Wagub Akui Pemeriksaan Sampel Tracing Covid-19 Masih Rendah

Hj Sitti Rohmi Djalilah (Faisal Haris/radarlombok.co.i)

MATARAM–Meski angka positif baru Covid-19 di NTB terus naik, namun sampel hasil tracing kontak pasien yang diperiksa di laboratorium masih rendah.

Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah menyadari hal itu. “Kita akui jumlah tracing sampel (Covid) yang diperiksa memang masih rendah di NTB ini,”akuinya.

Menurutnya, banyak penyebab masih rendahnya sampel yang diperiksa. Salah satunya banyak masyarakat yang tidak mau diperiksa ketika mengalami batuk, pilek, sesak  di rumah sakit. Disamping itu juga, katanya masalah aturan yang sudah direvisi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI yang mengatakan kalau misalnya ada orang yang sudah kontak erat dengan pasien positif Covid-19 tapi tidak ada gejala tidak harus diswab PCR. “Hal-hal seperti ini yang membuat kita agak kesulitan untuk setiap ada yang gejala lalu harus diswab. Untuk sekarang hal ini sulit kita lakukan,”ungkapnya

Dari informasi yang diterima, ada beberapa orang yang sudah dirapid tes dengan hasil reaktif tetapi tidak mau diswab untuk memastikan apakah benar-benar terkonfirmasi positif atau tidak. Merek tidak mau di lswab dengan alasan lebih baik melakukan isolasi mandiri di rumah. “Hal-hal yang kayak begini kan susah juga kita mau paksakan. Mau turunin oolisi juga kualahan juga. Jadi ya sekarang ini pokoknya kita memahami tentang Covid ini bahwa ini adalah virus, tidak bisa dilihat. Ya lindungi diri sendiri dan lindungi orang-orang terdekat kita semua dengan kepatuhan terhadap protokol kesehatan,”imbuhnya.

Menurutnya, tidak mungkin bisa semua orang mau dilakukan swab. Misalnya ada orang yang hanya gejala pilek lalu dipaksakan untuk diswab tentu tidak bisa. “Jadi lebih baik sekarang itu kita perketat namanya saling
mengingatkan untuk penggunaan masker dan jaga jarak,”katanya.

Sekarang ini tambah Wagub, yang terpenting harus dilakukan yakni mematuhi protokol Covid-19 seperti menggunakan masker, jaga jarak dan rutin cuci tangan menggunakan sabun dan lain sebagainya. “Penerapan protokol kesehatan ini satu-satunya yang bisa kita andalkan,” terangnya.

Sebelumnya juga, Direktur RSUD NTB dr HL Hamzi Fikri menyebutkan untuk menekan angka kasus baru positif Covid-19, maka harus perbanyak tracing kontak atau pemeriksaan sampel, terlebih kepada orang-orang yang mengalami gejala. Jangan nanti sudah parah baru dibawa ke rumah sakit. “Tentu dibutuhkan kesiapan-kesiapan kita untuk menangani kasus-kasus yang ada jangan sampai berat kondisinya baru masuk penanganan di rumah sakit,”katanya.

“Kita ingingkan konsep penanganan ini harus diperkuat di T3-nya tadi. Tracingnya tentunya lebih diperkuat karena satu pasien positif itu, setidaknya 30 orang yang harus ditracing kontak. Yang harus dipenuhi,”sambungnya.

Bahkan katanya, lebih cepat menemukan kasus akan lebih bagus dibanding tidak ditemukan tetapi justru menjadi acaman. Apalagi kasus positif Covid-19 ini tidak harus orang kondisinya parah namun banyak juga pasien yang ditemukan yang tidak memiliki gejala atau yang di sebut Orang Tanpa Gejala (OTG). “Temukan kasus itu tidak apa-apa positifnya banyak. Tetapi artinya kita bisa menurunkan angka kematian, sebab antisiapasinya yang lebih bagus jika lebih cepat temukan kasus. Sekarang orang takut jumlah kasus positif lebih banyak. Tapi sebenarnya itu tidak masalah,”terangnya.

Data Gugus Tugas Provinsi NTB pada tanggal 3 Desember 2020 tercatat adanya penambahan kasus baru positif sebanyak 22 orang. Dengan demikian maka jumlah kasus positif Covid-19 sudah tempus angka 4.826 orang, dengan perincian 4.096 orang sudah sembuh, 258 meninggal dunia, serta 472 orang masih positif. (sal)