Upaya Rutan Praya Memberikan Kenyamanan Narapidana

Upaya Rutan Praya Memberikan Kenyamanan Narapidana
TANPA TERALI: Tampak di Rutan Praya sudah tidak ada lagi terali yang biasanya menjulang tinggi di depan kamar masing-masing napi. (M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

Rutan Klas IIB Praya berupaya merubah citra penjara menjadi tempat yang menyenangkan selama. Tak seperti penjara lain, di tempat ini diatur pondok pesantren yang disebut penjara tanpa terali.


M HAERUDDIN-PRAYA


KETIKA wartawan ini menyambangi Rutan Kelas IIB Praya, Selasa kemarin (15/8), tidak ada hal yang berbeda dibandingkan dengan lembaga pemasyarakatan (lapas) lainya. Namun, pandangan dan stigma negatif seramnya dunia lapas langsung hilang setelah melihat para narapidana (napi) yang begitu bebas bercengkerama dengan sesama napi lainya tanpa ada sekat yang membedakan.

Ketika biasanya, lapas dihiasi dengan terali besi di masing-masing blok atau depan kamar napi, namun di Rutan Praya dibongkar. Sehingga tampak dari dalam terlihat jika tempat tersebut bukanlah sebuah lapas, namun bagaikan pondok pesanteren yang di dalamnya terlihat banyak para warga binaan yang dengan suka ria berkumpul dan bercengkerama dengan yang lainya.

Inovasi tersebut dilakukan oleh Lalu Jumaidi yang merupakan kepala Rutan Praya. Dia melakukan semua itu sebagai bentuk kepedulianya terhadap hak-hak para napi. Karena baginya tidak semua yang ada di dalam lapas tersebut merupakan seorang penjahat. Namun, mereka hanya tersesat yang harus mendapat pembinaan. “Penjara tanpa jeruji ini kita buat agar para warga binaan tidak merasa stres dan bisa berinteraksi dengan penghuni lainya,” ujarnya Senin kemarin (14/8).

Di dalam lapas tersebut, bahkan para napi bisa begitu mudah berdiskusi antara blok satu dengan blok yang lain. Jiwa persahabatan di antara mereka juga sangat erat, karena bisa saling mengenal antara yang satu dengan yang lainya. “Kalau sudah akrab sehingga mereka tidak merasa jenuh dengan keadaan yang ada di dalam,” ujarnya.

Selain menghilangkan terali yang ada di lapas itu, pihaknya juga menata tempat tersebut dengan keseluruhan depan blok, dihiasi dengan tanaman bunga. Dit empat itu juga disediakan fasilitas untuk taman duduk serta banyak perubahan yang tidak akan bisa ditemukan jika berkunjung di lapas lain. ‘’Ini sebagai salah satu pola untuk mengubah stigma bahwa penjara bukan menyeramkan tapi sebagai wadah untuk membina,” katanya.

Dengan pola yang dilakukan saat ini, pihaknya tidak ada sedikitpun rasa ketakutan akan kaburnya para napi. Karena di masing-masing penjuru sudah disediakan masing-masing petugas untuk memonitor para napi itu. ‘’Kita jadikan kayak ponpes yang kita bisa melihat aktivitas keseharianya dengan beribadah, namun tetap ada pengawalan,” tambahnya.

Kini, dil apas yang dipimpinya sudah terisi 397 orang napi yang idealnya sebenarnya diperuntukan untuk 97 napi. Namun untuk memberikan rasa nyaman kepada para napi, bahkan semua ditata dengan baik dan rapi. “Bahkan untuk tahanan wanita kita tempatkan di rumah yang semulanya di tempat kantor para anggota,” paparnya.

Namun, dirinya berharap adanya anggaran untuk perbaikan lapas tersebut, terlebih jika lapas tersebut banyak bangunanya yang sudah hampir rapuh dikarenakan jika bangunan itu sudah terlalu lama. “Bangunan ini sebenarnya bekas bangunan Belanda, dan kita sulap sebagus mungkin kayak ponpes agar para warga binaan merasa nyaman,” pungkasnya. (**)