Virus Tungao Ancam Tanaman Petani Sembalun

Virus Tungao Ancam Tanaman Petani Sembalun
VIRUS: Tanaman cabai petani di Sembalun terserang Virus Tungao ‘mite’ yang membuat daun cabai kering dan rusak, sehingga petani terpaksa memusnaskan tanaman mereka. Tampak para mahasiswa Unram ketika melihat tanaman cabai petani. (LUKMAN HAKIM/RADAR LOMBOK)

MATARAM–Petani cabai dan tanaman lainnya di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), hendaknya mulai mewaspadai serangan hama virus yang bisa mengancam tanaman mereka. Pasalnya, baru-baru ini pakar bakteri pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram) menemukan adanya hama Tungao (Mite) yang menyerang tanaman cabai di Sembalun. Akibatnya, puluhan hektar tanaman cabai petani terpaksa dimusnahkan sendiri oleh para petani.

Menurut Prof. H. Muhammad Sarjan, serangan hama Tungao (mite) telah merusak tanaman cabai petani di Sembalun. Hama jenis Tungao (mite) ini merupakan salah satu virus penyerang secara massif di tanaman cabai petani di Sembalun. “Serangan hama Tungao ini cepat menyebarnya. Akibatnya, petani terpaksa memusnahkan tanaman cabai mereka,” kata Prof Sarjan, Kamis kemarin (20/7).

Dikatakan, persebaran virus Tungao (mite) ini sangat cepat. Terlebih lagi, penanganan virus Tungao ini oleh petani cabai di Sembalun salah menggunakan obat-obatan pestisida. Hal tersebut lumrah, karena hama Tungao ini baru pertama kali menghinggapi tanaman petani di Sembalun. Akibatnya, mereka tidak memahami upaya dan obat-obatan apa yang digunakan membunuh hama jenis Tungao ini.

Parahnya lagi, hama Tungao ini tidak hanya menyebarkan virusnya untuk tanaman cabai saja. Melainkan juga bisa merusak tanaman bawang putih, strawberry, kentang, wortel, dan lainnya di wilayah Sembalun. Karena itu, pemerintah sudah semestinya turun tangan untuk memberikan edukasi dan penanganan dalam jangka pendek terkait serangan hama Tungao (mite) yang bisa merugikan petani.

Terlebih lagi, saat ini di kawasan Sembalun mulai banyak penanaman pembenihan bawang putih Sembalun, untuk suplai kebutuhan nasional yang merupakan program dari sejumlah Kementerian Pertanian, BUMN, Kementerian Desa, Bank Indonesia dan juga PT Pupuk Indonesia.

Hama Tungao ini bisa mengancam berbagai tanaman tersebut. Karena itu, perlu ada antisipasi dari pihak terkait. “Kalau tidak cepat diantisipasi, bisa membahayakan tanaman jenis lainnya. Karena itu, perlu langkah cepat dari pihak terkait,” ujarnya.

Sarjan mengatakan, saat ini pihaknya bersama tim Unram sudah turun melakukan penelitian dan langkah apa yang perlu digunakan menekan penyebarluasan hama Tungao tersebut. Sehingga tidak menyebar dan merusak tanaman lainnya.

Sebelumnya, petani cabai ketika terjadi serangan hama Tungao ini mereka mengira hanya bakteri biasa, sehingga menggunakan obatan jenis insektisida, tapi ternyata tidak mempan. “Kalau pakai insektisida, sudah pasti tidak akan mempan. Karena bukan serangga untuk dikendalikan,” jelasnya.

Seharusnya, sambung Sarjan, petani mengendalikan serangan hama Tungao ini menggunakan pestisida golongan Akarisida. Hanya saja petani belum mengetahui dan memahami jenis hama Tungao yang menyerang tanaman cabai mereka. Sehingga para petani hanya menggunakan jenis insektisida. “Serangan hama Tungao ini harus segera ditangani. Kalau tidak bisa merusak tanaman lainnya,” pungkasnya. (luk)