Usaha Pedepokan Pawang Selaparang Gegutu Timur Pertahankan Tradisi Peresean

Munculkan Pepadu Handal, Pertahankan Tradisi

Pedepokan Pawang Selaparang
PEPADU : Pepadu Gegutu Timur yang tergabung dalam Pawang Selaparang Gegutu Timur dalam satu pertandingan peresean belum lama ini. (IST/RADAR LOMBOK)

Peresean sudah menjadi tradisi warga Lombok. Seiring waktu tradisi ini terancam punah, namun warga Lingkungan Gegutu Timur Kelurahan Rembiga, tradisi ini tidak boleh punah.


ZULFAHMI-MATARAM


Warga Lingkungan Gegutu Timur Kelurahan Rembiga Kecamatan Selaparang Kota Mataram memang sudah sejak dulu gemar dengan peresean, olahraga yang mengandalkan kekuatan fisik yang dikolaborasikan dengan kekuatan magis. Bahkan pada masa kejayaan peresean, warga Gegutu memiliki pepadu andalan.

Kala itu beberapa nama pepadu (Petarung) yang berasal dari Gegutu dikenal dengan nama Serawah Mimbar, Siluman Penjalin, Muter Jagad. Jaka Gledek, Timbe Nuh, Ular Sanca, Jangkrik Beracun dan nama sohor lainnya pada kala itu.” Kita memiliki pepadu andalan yang sudah biasa turun pada setiap pertandingan peresean,” tutur Iskandar, pembina Padepokan Pawang Selaparang.

Seiring berjalannya waktu, para pepadu andalan tersebut kini sudah mulai tidak aktif lagi menjalankan tradisi peresean tersebut, sementara di satu sisi minat anak muda yang ada Gegutu terhadap tradisi ini cukup tinggi. Sangat disayangkan mereka yang memiliki ketertarikan untuk mempertahkan kesenian peresean ini tidak ada yang membina.

Melihat kondisi ini, para orang tua yang dulunya pernah menjadi pepadu mulai menaruh perhatian.  Pada suatu hari mereka berkumpul di salah satu tempat.”Dari pertemuan ini mereka berdiskusi sehingga mucullah nama Padepokan  Pawang Selaparang.” tuturnya.

Setelah itu resmilah berdiri padepokan ini. Pepadu yang berasal dari Kecamatan Selaparang banyak yang bergabung. Dimana dari padepokan ini banyak memunculkan pepadu yang handal. Tapi sayang padepokan ini tidak bertahan lama dan bubar beberapa tahun yang lalu.” Pawang Selaparang  bubar beberapa tahun lalu,” ujarnya.

Kini di tangan anak muda Gegutu lah peresean dibangkitkan kembali. Mereka sering menggelar kegiatan tanding antara pepadu yang ada di kampung mereka, namun kadang pertandingan juga digelar tingkat kecamatan hingga mengundang para pepadu luar wilayah Kota Mataram.” Awalnya kita hanya main tingkat kampung saja setiap kegiatan Maulid,” tuturnya.

Kini tradisi peresean setiap tahun terus dilakukan oleh anak muda. Maka sekitar 3 tahun lalu para orang tua dan anak muda sepakat untuk mendirikan padepokan yang diberi nama Padepokan Pawang Selaparang Gegutu Timur. “Pedepokan ini muncul dari kemauan anak muda yang berasal dari Gegutu Timur.” jelasnya.

Meski berdiri padepokan baru,  tetap membawa nama pawang selaparang karena nama ini adalah awal dari berdirinya padepokan ini. Saat ini ada sekitar 20 anak muda yang tergabung dalam padepokan ini, tidak hanya anak muda, para pepadu cilik juga banyak yang muncul dan dididik di padepokan ini, sehingga mereka nantinya menjadi pepadu handal yang membawa nama Gegutu Timur.” Pepadu yang kita didik mulai dari usia SD,” ungkapnya.

Dari 20 orang yang dilatih ini  mereka aktif turun  pada setiap ada pertandingan namun  dari 20 orang  ada pepadu andalan mereka sekitar 9 orang. Ia berharap kepada pemerintah untuk bisa mensuport, mulai darigendang dan baju, karena dari kegiata setiap tanding mereka biasanya urungan untuk melaksanakan kegiatan tanding peresean, dan itu membutuhkan biaya besar seperti pembelian penjalin itu berharga sampai 300 ribu  sedangkan untuk ende atau tamengnya harganya sampai Rp 1 juta.” Mudahan ada perhatian dari pemerintah untuk padepokan kami,” ungkap Iskandar.(*)