Waka PN Praya Tepis H Terlibat Pungli

Husnul Khotimah (DHALLA/RADAR LOMBOK)

PRAYA-Pengadilan Negeri (PN) Praya langsung menyikapi dugaan pungutan liar (pungli) yang dilakukan oknum panitera berinisial H.

Unsur pimpinan pengadilan langsung mengklarifikasi H terkait dugaan pungli yang dialamatkan kepadanya.  H membantah melakukan tindakan tidak terpuji itu. Dia mengaku hanya meminjam uang Rp 20 juta kepada pihak yang berperkara  karena sedang butuh.

Pinjaman itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan perkara yang ditanganinya. Kebetulan juga, H Bahar merupakan kerabatnya satu kampung  yang menjadi kuasa hukum Saharudin warga Tanjung Luar Kecamatan Keruak Lombok Timur. Ia jadi tidak sungkan meminjam uang tersebut. ‘’Masalah uang Rp 20 juta yang diduga suap itu murni pinjaman dan tidak ada sangkut pautnya dengan perkara,’’ tegas Wakil Ketua PN Praya, Husnul Khotimah saat dikonfirmasi di ruangannya Kamis kemarin (20/10).

Dari pengakuannya, H juga mengaku sebenarnya ditawarkan dalam jumlah yang lebih besar namun   H hanya butuh Rp 20 juta dan merasa sanggup membayarnya. Sekarang, uang itu sudah dikembalikan secara bertahap bahkan sudah cukup lama. ‘’Tanggalnya saya lupa, tapi dikembalikan sebelum puasa Rp 20 juta dan sesudah puasa Rp 20 juta,’’ tutur Husnul mengutip penjelasan H.

Ditegaskan Husnul,  uang Rp 20 juta itu tidak ada hubungannya dengan perkara. Pinjaman itu dilakukan atas nama kekeluargaan. Cuma kebetulan, waktu itu yang meminjam dan pemberi pinjaman sedang dalam perkara. Sehingga besar kemungkinan dicurigai sebagai uang suap.

Tak hanya itu, Husnul juga mengaku sudah memanggil semua majelis hakim yang menangani perkara itu. Mereka mengaku tidak ada yang tahu masalah uang pinjaman itu. sehingga dipastikan uang itu terlepas dari perkara. ‘’Mungkin yang memberi pinjaman bisa saja maksudnya lain, karena kebetulan diantar anak si pengacara ini. Tetapi buktinya sama sekali tidak ada kaitannya dengan pidana,’’ tegasnya lagi.

Selain dana Rp 20 juta itu, H juga dituding meminta sejumlah uang penerjemah sebesar Rp 400 ribu dan  Rp 3,4 juta dengan alasan uang pemeriksaan setempat (PS).  Menurut Husnul, masalah itu terlepas dari pengawasanya. Tetapi, perlu ada kajian bahasa permintaan dari oknum panitera bersangkutan  yakni uang itu diberikan pihak berpekara karena sebelumnya H  meminta uang rokok. ‘’Kalau sekadar uang rokok, mungkin siapa saja bisa melakukannya. Tapi yang memberi jangan kasih ratusan ribu lah. Kalau uang rokok, ya kasih harga sebungkus saja,’’ katanya.

Mengenai uang pemeriksaan setempat sebesar Rp 3,4 juta, Husnul juga membantah. Uang itu tidak sebesar yang dituduhkan, tetapi besarannya berkisar Rp 1,5 juta sesuai ketentuan yang berlaku. Dan, uang itu harus dibayar para pihak, bukan hanya penggugat. Karena posisinya, penggugat hanya akan membayar terlebih dulu. ‘’Tetapi, jika perkara itu sudah jalan, maka harus dibayar para pihak, baik penggugat maupun tergugat,’’ jelasnya.

Husnul berjanji, pihaknya akan tetap menyelidiki dugaan pungli itu. Sebaliknya, jika tidak terbukti maka pihaknya tidak akan melanjutkan. Komitmen pengadilan sudah jelas akan memberikan keadilan. ‘’Kalau salah ya kita sanksi, tapi kalau benar (tidak terbukti, Red) buat apa kita lanjutkan,’’ tandasnya.

Penegasan sama juga disampaikan H kembali, bahwa dirinya akan menyelesaikan masalah itu. Hal ini mengingat nama baiknya yang dituduh telah melakukan pungli dan menerima suap.  Pengakuannya, soal uang itu murni pinjaman karena dia berteman baik bahkan berkerabat dengan pengacara tergugat.  Semua uang yang diterimanya itu kepadanya sudah dikembalikan secara bertahap. Pengembalian pertama dilakuka sebelum puasa dan kedua sesudah puasa. ‘’Kebetulan juga waktu itu, anak tempat saya meminjam uang ini sedang kawin dan saya langsung membayar utang saya,’’ jelasnya. (cr-ap/dal)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid