Wacana Penghapusan PR Siswa Minta Dikaji Ulang

Ilustrasi Mengerjakan PR
Ilustrasi Mengerjakan PR

MATARAM – Wacana Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI terkait penghapusan Pekerjaan Rumah (PR), untuk anak sekolah tingkat Sekolah Dasar (SD) perlu dikaji lagi. Wali Kota Mataram, H Ahyar Abduh meminta agar wacana penghapusan PR bagi siswa SD untuk dikaji ulang.

 “Melalui PR ini, anak-anak bisa memanfaatkan waktunya di rumah untuk dapat menyelesaikan tugas sekolah yang tidak mungkin semuanya dapat di selesaikan di sekolah,”  kata Ahyar Abduh, Rabu kemarin (1/8).

BACA JUGA: Melihat Lekat Kehidupan Yuliana, Juara Pencak Silat Dunia (Bagian 1)

Ahyar menjelaskan untuk penerapan wacana penghapusan PR di Kota Mataram masih perlu dikaji ulang, bahkan perlu dipelajari apa urgensi dan alasan-alasan yang mendukung jika harus diterapkan.  Justru dengan adanya PR tersebut, siswa dapat memanfaatkan waktu senggangnya di rumah untuk dapat mendalami materi pelajaran yang telah diterima di sekolah.

Terkait dengan wacana penerapan yang datang dari Mendikbud tersebut, Ahyar mengaku hal tersebut perlu dipelajari dulu. Apa alasan-alasan yang tepat untuk bisa mendukung hal tersebut diberlakukan dan juga apa urgensinya sehingga tidak asal-asalan dalam menerapkan suatu kebijakan. Terlebih lagi PR ini merupakan suatu kewajiban yang dimiiki anak seolah sejak dahulu hingga saat ini. Karean adanya PR, siswa bisa mendalami kembali pelajaran yang telah diterimanya di sekolah.

“PR boleh saja diberikan, dengan catatan jangan sampai memberi beban kepada anak-anak sehingga mereka juga tetap bisa menghabiskan waktu berkumpul bersama keluarga, juga mendalami agama dengan mengikuti kegiatan mengaji,” ucap Ahyar.

BACA JUGA: Melihat Kreativitas Mahasiswa Membuat Sepatu Handmade

Terpisah anggota Komisi IV DPRD Kota Mataram, L Suriadi mengatakan, wacana dari Kemendikbud tersebut harus ada kajian di daerah. Terutama untuk daerah perkotaan, saat ini dengan adanya PR membuat murid menjadi lebih aktif.

“Kita harapkan daerah harus menyampaikan dampak positif dari PR yang disampaikan. Asalkan jangan terlalu berlebihan dari guru,’’ tutupnya. (cr-ynq).