Warga Lobar Masih Lestarikan Tradisi Maleman

tradisi-maleman
DILE JOJOR: Tampak salah satu warga Dusun Peseng, sedang menyalakan dan menancapkan Dile Jojor dalam tradisi Maleman, untuk menyambut malam 21 Ramadan 1440 Hijriyah. (FAHMY/RADAR LOMBOK)

GIRI MENANG — Masyarakat Kabupaten Lombok Barat (Lobar), masih mempertahankan tradisi Maleman, yakni malam 21 bulan Ramadan, yang ditandai dengan menyalakan Dile Jojor, yaitu lampu yang menggunakan bahan bakar minyak buah jarak, dengan sumbu kapas, yang dibuat secara tradisional oleh masyarakat Lombok.

Tradisi Maleman ini sudah dilakukan sejak lama, dan biasanya aktivitas menyalakan Dile Jojor ini dilakukan setelah shalat magrib, usai melaksanakan aktivitas berbuka puasa. Dile Jojor biasa ditancapkan di setiap pojok rumah, terutama di empat sudut rumah, yaitu sebelah barat, timur, utara dan selatan. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat  Dusun Peseng, Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat.

Usai melaksanakan sholat magrib, warga sibuk menyalakan Dile Jojor, yang kemudian setelah menyala ditancapkan di berbagai sudut sekitar rumah. “Tradisi ini tetap kita laksanakan setiap malam 21 bulan puasa,” kata Masiyah Haikal, warga setempat, Minggu kemarin (26/5).

Momentum menyambut malam 21 Ramadan, juga dimanfaatkan oleh Masiyah, dengan cara berbagi santunan kepada ratusan  warga yang ada di wilayah Kecamatan Lembar dan Gerung, terutama di kawasan desa yang dilintasi oleh kendaraan pengangkut Batu Bara milik PT Cahaya Mulia Lembar. Ada sekitar 800 paket santunan yang dibagikan ke masyarakat Dusun Peseng, Karang Genteng.

Selain itu, juga ada pemberian santunan untuk anak yatim, terdiri atas 250 bingkisan dan 250 amplop untuk warga Dusun Jeranjang, Peseng, Gunung Malang, Keranti, Kebon Bongor, Lendang Jae, Sepakat, Leong Bijak, Lembar Selatan, dan dusun Serumbung. “Tadi di masjid sudah kita bagikan sebelum berbuka bersama,” tuturnya.

Tradisi ini diawali dengan berbuka bersama di masjid, yang dirangkaikan dengan doa dan zikir bersama. Tujuan dari menyalakan lampu Dile Jojor, karena pada malam 21 malam Ramadan dimulai turunnya Lailatul Qadar. “Sebagai tanda kita menyambut datangnya malam Lailatul Qadar,” imbuhnya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh masyarakat Desa Terong Tawah, Kacamatan Labuapi, Lobar. Pada malam 21 Ramadan, warga melakukan tradisi menyalakan Dile Jojor. Tradisi Maleman dilakukan pada setiap malam ganjil di bulan Ramadan, yakni tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan. Dimana pada malam ganjil ini dipercayai datangnya malam Lailatul Qadar.

Dengan menyalakan Dile Jojor, sebagai simbol pada pada malam 10 hari bulan puasa, agar hati dan jiwa manusia semakin terang dan terjaga untuk menjaga ibadah, ketika malam Lailatul Qadar tiba. “Ini sebagai tanda agar hati kita tetap terang dan semangat beribadah, terutama di 10 hari terakhir bulan puasa,” kata Zaini, tokoh masyarakat Jerneng.

Apalagi pada 10 hari terakhir itu sudah memasuki fase pembebasan dari api neraka, lanjutnya, maka malam ini terutama malam-malam ganjil harus dimanfaatkan untuk melakukan amal ibadah sebanyak-banyaknya, berharap bertemu dengan malam Lailatul Qadar. Karena kemuliaan malam Lailatul Qadar lebih mulia dari seribu bulan, sebagai mana yang ditegaskan dalam Alquran surat Al-Qadr. “Malam Lailatul Qadar itu lebih mulia dari seribu bulan,” ujarnya. (ami)