Usulan Kenaikan UMK Kota Mataram Disepakati Rp 2.685.000

UMK NAIK : UMK Kota Mataram Tahun 2024 diusulkan naik menjadi Rp 2.685.000. (Ali Ma'shum/Radar Lombok)

MATARAM – Usulan penetapan Upah Minimum Kota (UMK) Kota Mataram tahun 2024 berpeluang naik setelah disesuaikan. Dari hasil pembahasan antara Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Mataram bersama asosiasi pengusaha, asosiasi serikat pekerja dan Dewan Pengupahan Kota Mataram.

Disepakati usulan kenaikan UMK tahun 2024 naik turun naik menjadi Rp 2.685.000. “Alhamdulillah pagi ini (Jumat) sudah dilaksanakan rapat untuk penentuan UMK ya. Rapatnya dipimpin langsung oleh Pak Sekda bersama dewan pengupahan Kota Mataram. Angka yang disepakati diusulkan naik menjadi Rp 2.685.000,” ujar Kepala Disnaker Kota Mataram, H Rudy Suryawan, Jumat (24/11).

Dari pembahasan, UMK Kota Mataram diusulkan naik 3,35 persen. Jumlah ini meningkat Rp 86.921 dibandingkan UMK Tahun 2023 sebesar Rp 2.598.079. Usulan Kota Mataram ini juga jauh melebihi Upah Minimum Provinsi (UMP) NTB Tahun 2024 yang sudah ditetapkan beberapa waktu lalu sebesar Rp2.444.067. “Jadi usulan kenaikannya itu 3,35 persen. Kita juga sepakat supaya tidak kesulitan dan dibulatkan menjadi Rp 2.685.000,” katanya.

Terkait usulan Kota Mataram tertinggi di NTB, kata Rudy, belum bisa dipastikan. Karena beberapa kabupaten/kota di NTB belum menyerahkan usulan kenaikan UMK ke pemerintah provinsi. “Kita belum bisa pastikan. Nanti setelah Pak Gubernur menandatangani putusan UMK tahun 2024 baru kita bisa tahu,” ungkapnya.

Hasil rapat dan kesepakatan dengan dewan pengupahan dan pihak terkait lainnya akan diserahkan ke Wali Kota Mataram. Kemudian diarahkan ke pemerintah provinsi untuk menunggu pengesahan. “Hari ini usulannya saya ajukan ke Pak Wali Kota. Insyaallah Hari Senin baru bisa kita antar ke provinsi,” terangnya.

Perhitungan usulan kenaikan UMK mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 51 Tahun 2023 tentang pengupahan, isinya mencakup formula perhitungan baru upah minimum. Dalam pasal 26 aturan PP Nomor 51 Tahun 2023, formula perhitungan upah minimum mencakup 3 variabel. Yaitu inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan indeks tertentu. Dimana indeks tertentu ini berada dalam rentang nilai 0,10 sampai dengan 0,30. “Indeks tertentu ini didalamnya ada serapan tenaga kerja. Kita kan tahun ini Alhmdulillah mulai membaik. Jadi itu salah satu acuannya. Dari Apindo (asosiasi pengusaha) dan serikat pekerja tadi sepakat perekonomian di Mataram membaik dibandingkan tahun kemarin,” jelasnya.

Hasil rapat juga merekomendasikan perusahaan membayar gaji karyawannya sesuai dengan UMK yang ditetapkan. “Jangan sampai sudah ditetapkan tetapi tidak dijalankan. Itu tadi harapan dari serikat pekerja,” katanya.

Tetapi mengenai sentilan dari pekerja mengenai usulan kenaikan UMK yang hanya 3,35 persen. Angka masih jauh lebih bawah dengan kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang naik 8 persen. Rudy mengatakan konteks dan perhitungannya tentu berbeda. “Kalau UMK ada rumusan perhitungannya sudah ada acuannya. Kalau PNS kan dari kementrian keuangan beda acuannya,” pungkansya. (gal)

Komentar Anda