UMKM Mulai Merasakan Dampak Kenaikan Harga BBM

HARGA NAIK : Pengusaha rumah makan di Kota Mataram keluhkan kenaikan BBM, karena berdampak pada penjualannya. (RATNA / RADAR LOMBOK)

MATARAM – Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mulai mengeluhkan kenaikan harga BBM. Apalagi kenaikan harga BBM yang mencapai 30 persen, berdampak pada harga bahan pokok yang mahal, sehingga dikhawatirkan produksi UMKM banyak terhenti.

“Jangankan sekarang BBM naik, sebelumnya saat pandemi Covid-19 melanda sudah banyak yang tidak berjualan karena produksi terhenti. Apalagi sekarang tentu akan menambah pengangguran. Akibatnya kemiskinan semakin meningkat,” ungkap Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Provinsi NTB Hj Baiq Diyah Ratu Ganefi, Rabu (7/9).

Keresahan pelaku usaha kecil, sambung Diyah bukan tanpa alasan. Mengingat BBM merupakan instrumen penting dalam semua sektor. Misalnya, saat BBM naik transportasi juga ikut naik, kemudian bahan baku juga naik karena transportasi naik. Artinya semua instrumen ini akan saling keterkaitan.

Belum lagi dampak Covid-19 terhadap dunia usaha belum sepenuhnya tercover. Di mana perekonomian NTB baru saja mulai bangkit, maka adanya kenaikan harga BBM ini tak ayal dapat menghambat roda perekonomian masyarakat kecil, terutama pelaku usaha kecil.

“Apa sih salahnya kita di Indonesia kok begitu tinggi naiknya BBM ini, kan berdampak pada semua. Jangan tiba-tiba menaikkan harga lalu masyarakat yang menjadi kesulitan. Pemerintah ini tidak mendengarkan secara langsung keresahan UMKM,” sesalnya.

Baca Juga :  Pariwisata Halal NTB Kembali Digaungkan

Dampak yang paling terasa, lanjut Diyah pelaku usaha di bidang kuliner. Mengingat sebagian besar bahan baku yang mereka gunakan adalah bahan-bahan pokok yang berpotensi mengalami kenaikan akibat harga BBM naik. Sementara untuk mensiasati agar usaha yang mereka jalankan tetap bertahan bahkan meraup keuntungan, pelaku usaha merasa sulit jika harus mengecilkan ukuran produk maupun menaikkan harga. Karena konsekuensinya konsumen mereka akan lari alias enggan membeli.

“Di satu sisi mau mengecilkan produk tidak enak. Mau menetapkan ukuran tapi harga semua barang sudah naik. Inilah seharusnya pemerintah memikirkan masyarakat paling bawah,” tandasnya.

Adapun dalih Pemerintah menaikkan harga BBM adalah untuk realokasikan anggaran subsidi BBM yang membengkak kepada masyarakat melalui kompensasi sebesar Rp 600 ribu selama 4 bulan, dinilai kurang tepat dan bukan solusi yang bijak. Karena sifatnya hanya jangka pendek, sementara dampak kenaikan BBM akan berkepanjangan. Hal demikian sudah sering terjadi sejak kenaikan-kenaikan BBM tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Daihatsu Berikan Tips Berkendara Aman Lewat Auto Clinic di Bandung

“Dampak kenaikan harga BBM ini luar biasa walaupun nanti ada kompensasi. Masyarakat berjuang sendiri dan bekerja sendiri. Pemerintah jangan hanya melihat tetapi coba turun langsung ke lapangan. Bayangin dikasi Rp 600 ribu hanya hari itu saja yang hanya cukup untuk beli beras satu bulan selesai,” ucapnya.

Keresahan yang sama disampaikan pelaku usaha warung makan, Baiq Dewi Aryani mengaku terpaksa menaikkan harga menu makan di warung miliknya uai pemerintah menaikkan harga BBM jenis pertalite, pertamax dan solar.

“Kalau porsinya kita kurangi, kelihatan sedikit sekali dipiring. Apalagi pelanggan kita banyak mahasiswa. Tidak enak kita jualan, makanya harganya saja naik Rp 1000 – Rp 2000 per porsi,” sebutnya.

Kenaikan harga makanan ini dilakukan untuk menyesuaikan kenaikan harga bahan pokok yang terjadi di Pasaran. Meski kecil, setidaknya ada keuntungan yang didapat . Sekaligus menghindari supaya warungnya tidak mengalami kerugian besar.

“Mau dak mau memang naik semua barang, yang kita takutkan juga harga sewa lokal naik, listrik naik,” singkatnya. (cr-rat)

Komentar Anda