WALHI Investigasi Lokasi Pembangunan Kereta Gantung Rinjani

Amri Nuryadi (FAISAL HARIS/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Rencana pembangunan proyek kereta gantung Rinjani di pulau Lombok masih jadi sorotan publik. Tidak terkecuali dari kalangan aktivis lingkungan juga ikut bersuara. Bahkan proyek yang akan dikerjakan investor asal Tiongkok, China sebelumnya pernah ditentang untuk tidak dilanjutkan mengingat akan berdampak terhadap kerusakan hutan.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) NTB, Amri Nuryadi menyampaikan, saat ini WALHI NTB belum menyatakan sikap secara komprehensif terhadap pembangunan kereta gantung Rinjani. Pasalnya masih melakukan investigasi terhadap beberapa proyek strategis nasional maupun investasi skala besar di NTB. Termasuk rencana pembangunan kereta gantung Rinjani. “Jadi ada beberapa proyek strategis nasional maupun investasi skala besar yang akan diinvestigasi WALHI itu sekitar 10 se-NTB. Salah satunya kereta gantung Rinjani ini,” ujarnya kepada Radar Lombok, Selasa (26/4).

Apa yang menjadi fokus investigasi yang akan dilakukan, sambungnya, baik itu proyek kereta gantung, Bendungan, Pertambangan skala besar dan proyek kawasan destinasi wisata yang mengambil ruang kelola rakyat dikawasan konservasi ikut menjadi konsen WALHI NTB saat ini. “Salah satunya yang akan kami investigasi adalah wilayah lokasi rencana proyek kereta gantung Rinjani ini yang mengambil wilayah kawasan Rinjani,” sambungnya.

Menurutnya, pembangunan proyek kereta gantung yang mengambil lokasi diwilayah kawasan Rinjani yang notabene kawasan tanam nasional yang ada di NTB. Tentu jadi perhatian, pasalnya telah terjadi kerusakan hutan seperti yang telah disebutkan Dinas LHK tentang laju kerusakan hutan yang setiap tahun terus meningkat. Salah satunya di wilayah Rinjani sekitar 360 hektare pada 2020 lalu. “Artinya bahwa ditengah sedang terjadinya kerusakan hutan, kemudian perambahan hutan, selain itu juga kita sedang mencoba memulihkan beberapa wilayah hutan kita. Tentunya harus dipandang juga kereta gantung itu dari aspek lingkungan,” katanya.

Ia juga mengatakan, jika melihat dan mengaca misalnya ke darerah-daerah di negera lain yang punya kereta gantung, misalnya kayak di Australia dibangun diatas bebatuan yang umurnya sudah sampai ratusan juta tahun. Kemudian, di negara Italia juga memiliki kereta gantung yang dibangun di atas bebatuan dolomit yang umurnya sampai dua ratusan juta. “Nah kita kalau dilihat dari konstruktur tanah maupun bantuan yang ada diwilayah Sebalun itu mudah terlepas tidak seperti diwilayah yang keras seperti diwilayah Australia dan Italia atau diwilayah lain,” terangnya.

BACA JUGA :  Keluarga TKI Korban Kapal Tenggelam di Perairan Malaysia Cemas

Meski kondisi tersebut, kata Amri, bisa disiasati secara tehnis tetapi pasti akan merubah bentang alam. Untuk itu perlu dilakukan kajian yang mendalam sebelum pembangunan proyek dilakukan sehingga tidak berdampak negetif terhadap kerusakan lingkungan ataupun hutan. “Makanya ini yang kami bilang harus dikaji aspek lingkungan, dikaji kelayakannya, desibility-nya,” katanya.

Kalaupun misalnya ada dengan pembangunan kereta gantung ini sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan perekonomian masyarakat, sambung Amri, perlu dipertimbangan secara matang. Karena tidak hanya dengan membangun kereta gantung dapat meningkatkan perekonomian tetapi masih ada potensi lain yang dapat dikembangkan. “Kalau misalnya ada pikiran, harapan kita untuk membangkitkan ekonomi masyarakat  dalam konteks itu. Tentunya kita mengaca juga kepada situasi yang ada pada hari ini terhadap kerusakan hutan kita di NTB,” ucapnya.

Sebab tidak hanya dengan membangun kereta gantung saja dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Ada beberapa juga upaya-upaya dilakukan pemerintah untuk menggencot perkonomian di wilayah-wilayah di NTB, misalnya diwilayah Sembalun Lombok Timur.  Tidak mesti harus lewat pembangunan kereta gantung. “Dan apakah mesti dengan kereta gantung itu lalu akan jadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi oleh orang. Kan tidak juga,” setilnya.

Mengenai lokasi rencana pembangunan proyek kereta gantung Rinjani yang saat ini sedang digarap Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) oleh PT. Indonesia Lombok Resort (ILR) milik investor asal Tiongkok, China, berada di kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di Karang Sidemen Lombok Tengah yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi NTB. “Apalagi lokasinya di Karang Sideman itu wilayah komunitas dampingan Walhi NTB,” tambahnya.

Untuk itu, katanya, dalam konteks pembangunan kereta gantung Rinjani ini tidak selalu dikait-kaitkan dengan menyatakan bahwa untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Tanpa memikirkan dampak lingkungannya. “Kalau kita lihat potensi untuk bangkitkan ekonomi banyak. Bisa juga membuat lokasi camping ground yang bisa jadi destinasi tersendiri. Kalau ini memaksakan menurut saya,” ucapnya.

BACA JUGA :  Jelang HUT NTB Beredar SE Gubernur Palsu

Sebab menurutnya, wilayah-wilayah yang selama ini dijadikan lokasi pembangunan kereta gantung di Australia dan Italia dari sisi bentang alam sangat mendukung untuk itu. Tanpa akan merusak dan merubah bentang alam yang ada. Karena tiang-tiangnya dibangun diatas bebatuan  umurnya diatas jutaan tahun. “Dan intinya WALHI NTB saat ini akan melakukan investigasi dan mendorong Pemprov untuk melakukan kajian terlebih dahulu, untuk kelayakan dari aspek lingkungan, ekonomi yang hari ini diwacanakan itu,” tutupnya.

Terpisah Gubernur NTB, mengatakan sejuah ini diri belum melihat perkembangan terkini. Karena rencana kereta gantung Rinjani idenya sudah lama digaungkan tapi akibat pandemi Covid-19 yang melanda dua tahun terakhir ini sempat terhenti sehingga dirinya nanti akan memastikan kembalo seperti apa progres lanjutannya. “Intinya kita lihat dulu nanti seperti apa. Jangan sampai belum ada kereta gantung kita sudah ribut duluan,” ujarnya.

Soal akan ada penandatangan MoU antara Pemprov NTB dengan investor terkait pembangunan kereta gantung Rinjani, kata Gubernur, akan melihat terlebih dahulu seperti apa poin-poin yang tertuang dalam MoU-nya. “Mungkin nanti saya akan lihat dulu MoU seperti apa,” terangnya.

Hal yang sama juga, dikatakan Gubernur soal seperti apa prospek dengan keberadaan kereta gantung Rinjani di NTB. “Kita lihat-lah, yang penting jangan sampai membahayakan lingkungan itu saja. Kalau ditempat lain bisa ada tanpa bahayakan lingkungan ya bisa kita ikuti saja,” tambahnya.

Menurut Gubernur, kedepan NTB akan dikunjungi oleh banyak orang. Karena dengan keberadaan Sirkuit Mandalika maupun Sirkuit Motorcoos di Kawasan Samota Sumbawa, lantas tidak semua orang datang ke NTB akan menonton balapan. Tetapi dapat menikmati keindahan pariwisata lainnya. “Nah sekarang gimana keindahan, misalnya Rinjani atau wista didaerah kita bisa dilihat dengan kereta gantung kenapa nggak. Tapi tentu ada catatannya gimana supaya tidak bahayakan lingkungan, karena orang konsennya jangan sampai hutan dirusak dan ini itu. Tapi saya termasuk yang percaya, tehnologi kita sudah cukup maju sehingga mampu menghindaru dampak negatif dari hal-hal yang kita takutkan itu. Kita lihat aja nanti,” pungkasnya. (sal)