Warga Diminta Waspadai Bencana Longsor

TERKENDALA HUJAN : Produksi genteng dan bata di Aik Ampat Gerung turun menyusul tibanya musim hujan. Perajin terkendala oleh pendeknya waktu jemur (Rasinah Abdul Igit/Radar Lombok)

GIRI MENANG– Memasuki musim hujan ini warga diminta mewaspadai bencana alam diantaranya banjir dan longsor. Warga yang selama ini diketahui bermukim di lereng pegunungan diminta waspada longsor.“ Kita himbau agar warga mewaspadai bencana. Terutama longsor di wilayah-wilayah ketinggian,” ungkap Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Lombok Barat HM. Najib belum lama ini.

Lombok Barat adalah kabupaten dengan potensi bencana cukup tinggi, terutama banjir dan longsor. Hampir semua kecamatan punya wilayah yang berpotensi kena bencana. Dimulai dari Sekotong, kecamatan ini menjadi langganan banjir dan longsor. Tahun lalu terjadi musibah banjir bandang yang menyerang sejumlah desa di Sekotong bagian tengah. Air disertai batu dan kayu menerjang desa. Banyak pihak mengaitkan bencana ini dengan aktivitas pertambangan ilegal di wilayah pegunungan. Pengerukan menyebabkan tanah menjadi labil dan tergerus ke bawah.

Di Kecamatan Lembar juga demikian. Di Kecamatan ini banyak pemukiman penduduk yang berlokasi di bawah gunung. Beberapa tahun lalu hujan tahun lalu juga terjadi musibah longsor tepatnya di Desa Lembar Selatan. Sejumlah rumah rusak  meski tidak sampai merenggut nyawa. Maraknya penebangan pohon secara ilegal ikut memperparah keadaan serta membuat potensi longsor semakin besar. “ Kalau disini sudah pasti kita khawatir, terutama di sekitar lokasi galian C,” ungkap Sahnan (40), warga Desa Kebon Jurang, Gerung, diwawancarai terpisah.

Di Kecamatan Gerung memang terdapat lokasi galian C yang dibawahnya terdapat rumah-rumah penduduk. Pemandangan seperti itu terlihat di Desa Kebun Ayu, Desa Taman Ayu, Desa Gapuk dan Desa Suka Makmur. Desa-desa ini adalah adalah lokasi galian C.

Sementara itu perajin genteng di Lingkungan Aik Ampat Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung mengaku kewalahan menekan biaya produksi akibat datangnya musim hujan. Perajin menyiasatinya dengan menaikkan harga jual disamping membatasi target pembuatan per hari.“ Genteng basah yang siap jemur juga rusak akibat disimpan terlalu lama sambil menunggu cuaca panas,” ungkap Sahdi (31), perajin genteng tradisional Aik Ampat saat ditemui kemarin. 

Musim hujan yang mulai datang sejak 2 bulan terakhir menjadi ujian tersendiri bagi perajin genteng dan batu bata  Aik Ampat. Hujan turun tidak menentu menyebabkan mereka tidak leluasa mengatur jadwal pasti pembakaran genteng. Pada hari normal, mereka bisa menjemur genteng hasil cetakan selama satu sampai dua hari. Pembakaran juga hanya memakan waktu 1-2 hari. Kini, penjemuran bisa memakan waktu 5 hari. Kulit kelapa yang basah juga memperlama waktu pembakaran.

Hambatan cuaca juga berbarengan dengan tingginya volume permintaan, terutama oleh banyaknya proyek pembangunan perumahan yang membutuhkan genteng setempat. Peluang ini dimanfaatkan perajin dengan menaikkan harga jual demi tertutupnya biaya produksi. Harga genteng yang semula Rp 1 juta per seribu batang naik menjadi Rp 1,5 juta.

Aik Ampat telah lama dikenal sebagai sentra perajin genteng dan batu bata. Sebagian besar warga melakoni usaha ini sejak puluhan tahun silam dengan bentuk usaha keluarga dan kelompok. Produksi genteng kampung Aik Ampat dikenal sebagai genteng lokal dengan kwalitas bagus, setidaknya itu yang diakui oleh para perajin. Pemesan tidak saja  datang dari sekitar kampung tetapi sudah sampai luar daerah.(git)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid