Dari Uniti College Menuju Negeri Melaka

WISATAWAN : Rombongan wisatawan China saat berfoto di salah satu sudut Masjid Selat Malaka. Masjid ini menjadi salah satu objek wisata terkenal di Malaysia (Rasinah Abdul Igit/Radar Lombok)

Malaysia cukup sukses menjajakan diri sebagai “The Truly Asia”. Sebagai “Sebenar-benar Asia,” negara ini memberikan layanan terbaik untuk turis, terutama yang berasal dari negara-negara muslim. 

 

 


Rasinah Abdul Igit- Kuala Lumpur


 

Gedung Uniti Group berdiri megah di jantung Kota Kuala Lumpur. Gedungnya dekat dengan Menara Kembar Petronas yang menjadi kebanggaan warga Malaysia.  Pertemuan dilangsungkan sekitar pukul 17.00 waktu setempat antara rombongan direct promotion pariwisata Lombok Barat dengan pihak Uniti College, salah satu politeknik swasta yang menjadi salah satu badan usaha Uniti Group (UG). Presiden UG, Datoq Jamal Bin Amin bersama jajarannya menyambut dengan hangat. “ Saya akan balas kunjungan ini pada Januari mendatang,” ungkapnya.

Uniti College mengklaim diri sebagai perguruan tinggi yang punya kurikulum Halal Tourism terbaik di dunia. Dari data yang disampaikan, mahasiswanya berasal dari berbagai negara terutama negara-negara muslim, ada juga yang dari negara non muslim. “ Kami lebih ke konsep moslem friendly tourism. Dan pasar kita sangat-sangat besar,” ungkapnya.

Angka kunjungan wisatawan asing ke Malaysia dalam beberapa tahun terakhir rata-rata lebih dari 24 juta jiwa. Wisatawan terbanyak berasal dari Singapura, lalu disusul Indonesia, Thailand dan China. Tidak heran jika di sejumlah objek wisata yang sempat dikunjungi rombongan, wisatawan dari empat negara tersebut di atas mendominasi.

Kata Jamal, Halal Tourism yang menjadikan angka kunjungan wisatawan ke Malaysia terus naik. Malaysia menjadi tujuan utama turis asal Timur Tengah. Sebagai contoh, mereka nyaman ke Malaysia karena dengan mudah menemukan restoran yang menyediakan makanan halal. Halal juga menjadi acuan wisatawan asing yang non muslim. Sebab halal berarti juga bersih dan aman bagi kesehatan. Hotel-hotelnya menyediakan fasilitas-fasilitas bagi tamu muslim mulai dari tempat salat yang memadai dan lain-lain. Uniti College punya kurikulum Halal Tourism yang terintegrasi dengan misi kepariwisataan Malaysia. Sebagai contoh, politeknik ini melakukan kerjasama-kerjasama dengan rumah makan-rumah makan besar dalam hal pelatihan SDM, pendampingan konsep halal, dan lain-lain.

Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat Ispan Junaidi menyampaikan rencana besar kerja sama dengan Uniti College. Ini sejalan dengan posisi NTB yang memilih mengembangkan Pariwisata Halal yang sudah berjalan sejak beberapa tahun terakhir. Lombok Barat sendiri memproyeksikan wilayah Sekotong sebagai brand Pariwisata Halal-nya. Jamal berjanji akan melakukan kunjungan balasan ke Lombok pada bulan Januari mendatang. Ia akan melihat potensi pariwisata Lombok yang bisa dieksplor oleh perusahaannya. Ada juga rencana penyelenggaraan seminar internasional Pariwisata Halal dimana pihak Uniti College akan tampil sebagai pembicara utama.  

Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) NTB H. Ainuddin SH, MH mengatakan, ilmu yang dimiliki Malaysia yang berkaitan dengan Halal Tourism penting dipelajari. Dari perjalanan ini ia mengambil tiga pelajaran penting masing-masing manajemen, pelayanan (service) dan produk makanan. Seorang guide, kata Ainuddin, harus punya pengetahuan memadai tentang Halal Tourism yang terangkum dalam 3 hal diatas yakni manajemen, pelayanan dan produk makanan. Misalnya saja, guide mengingatkan turis tentang tibanya waktu salat. Halal Tourism juga kata Ainuddin, harus dipahami dengan benar oleh perusahaan travel yang walaupun pemiliknya non muslim. “ Bagi saya manajemen halal itu manajemen kejujuran. Mengelola usaha wisata dengan jujur. Misalnya guide-nya dibayar sesuai dengan ketentuan, travel membayar pajak dengan taat. Itu semua manajemen halal, manajemen kejujuran. Jadi bukan simbol-simbol semata,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Sajim Gerilya Raih Dukungan Parpol

Minggu (18/12), ada perjalanan sekitar 3 jam dari Kuala Lumpur menuju Malaka. Siapa yang tidak kenal Malaka, selat yang tersibuk dan terpadat di dunia seperti Terusan Suez atau Terusan Panama. Selat ini menjadi penghubung antar negara Malaysia, Thailand, Indonesia, Singapura, India, Tiongkok dan lain-lain. Berdasarkan data Wikipedia, ada sekitar 500 ribu lebih kapal penunjang ekonomi dunia yang melintasi selat ini. Luar biasa strategis selat ini.

Malaka adalah kota tua. Suasana lampau terasa saat melintasi bangunan-bangunannya begitu memasuki gerbang perbatasan. Di Malaka ada masjid unik yang berdiri megah di pinggir laut. Orang menamakannya Masjid Terapung Selat Malaka. Sebagian besar badan masjid memang berada di atas laut.  Masuk halaman masjid lalu belok kiri, ada prasasti yang menerangkan status Malaka sebagai jalur perdagangan dunia. Setelah menunaikan ibadah, pengunjung langsung bisa menikmati lalu-lalang kapal lewat pintu masjid yang menghadap laut. Masjid ini merupakan tempat singgah wajib bagi mereka yang memang sengaja berlibur ke Malaka, atau mereka yang ke Johor maupun yang hendak menuju Singapura via darat.

Masjid ini merupakan objek wisata terkenal. Di pinggir jalan depan masjid banyak parkir bus wisata yang mengangkut wisatawan. Kebanyakan turis China. Meski non muslim, mereka diizinkan masuk oleh pengelola masjid. Syaratnya, mereka mengganti pakaian dengan pakaian sopan yang menutup aurat. Pemandu lalu membimbing mereka ke dalam, menikmati setiap sudut masjid yang indah. Ada beberapa turis yang memotret pengunjung lain yang sedang salat berjamaah. Turis juga bisa ikut berpartisipasi menyumbang dana untuk kegiatan syiar Islam. Petugas akan membagikan brosur donasi begitu mereka keluar dari areal masjid. “ Kita bisa kayak begini. Masjid kita banyak, indah-indah, bisa jadi jualan kita,” ungkap Muhammad Nursandi, anggota Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPBD) NTB mengomentari soal masjid ini.

Lombok dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid. Ada banyak masjid yang juga punya bangunan yang indah. Sebut saja masjid di Dasan Cermen Mataram, Masjid Agung di Selong Lombok Timur, Masjid Agung Praya Lombok Tengah, dan yang terbaru tentu saja masjid komplek Islamic Center (IC) di Kota Mataram. Harus diakui masjid-masjid yang ada belum sepenuhnya menyatu dalam konsep pariwisata daerah. “ Masalahnya memang begitu. Masih ada yang bilang masjid tidak boleh dimasuki oleh turis, bule,” ungkapnya.(bersambung)