perang timbung ini dipercayai sebagai budaya peninggalan datu (raja) Pejanggik. Konon sejarahnya, di Makam Serewa ini pernah dilihat Datu Pejanggik. Kemudian masyarakat Serewa setiap hari Jumat tutuk kalender Sasak mendatangi makam untuk ziarah dengan membawa timbung dan ala kadar lainnya. Secara kebetulan, kala itu ada seorang wanita yang ikut, lalu ada seorang laki-laki yang melempari cewek dengan telur, sehingga mengakibatkan pakain wanita tersebut kotor.

Melihat wanita itu malu, akhirnya yang hadir ziarah langsung membuka timbung mereka dan melempari laki-laki tersebut. Dan dari sanalah awal perang timbung itu dimulai. Sedangkan kenapa sesajen itu dilakukan, itu sebagai bentuk rasa syukur terhadap melimpahnya hasil tanaman kala itu. ‘’Sebab setelah perang timbung ini dijadikan budaya tetap, hasil petani selalu melimpah,’’ tandasnya. (cr-ap)