Warga Montong Belae Keluhkan Buruknya Jalan Pertanian

Warga Montong Belae
JALAN PERTANIAN: Jalan pertanian yang dikeluhkan para petani karena kondisinya rusak parah, dan sering kebanjiran ketika musim hujan. (IRWAN/RADAR LOMBOK)

SELONG—Masyarakat Montong Belae, Desa Montong Belae, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), mengeluhkan jalan pertanian yang dibangun oleh pemerintah desa. Pasalnya, jalan yang seharusnya dapat digunakan untuk memudahkan petani untuk membawa atau mengangkut hasil pertaniannya, justeru membuat petani kesulitan.

Salah satu warga Desa Montong Belae, Lalu Hirjan Efendi, mengatakan bahwa jalan pertanian yang dibangun oleh pemerintah desa pada tahun 2017 itu dengan dana desa. Jalan pertanian dibangun dengan panjang sekitar 1400 meter, dan lebar sekitar 4 meter, menghabiskan anggaran sekitar Rp 700 juta.

Hanya saja, hingga kini jalan pertanian ini tak kunjung selesai dikerjakan. “Selain belum selesai, di satu sisi jalan ini juga tidak sesuai, baik lebar dan ketinggiannya. Dimana jalan ini lebih rendah dari sawah, sehingga setiap datang air hujan, jalan kebanjiran dan merusak area persawahan masyarakat,” kata Hirjan, Jumat kemarin (2/2).

Itu terjadi lanjutnya, sebagai akibat buruknya pekerjaan pembangunan jalan pertanian yang dilaksanakan pemerintah desa. Padahal, masyarakat seharusnya bisa lebih nyaman menggunakan jalan, namun kenyataannya jalan yang dibangun justeru membuat masyarakat menjadi terganggu, dan kerap membuat para petani resah.

”Sebenarnya yang buat jalan ini rusak juga karena lambatnya pekerjaan yang dilakukan oleh desa. Seharusnya pemerintah desa mengerjakan pada saat dana itu keluar. Dan jalan yang dibangun juga lebih tinggi dari area persawahan,” kritiknya.

Disampaikan, untuk kelanjutan pengerjaan jalan pertanian ini, pemerintah desa rencananya juga akan kembali menganggarkan sebanyak Rp 700 juta. Hanya saja pihak Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) menolak.

Sementara Kepala Desa Montong Belai, Lalu Murdi, menyatakan bahwa pembangunan jalan pertanian ini berdasarkan permintaan dari masyarakat sendiri. Tujuan dibangunnya jalan pertanian ini adalah untuk mensejahtrakan petani, dengan syarat masyarakat siap membebaskan tanahnya. ”Jadi saya rasa tidak ada masyarakat yang mengeluh, karena kita ketahui jalan ini rusak karena bencana,” jelasnya.

Demi kesejahtraan petani pula lanjutnya, jalan pertanian ini akan kembali dilanjutkan hingga tuntas. Karena jalan usaha tani merupakan salah satu program yang harus dikerjakan hingga tuntas, dalam arti sampai pengerasan tanah.

Hanya saja, karena kondisi cuaca yang tidak mengizinkan, hingga kini belum dapat diselesaikan. “Jadi ada irigasi yang rusak, sehingga merusak talut. Dan masyarakat sendiri juga mengetahui apa penyebab rusaknya, sehingga jalan pertanian seperti itu,” sebutnya.

Tahun ini, pihaknya berencana untuk kembali menganggarkan pengerjaan jalan tani ini, dan menganggarkan sebesar Rp 500 juta. “Insha Allah kita akan tuntaskan, namun dengan cara bertahap. Kita yakin bisa tuntaskan. Untuk tahun ini kita juga anggarkan untuk insentif imam masjid, khatib dan kader juga harus diberikan,” pungkasnya. (cr-wan)