Warga Pare Mas Kesulitan Air Bersih

Warga Pare Mas Kesulitan Air Bersih
KEKURANGAN AIR: Akibat terus mengalami kekurangan air bersih, warga Desa Pare Mas, Kecamatan Jerowaru, mulai merindukan sosok kepemimpinan Sukiman Azmy. Seperti diceritakan oleh sosok pasangan suami isteri warga setempat ini kemarin (30/3). (IRWAN/RADAR LOMBOK)

SELONG—Masyarakat pesisir pantai di Dusun Keranji, Desa Pare Mas, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), mengaku rindu dengan Sukiman Azmy, sosok yang pernah memimpin Kabupaten Lotim beberapa tahun lalu. Pasalnya, sejak Pak Sukiman berhenti menjadi Bupati Lotim, warga justeru kembali mengalami kesulitan air bersih.

Salah satu warga Dusun Keranji, Harniati menuturkan, bahwa sejak tahun 2008 hingga tahun 2012, atau ketika Pemerintahan Sukiman Azmy, air bersih di desanya tidak pernah kesulitan. Ini karena ada saluran air yang terus mengalir ke dusunnya. Sehingga wajar kalau sosok Sukiman sangat dicintai dan dinantikan kembali oleh masyarakat selatan.

“Ketika Pemerintahan Pak Sukiman ada saluran air mengalir ke kesini. Namun saat ini, saluran air itu sudah tidak berfungsi lagi. Sehingga air bersih juga sangat sulit didapatkan warga,” tuturnya Kamis kemarin (30/3).

[postingan number=5 tag=”peristiwa”]

Diceritakan, pada saat masyarakat mengalami kekurangan air bersih, seharusnya pemimpin (bupati) itu hadir untuk memberikan harapan kepada masyarakat, dengan cara menyalurkan air bersih. Namun sekarang, harapan itu seperti tidak ada.

“Sebelum jalan provinsi itu dibagun, ada saluran air menuju desa. Namun mungkin karena tersumbat atau apa, saluran air itu menjadi tidak berfungsi lagi,” tutur Harniati.

Akibat melimpahnya air saat itu, berbagai macam usaha pertanian bisa berjalan. Sehingga masyarakat pinggiran pantai ini tidak hanya mengandalkan laut saja sebagai usahanya, meskipun masyarakatnya mayoritas adalah nelayan. Adanya air yang masuk ke desa, banyak usaha yang kemudian bisa kita jalankan. Sehingga saya merasa kangen sekali dengan (kepemimpinan) Pak Sukiman,” paparnya.

Senada, Amaq Saep, warga Dusun Pare Mas menyatakan bahwa dibawah kepemimpinan Bupati Sukiman Azmi saat itu, selain air bersih yang mudah diakses, banyak usaha lain masyarakat yang bisa berjalan, seperti pertanian dan perkebunan.

“Kalau dulu banyak air masyarakat bisa menanam pohon pisang. Sekarang jangankan hendak menanam pisang, mau mandi atau mau minum saja harus beli,” pedihnya seraya menyampaikan, kalau sekarang warga yang harus keluar desa membeli pisang. Padahal dahulu wilayahnya adalah penghasil pisang.

Disampaikan, saat ini masyarakat membeli air dengan harga Rp 100 ribu per tangki. Padahal bukan hanya air bersih saja yang harus dibeli warga, tetapi juga kebutuhan lainnya seperti beras.

”Apalagi masyarakat disini hampir 100 persen yang mengalami gagal panen akibat kekurangan air, sehingga masyarakat harus membeli beras,” jelasnya.

Dengan demikian, pihaknya berharap kepada pemerintah agar bisa memberikan solusi bagi masyarakat desanya yang masih kekurangan air bersih, termasuk masih kekurangan dalam segala bidang.

“Selain bercocok tanam (petani), masyarakat desa kami juga bekerja sebagai nelayan. Kalau tidak, ya solusi terbaik adalah menjadi TKI,” tandasnya. (cr-wan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid