Warga India Ditemukan Tewas di Kamar Hotel

DIEVAKUASI: WNA asal India, Anil Kumarpannda saat dievakuasi menuju RSUD Praya, Minggu malam (3/5).(ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)
DIEVAKUASI: WNA asal India, Anil Kumarpannda saat dievakuasi menuju RSUD Praya, Minggu malam (3/5).(ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

PRAYA–Seorang warga negara asing (WNA) asal India, Anil Kumarpannda, 55 tahun, ditemukan tewas di kamar hotel Illira Desa Penujak Kecamatan Praya Barat. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai Konsultan PT Inacon ini ditemukan tewas sekitar pukul 17.00 Wita, Minggu (3/5).

Kasatreskrim Polres Lombok Tengah, AKP Priyo Suhartono membenarkan informasi ini ketika dikonfirmasi. Tuturnya, korban meninggal di kamar nomor 117 Hotel Illira. Penyebab kematian korban sendiri belum dapat dipastikan. Jenazah korban sekarang masih disimpan di ruang jenazah RSUD Praya. “Korban sudah menetap di Hotal Illera kamar nomor 117 selama empat bulan. Korban bekerja sebagai konsultan di PT Inacon dalam rangka pembangunan Sirkuit MotoGP di KEK Mandalika,’’ terang Priyo, Senin (4/5).

Priyo melanjutkan, dalam empat bulan terakhir ini, korban hanya beraktivitas di tempat kerjanya di Desa Kuta dan kembali lagi ke Hotel Illira. Menurut keterangan beberapa saksi, sekitar dua minggu lalu korban mengeluh sakit pada bagian ulu hati. Korban kemudian sempat diantar berobat ke RSUD Praya. “Korban ini rutin mengonsumsi obat yang diberikan dokter tanpa minum air putih. Tapi mengonsumsi obat sambil minum minuman beralkohol. Kemudian pada Sabtu (2/5) sekitar pukul 19.30 Wita, korban mengeluh sakit pada bagian ulu hatinya. Korban sempat disarankan salah seorang saksi ke dokter untuk berobat,” terangnya.

Namun, korban menolak dengan mengeluarkan perkataan “im oke”. Setelah saksi berbincang kemudian saksi meninggalkan  korban di dalam kamarnya. Kemudian pada Minggu (3/5) sekitar pukul 17.00 Wita, ada informasi jika korban sudah dalam keadaan terbujur kaku di lantai kamar hotel nomor 117 Hotel Illira. “Selanjutnya pihak medis RSUD Praya bersama dengan pihak kepolisian mengevakuasai korban ke RSUD Praya. Kita juga koordinasi dengan rekan kerja korban untuk memastikan, apakah korban sudah dikomunikaksikan dengan pihak keluarganya di India. Dari hasil komunikasi rekan kerjanya dengan pihak keluarga korban menyatakan menyerahkan sepenuhnya penanganan mayat sesuai dengan prosedur,” terangnya.

Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Tengah, Murdi yang dikonfirmasi juga mengaku telah menindaklanjuti kejadian ini. Dari informasi yang didapatkan BPBD, kematian korban diketahui sekitar pukul 15.00 Wita, Minggu (3/5). Saat itu, salah seorang staf engineering Hotel Illira, Nanda, melewati depan kamar 117 korban. Dia sedang keliling mengecek area dan melihat pintu kamar hotel korban sedang terbuka. Nanda melihat korban duduk di lantai sambil memegang handphone sedang video call dengan suara napasnya mendengus dan berat.

Saat pergantian shift pagi ke sore sekitar pukul 15.00 Wita, Nanda menceritakan apa yang dilihatnya kepada Angga, staf engineering yang menggantikannya sore itu. Angga kemudian mengontrol area sekitar pukul 16.10 Wita. Seperti Nanda, Angga juga melewati depan kamar korban untuk melihat keadaan. Angga juga melihat apa yang diceritakan Nanda sebelumnya. Bahwa korban sedang duduk di lantai sambil memegang HP dengan napas mendengus dan berat.

Seperti Nanda, Angga juga beranggapan bahwa korban sedang mabuk berat karena banyak mengonsumsi minuman beralkohol di kamarnya. Keadaan korban seperti sudah diketahui petugas kebersihan hotel setiap harinya. Sekitar pukul 18.40 Wita, petugas front office memanggil engineering melalui handy talky (HT). Staf engineering yang bertugas diminta mengecek kamar korban karena ada telepon keluarga korban dari luar negeri.

Staf engineering yang tak lain adalah Angga kemudian langsung pergi melihat kamar korban. Angga mengajak staf kitchen untuk mengecek ke kamar 117. Setelah tiba di depan kamar korban, Angga menemukan pintu kamar masih keadaan terbuka. Kedua staf itu kemudian mengetuk pintu kamar dan memanggil nama korban. ‘’Tetapi tidak ada respons sama sekali dan saat itu petugas langsung kembali ke front office untuk memberitahukan,” tutur Murdi.

Front Office Hotel Illira kemudian menghubungi Perusahaan Mandalika Urban and Tourism Infrastructure Project di Praya. Tak berselang lama, lalu datanglah lima orang yang merupakan rekan kerja korban dari perusahaan. Petugas hotel lalu berbincang untuk segera menghubungi tim medis dan membawa korban ke RSUD Praya.

Sambil menunggu tim medis datang dan aparat kepolisian, korban kemudian dibawa ke RSUD Praya, sekitar pukul 00.15 Wita. ‘’Tak lama kemudian kami mendapat telepon dari bapak Anton, rekan kerja korban. Dia menyatakan tamu tersebut sudah divonis meninggal dunia pihak RSUD Praya,” tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan ITDC, Miranti Nasti Rendranti, menyampaikan klarifikasi sehubungan adanya pemberitaan mengenai kematian seorang WNA India yang dikaitkan dengan Sirkuit MotoGP. “Pertama kami turut berduka cita atas meninggalnya almarhum,” ucapnya.

Berikutnya yang kedua, almarhum bekerja sebagai konsultan di PT INACON, yang merupakan Konsultan Manajemen Proyek untuk rencana pembangunan infrastruktur pariwisata dasar non sirkuit di kawasan The Mandalika. “Jadi almarhum bukan lah konsultan dalam pembangunan Sirkuit Mandalika atau kegiatan lainnya terkait persiapan MotoGP di The Mandalika,” jelas Miranti.

“Kami harapkan dukungan dan bantuan dari rekan media semua, agar ikut menjaga supaya persiapan MotoGP dapat berjalan dengan lancar. Sehingga event ini dapat menjadi motor utama kebangkitan pariwisata dan ekonomi NTB paska pandemi (corona),” sambung Miranti. (met)