Warga Kembang Kuning Tolak Pemakaian Dua Mata Air untuk Proyek SPAM

Tolak : Puluhan warga Desa Kembang Kuning Kecamatan Sikur menyampaikan aksi penolakan pemanfaatan dua mata air untuk proyek SPAM. (M. Gazali/Radar Lombok )

SELONG – Warga Kembang Kuning Kecamatan Sikur menolak proyek Sistem Penyediaan Air Bersih (SPAM) dengan memanfaatkan dua sumber mata air di desa setempat.

Dua mata air tersebut yakni Golok dan  Barang Panas yang berada di perbatasan Desa Jeruk Manis dan Kembang Kuning. Rencananya air akan dialirkan ke wilayah selatan Lombok Timur. Aksi penolakan disampaikan warha saat acara sosialisasi proyek ini di masjid desa setempat, Rabu  (1/3).

Warga menolak karena khawatir air untuk lahan   pertanian mereka berkurang dengan adanya proyek ini. Terlebih lagi debit air juga semakin berkurang meski musim hujan seperti sekarang. Apalagi nanti ketika  memasuki musim kemarau maka tak dipungkiri debit air akan semakin berkurang. ” Wilayah kita ini kan areal perkebunan dan pertanian. Kalau mata air itu diambil maka masyarakat di sini terutama yang memiliki sawah dan lahan pertanian lainnya terancam akan mengalami kekeringan,” kata Ilman Jauhari, perwakilan warga.

Apapun alasannya, tegasnya, warga tetap menolak dua mata air ini sebagai sumber air untuk proyek SPAM yang akan mengalirkan air ke wilayah selatan. memberikan dua sumber mata air di wilayah tersebut.  ” Berapapun besar debit air yang akan diambil tetap tidak akan kami berikan. Apalagi masyarakat di sini juga jumlahnya akan semakin bertambah. Maka secara otomatis kebutuhan air akan semakin meningkat,” tutupnya.

Hal sama disampaikan Kades Kembang Kuning H. Lalu Sujian. Diterangkannya, warga menyayangkan sosialisasi terkait akan pemanfaatan dua mata air ini untuk SPAM dilakukan sekarang. Padahal proyek SPAM ini telah berjalan sekitar dua tahun lalu. ” Kita sama sekali tidak pernah dilibatkan. Sehingga wajar warga kita protes dan melakukan penolakan.  Makanya pas kita rapat di kantor bupati beberapa hari lalu saya langsung protes. Harusnya ketika awal proyek SPAM ii dikerjakan pihak – pihak terkait semestinya turun sosialisasi ke masyarakat,” ungkapnya.

Baca Juga :  Bocah SD Tewas Tenggelam di Pantai Tanjung Luar

Kalau dari awal warga diberikan penjelasan maka akan ada solusi. Sementara itu Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Lombok Timur Achmad Dewanto Hadi  mengatakan pihaknya datang ke Desa Kembang Kuning untuk melakukan sosialisasi  berkaitan dengan program nasional yaitu proyek SPAM. Program ini terang dia  telah diusulkan sejak tahun 2021. Dan di tahun ini sedang dalam tahap persiapan pelaksanaan. ” Anggaran program ini adalah Rp 110 miliar. Dan itu terbagi dalam dua paket pengerjaan. Paket pertama adalah penyiapan instalasi pengolahan air 2 ×50 liter dengan anggaran Rp 50 miliar.  Paket kedua yaitu pemasangan jaringan  dengan panjang kurang lebih sekitar 39 kilometer dengan anggaran Rp 70 miliar,” bebernya.

Anggaran proyek SPAM ini dialokasikan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR. Dan pelaksanaanya ditangani langsung oleh Balai Pemukiman dan Persediaan Prasarana Wilayah (BPPW) NTB. Berkaitan dengan adanya penolakan dari warga, baginya ini dinamika yang harus dihadapi dan diselesaikan bersama dengan berbagai pihak terkait. Terutama dengan warga di Kembang Kuning yang menjadi salah satu lokasi pengambilan air untuk proyek SPAM ini. ” Pengambilan air di mata air di sini memang telah melalui proses yang cukup panjang. Bahkan sejak dua tahun  yang lalu teman- teman konsultan telah turun melalukan asesmen. Bahkan izin penggunaan air permukaan ini telah dikeluarkan oleh BWS,” jelasnya.

Baca Juga :  Bangunan MTs NW Suangi Sakra Rusak Tertimpa Pohon

Kapasitas debit air yang telah diizinkan untuk diambil dari mata air tersebut yaitu hanya 15 liter perdetik dari kapasitas rata- rata 60 liter perdetik atau hanya sekitar 25 persen. Dan hal tersebut juga telah disampaikan ke masyarakat Kembang Kuning. ” Berdasarkan hasil perkiraan, sisa debit air yang akan kita ambil yaitu 45 liter perdetik itu memang sudah cukup untuk  mengairi lahan pertanian masyarakat. Sedangkan yang 15 liter perdetik itu akan kita alirkan ke wilayah selatan,” imbuh Dewanto.

Tidak haya itu, mata lain yang akan dimanfaatkan adalah  Berang Panas 2 dengan kapasita 15 liter perdetik. Ada juga Sungai Lingkok di Jeruk Manis dengan kapasitas yang paling besar yaitu 100 liter perdetik. ” Kapasitas air yang disediakan melalui sistem ini adalah 2 kali 50 liter perdetik. Tapi karena ada rencana kedepan dengan sehingga kita tidak perlu mencari sumber mata air lain lagi dengan debit yang ada sekarang ini. Tinggal kita lakukan pengembangan jaringan saja kalau nantinya akan ada penambahan baru ,” lanjut Dewanto.

Tapi dengan adanya penolakan ini maka mau tidak mau akan dicarikan alternatif dan solusi yang lain seperti yang ditawarkan oleh Kades setempat yaitu akan mencari sumber mata air yang lain. ” Kita tentunya akan pelajari dulu opsi tersebut. Dan kita juga sangat bersyukur debit air 100 liter perdetik yang akan kita alirkan untuk  SPAM ini  sudah sangat cukup memenuhi reservoar. Yang jelas meski ada penolakan tapi program ini tetap berjalan, ” tutup Dewanto. (lie)

Komentar Anda