Varian Delta Pengaruhi Lonjakan Kasus Covid-19 di NTB

dr Nurhandini Eka Dewi (Faisal Haris/RadarLombok)

MATARAM – Varian baru Covid-19 Delta (B.1617.2) yang diumumkan pada Jumat (13/7) lalu menjadi salah satu penyebab terjadinya lonjakan kasus yang terjadi di NTB akhir-akhir ini.

Hal tersebut disampaikan Asisten III Setda NTB, dr Hj Nurhandini Eka Dewi saat dikonfirmasi dengan ditemukan 13 kasus Delta di NTB. Meski sejauh ini pihaknya telah melakukan tracing kontak terhadap kasus delta. Dari hasil tracing dari 13 kasus tersebut ditemukan dari pelaku perjalanan dan transmisi lokal. “Yang pelaku perjalanan sudah ada yang kita  tracing. Sementara yang transmisi lokal kita sudah lakukan tracing yang masih tetap berjalan sampai saat ini,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini.

Eka juga menyebutkan dengan adanya kenaikan-kenaikan kasus yang terjadi di NTB tidak terlepas dari pengaruh setelah ditemukan varian Delta. Meski sekarang ini jumlahnya masih sedikit, namun tidak menutup kemungkinan masih ada yang akan ditemukan. “Tetap ada pengaruhnya terhadap kenaikan kasus. Karena baru 13 kasus delta yang kita temukan, tapi yang belum ketemu pasti ada, karena yang 13 kasus ini ibarat gunung esnya,” ungkapnya.

Data Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi NTB per tanggal 13 Juli 2021 terdapat kasus baru terkonfirmasi Covid-19 sebanyak 209 orang, 159 tambahan sembuh baru, dan kasus kematian baru empat orang, maka jumlah pasien positif Covid-19 di Provinsi NTB sebanyak 16.119 orang, dengan perincian 14.353 orang sudah sembuh, 624 meninggal dunia, serta 1.139 orang masih terkonfirmasi positif. Sedangkan data dari Kementerian Kesehatan merilis data 10 Provinsi dengan tingkat kematian tertinggi. NTB berada di posisi ke 6 atau 3,4 persen.

BACA JUGA :  Pasokan Telur Luar Tak Bisa Dilarang

Lebih lanjut Eka menjelaskan, varian delta yang pertama kali ditemukan di India ini, penularannya lebih cepat dibandingkan Covid-19, bahkan kecapatannya tiga kali lipat. “Dan kita tahu Delta itu yang menjadi permasalahan pada Delta adalah penyebarannya sangat cepat tiga kali lipat dari penyebaran yang biasa,” sambungnya.

Ia juga menyebutkan, pihaknya tetap mengirim sampel sampai saat ini ke Litbangkes untuk dilakukan pemeriksanan lebih lanjut apakah seseorang terserang varian baru atau tidak. Apalagi setelah adanya aturan yang dikeluarkan Litbangkes bagi pasien Covid-19 yang CT value dibawah 30 dengan ditemukan gejala-gejala yang mengarah varus delta maka pihaknya akan kirim samplenya. “Jadi setiap hari tetap ada (sampel) yang kita kirim. Cuman yang sudah keluar hanya 16 itu dengan 13 kasus yang dinyatakan positif Delta,” sebutnya.

Untuk itu, sambungnya, jika nanti NTB terjadi lonjakan kasus maka harus siap dalam mengatisipasi kemungkinan-kemungkinan terjadi. Maka saat ini pihaknya bersama dinas kesehatan sedang dalam proses pendataan rumah sakit yang nanti bisa dijadikan rumah sakit darurat. Meski saat ini juga sudah ada beberapa rumah sakit yang mengajukan diri sebagai rumah sakit rujukan untuk penanganan pasien Covid-19 tapi masih dalam proses sampai saat ini. “Jadi dalam waktu singkat ada tambahan rumah sakit rujukan dan rumah sakit darurat. Karena kalau rumah sakit darurat itu jika penuh rumah sakit rujukan maka kita harus siap rumah sakit darurat,” katanya.

BACA JUGA :  Kejati Sorot Proyek Mubazir

Apalagi, sambut Eka rumah sakit darurat di wisama Tambora ada di BPSDM yang sempat tidak digunakan sekarang ini sudah ada 70 persen terisi. “Karena sebelumnya kita optimis kasus melandai. Tapi tiba-tiba ada Delta, meski sebenarnya kasus di Indonesia punjaknya Februari lalu. Tapi datang Delta melonjak lagi kasusnya,” tuturnya.

Oleh sebab itu, untuk menjaga kesiapan ketika terjadi lonjakan kasus salah satu kesiapan yang sedang dipersiapkan dengan menambah rumah sakit rujukan dan rumah sakit darurat. Untuk tambahan rumah sakit rujukan tidak sampai 10 rumah sakit. Tapi jika ditambah dengan rumah sakit darurat hampir 10 rumah sakit tambah dari total rumah sakit rujukan di NTB sebanyak 19 rumah sakit. “Makanya kita juga sudah minta kabupaten kota untuk membuat untuk antisipasi juga, karena kita tidak boleh ngampahan (sepelekan) sekarang ini,” ucapnya.

Humas Dikes Provinsi NTB, Romy Hidaya menyebutkan, tingginya angka kasus di NTB sebenarnya dipengaruhi dengan kasus lama yang belum masuk data yang belum selesai proses update verifikasi. “Ini kasus lama yang belum direlease di all record,” ungkapnya.

Sementara saat ditanya soal apakah ada tambahan kasus varian Delta sampai sekarang, katanya, masih dikonfirmasi terlebih dahulu kepada penanggungjawab apakah ada tembahan atau tidak. (sal)