UPAYA DESA KARANG BONGKOT SUKSESKAN “NTB GEMILANG”

ZULKIFLI/RADAR LOMBOK Pengurus Bank Sampah Lelede, Abdul Hamid mempraktikkan cara penggunaan tong komposter untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk cair kepada peserta di Kantor Desa Karang Bongkot, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, Sabtu (26/10/2019).

Dukung Revitalisasi Posyandu dan Zero Waste

Desa Karang Bongkot, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat siap menyukseskan visi “NTB Gemilang” yang digagas Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah. Langkah menyukseskan itu dituangkan dalam APBDes 2019 dan kini tengah dilaksanakan.

ZULKIFLI-GIRI MENANG

Visi “NTB Gemilang” terdiri dari berbagai program strategis. Di antaranya revitalisasi posyandu dan zero waste atau bersih dari sampah.

Untuk mendukung program tersebut, Kepala Desa Karang Bongkot H Saimi bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Karang Bongkot, sepakat menganggarkan progam revitalisasi posyandu dan program pengolahan sampah dan itu dituangkan dalam APBDes 2019. Bahkan untuk posyandu sendiri, anggarannya ditingkatkan dari tahun sebelumnya.

Berdasarkan data di APBDes Karang Bongkot, pada 2018 diketahui anggaran pendamping makanan tambahan (PMT) posyandu balita Rp 18.192.000,- dengan sasaran 758 balita. Tahun 2019 anggaran PMT meningkat menjadi Rp 29.916.000,- dengan sasaran 831 balita. Pada 2018 diketahui juga, PMT posyandu lanjut usia (lansia) anggarannya Rp 4.050.000,-, meningkat pada 2019 menjadi Rp 30.000.000,-.

Kemudian pada 2018, itu tidak dianggarkan PMT balita garis merah (BGM)/stunting, sementara 2019 dianggarkan Rp 9.450.000,- untuk 25 balita.

Pada 2018, diadakan peralatan segitiga posyandu 11 unit untuk masing-masing posyandu balita. Total ada 11 posyandu balita di empat dusun (Dusun Karang Bongkot, Perampuan Desa, Nyamarai, dan Perampuan Timur). Harga satuan segitiga posyandu Rp 400.000,-, dengan total anggaran Rp 4.400.000,-. Pada 2019 kembali dilakukan pengadaan peralatan posyandu berupa kaki timbangan segitiga 11 unit, harga satuan Rp 500.000,- sehingga total Rp 5.500.000,-. Serta learn board 11 unit dengan harga satuan Rp 700.000,- sehingga total Rp 7.700.000,-.

Selain peningkatan anggaran PMT dan peralatan posyandu, insentif kader posyandu balita juga ditingkatkan. Pada 2018, ketua hanya mendapat Rp 35.000,-/bulan, sekretaris Rp 30.000,-/bulan, bendahara Rp 25.000,-/bulan, dan anggota Rp 20.000,-/bulan. Sementara 2019, ketua Rp 125.000,-/bulan, sekretaris Rp 115.000,-/bulan, bendahara 110.000,-/bulan, dan anggota Rp 100.000,-/bulan.

Insentif kader lansia juga meningkat. Pada 2018, ketua Rp 35.000,-/bulan, sekretaris Rp 30.000,-/bulan, bendahara Rp 25.000,-/bulan, dan anggota Rp 20.000,-/bulan. Sementara 2019, ketua Rp 100.000,-/bulan, sekretaris Rp 85.000,-/bulan, bendahara Rp 75.000,-/bulan, dan anggota Rp 70.000,-/bulan.

Selain itu, insentif pendamping posyandu juga meningkat, pada 2018 hanya dapat Rp 40.000,-/bulan, sementara 2019 Rp 100.000/bulan.

Pada 2019, para kader posyandu ini juga mendapatkan peningkatan kapasitas. Itu dianggarkan Rp 5.593.000,-. Adapun untuk fisik, tahun ini dianggarkan Bale Posyandu BTN BHP di Dusun Karang Bongkot senilai Rp 59.851.900,-.

Kemudian tahun ini juga sudah terbentuk posyandu remaja yang menyasar remaja umur 10-18 tahun. Di posyandu ini, remaja mendapatkan pemeriksaan kesehatan, edukasi gerakan anti-merariq kodeq (gamak), edukasi bahaya narkoba, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan kesehatan remaja.

Kepala Desa Karang Bongkot H Saimi mengatakan, posyandu mungkin terlihat remeh untuk sebagian orang, tetapi manfaatnya luar biasa untuk masyarakat. Di antaranya meningkatkan kesehatan masyarakat dan mendeteksi dini penyakit atau kelainan tumbuh kembang balita, sehingga dapat mencegah stunting. Serta mengidentifikasi permasalahan dan kesehatan remaja. Untuk itu ia bersama BPD sangat mendukung revitalisasi posyandu. “Kita sangat mendukung upaya revitalisasi posyandu ini. Secara bertahap kita akan terus tingkatkan sasaran dan peralatan pendukungnya. Termasuk juga kapasitas kader. Kita tetap berkoordinasi dengan Puskesmas Perampuan,” terangnya.

Sementara untuk zero waste, Desa Karang Bongkot memiliki tantangan tersendiri. Dengan jumlah penduduk 8.919 jiwa, dalam sehari dihasilkan sekitar 6,2 ton sampah per hari (asumsi 1 jiwa menghasilkan 0,7 kg sampah per hari).

Desa Karang Bongkot memiliki empat armada sampah roda tiga. Armada ini bergerak setiap hari ke rumah-rumah warga untuk mengambil sampah, kemudian dibuang ke TPA Kebon Kongok di Desa Suka Makmur, Kecamatan Gerung, Lombok Barat. Jemput sampah ini cukup efektif, tetapi belum bisa menjangkau semua warga dan belum menuntaskan persoalan sampah. Tak jarang, masih ada warga yang membuang di kali. Belum lagi dengan wacana akan dipindahkannya TPA Kebon Kongok ke tempat yang dipersiapkan di Kecamatan Kuripan, Lombok Barat.

Jika selama ini armada sampah menempuh jarak sekitar 4,3 km ke TPA Kebon Kongok, nanti menjadi sekitar 11 km. Jelas akan menambah beban kendaraan roda tiga pengangkut sampah, sehingga rentan rusak. “Untuk itu kita memerlukan metode lain untuk mengurus sampah. Tahap awal kita programkan pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga. Sampah dipilah. Mana yang tak bisa dimanfaatkan, itu dibuang ke TPA. Kita juga akan programkan bank sampah,” jelasnya.

Pelatihan pengolahan sampah organik ini dilakukan Sabtu (26/10/2019) lalu, bekerja sama dengan Bank Sampah Karomah Desa Bagek Polak, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat dan Bank Sampah Lelede, Kecamatan Kediri, Lombok Barat. Peserta pelatihan 40 orang dari petugas sampah, unsur perangkat desa, karang taruna, PKK, kader posyandu, dan tokoh masyarakat setempat.

Metode pengolahan sampah organik ini menerapkan sistem tong komposter (ukuran 120 liter). Sampah dimasukkan ke dalam tong komposter kemudian disiramkan cairan bioaktivator, lalu ditutup rapat. Sekitar satu sampai dua minggu, cairan berwarna hitam pekat akan keluar dari selang transparan di bagian bawah tong.

Cairan bisa dimanfaatkan untuk pupuk organik. Tetapi penggunaannya tidak bisa langsung disiram ke tanaman. “Dicampurkan dulu dengan air. Satu berbanding 10. Satu pupuk cair, dan 10 air,” ujar Pengurus Bank Sampah “Karomah” Siti Mutmainnah saat melatih peserta.

Untuk pembuatan cairan bioaktivator, itu cukup mudah. Bahan-bahanya, gula jawa 3 kg, bonggol pisang 1 kg, air cucian beras 15 liter, air kelapa 10 liter, 3 buah nanas, 10 botol minuman Yakult, jeruk manis 1 kg, dan 3 biji ragi tape.

Pembuatannya, gula dan bonggol pisang dihaluskan, kemudian nanas dan jeruk dipotong-potong. Kemudian masukkan semua bahan ke dalam wadah yang dipersiapkan bersama air cucian beras, air kelapa, Yakult dan ragi tape. Lalu tutup rapat dan tunggu selama satu sampai dua hari untuk fermentasi. Setelah itu cairan bioaktivator siap digunakan. “Tong komposter ini hitungannya bila digunakan oleh satu keluarga, itu bisa untuk sampah organik rumah tangga selama setahun. Setelah penuh, nanti bisa dikeluarkan, dan itu menjadi pupuk organik juga,” jelasnya.

Metode ini kata dia bisa langsung diterapkan selesai pelatihan kemudian disebarluaskan ke masyarakat, karena pihak Pemerintah Desa Karang Bongkot menganggarkan pengadaan 15 tong komposter (pagu anggaran 1 tong komposter Rp 700.000,- termasuk pajak) untuk digunakan.

Kemudian Mutmainnah berharap, bank sampah di Desa Karang Bongkot bisa segera terbentuk. Pihaknya siap membantu untuk pembinaan, tidak terbatas pada pengolahan sampah dengan sistem tong komposter, bisa juga dengan sistem takakura sehingga menghasilkan pupuk organik yang bisa di-packing atau dibungkus, lalu dijual. “Kita juga siap membantu mengolah sampah untuk beragam kerajinan tangan. Kalau bukan kita yang peduli dengan sampah, siapa lagi,” pungkasnya. (*)