Unram Kenalkan Cara Deteksi Boraks dan Formalin

DETEKSI PANGAN: Rektor Unram, Prof. H. Sunarpi, dan Dekan Fatepa Unram, Prof. Dr. Sri Widyastuti, bersama masyarakat Dusun Kerujuk, saat mengajarkan masyarakat cara mendeteksi makanan mengandung boraks dan formalin (LUKMAN HAKIM/RADAR LOMBOK)

TANJUNG—Masyarakat belakangan kerap diresahkan dengan hadirnya bahan-bahan pangan berbahaya yang beredar luas, salah satunya dalam bentuk makanan berformalin ataupun mengandung boraks.

Tim Dosen Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram merasa masyarakat perlu dilatih untuk mengenal dan mendeteksi jenis-jenis makanan berbahaya agar tidak dikonsumsi.

Dekan Fatepa Unram, Prof. Sri Widyastuti mengatakan jika selama ini masyarakat sebagian besar masih awam terkait cara untuk mengetahui makanan yang sudah terkontaminasi terkena zat berbahaya seperti boraks dan kandungan formalin yang merusak kesehatan tubuh manusia.

Karena itu, Unram dalam hal ini Fatepa menilai sangat penting memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat untuk menghindari konsumsi makanan yang mengandung zat berbahaya seperti boraks dan formalin.

“Deteksi bahan pangan yang terkontaminasi boraks atau formalin ini perlu dan penting diketahui oleh masyarakat luas,” kata Prof. Sri Widyastuti dihadapan puluhan warga masyarakat Dusun Kerujuk, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara sebagai rangkaian kegiatan Dies Natalies Unram ke-54.

Pada kesempatan tersebut, masyarakat diajarkan cara mudah dan murah mendeteksi makanan yang tekontaminasi bahan-bahan berbahaya. Caranya menggunakan stik yang dicelupkan ke kunyit segar telah dihaluskan.

Kemudian, stik tersebut dicelupkan ke bahan makanan. Bila warna stik berubah warna menjadi merah, maka makanan tersebut teridentifikasi mengandung boraks dan jika berwarna ungu teridentifikasi mengandung bahan pengawet formalin. “Masyarakat jadi bisa mengenal bahan makanan yang aman dikonsumsi,” ujar Prof. Ir. Sri Widyastuti.

Selain itu, tim Fatepa juga memberikan pelatihan pengolahan dan peningkatan mutu nira. Dosen Fatepa, Dr. Zainuri mengemukakan bahwa ketahanan nira atau tuak manis mentah sangat terbatas,yakni  kurang dari 12 jam.

Nira (tuak manis) bisa diolah hingga bisa bertahan lebih lama. Proses pengolahannya pun cukup sederhana. Nira bisa dicampur dengan gula manis, jahe, dan bensoat, kemudian dimasak hingga mendidih dan disterilisasi serta dikemas dalam bentuk botolan.

Bisa bertahan seminggu di luar, atau sebulan di dalam (pendingin-red). Agenda terakhir yang dilakukan adalah teknik pengolahan empon-empon. Masyarakat diajarkan cara mengelola empon-empon secara instan. “Bagaimana kita bisa makan yang aman baik secara hukum syar’i maupun kesehatan. Jadi tidak hanya halal tapi makanan yang toyyibah,” ujarnya. (luk)