UMK Kota Mataram Naik 10 Persen

PEKERJA: Upah Minimum Kota (UMK) Mataram tahun 2022 mendatang, sebesar Rp 2.416.000, atau naik 10 persen. Tampak para pekerja sedang beraktifitas. (ALI/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Mataram menetapkan kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) Mataram sebesar Rp 2.416.000 untuk tahun 2022 mendatang. UMK naik 10 persen dari tahun sebelumnya sebesar Rp 2.184.385. Sehingga kenaikannya dari tahun lalu sebesar Rp 231.615.

Sementara Upah Minimum Provinsi (UPM) NTB tahun depan sebesar Rp 2.2017.212. “Sudah ditetapkan usulan kenaikan UMK tahun depan jadi Rp 2.416.000. Kenaikannya sekitar 10 persen,” ujar Kepala Disnaker Kota Mataram, H Rudi Suryawan di Mataram, kemarin (26/11).

Selanjutnya usulan kenaikan tersebut ditandatangan Wali Kota Mataram untuk diserahkan ke Gubernur NTB. Nantinya Gubernur yang akan mengesahkan kenaikan UMK Kota Mataram tahun 2022 tersebut. “Kita ajukan ke Gubernur untuk disahkan. Nanti hari Senin diumumkan secara resmi,” katanya.

Sebelumnya, kenaikan UMK Mataram tahun 2022 sudah ditetapkan dalam rapat dengan menghadirkan sejumlah pihak terkait. Diantaranya dewan pengupahan Kota Mataram, asosiasi pengusaha, serikat pekerja dan sejumlah pihak terkait lainnya. Lalu diputuskan kenaikan UMK Mataram sebesar Rp Rp 2.416.000. “Rapat bersama dewan pengupahan dan lainnya sudah kita laksanakan hari Rabu kemarin. Ini hasilnya penetapan UMK tahun 2022,” ungkapnya.

BACA JUGA :  IAIN Mataram Buka Prodi Pariwisata Syariah

Proses pengusulan UMK disebutnya sudah sesuai ketentuan. Yakni menggunakan batas bawah usulan. Karena saat ini formulasi pengusulan dan kriterianya sudah jelas. Aturannya tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 tentang pengupahan. “Itu sudah jelas aturan ketentuannya di sana. Tidak boleh diatasnya batas atas dan tidak boleh dibawahnya batas bawah. Ya kita mengambil batas bawah Rp 2.416.000 itu,” terangnya.

Kenaikan UMK ini lebih dari prediksi Disnaker sebelumnya. Karena sebelumnya, Disnaker menyebut potensi kenaikan UMK tidak lebih dari 3 persen. Tapi dari pembahasan dewan pengupahan dengan pihak terkait. UMK Mataram ditetapkan naik 10 persen atau senilai Rp 2.416.000. “Makanya sekarang kita mau ajukan ke provinsi. Nanti penetapannya oleh provinsi,” jelasnya.

Penetapan UMK disebutnya sudah tuntas. Proses pembahasannya pun disebut berjalan lancar. Karena saat ini aturan dan ketentuannya sudah jelas. “Tidak ada debat. Semuanya lancar. Nanti tinggal kita sosialisasikan supaya pengusaha menggunakan UMK ini tahun depan di perusahaan dan lainnya,” terangnya.

BACA JUGA :  Pengurus MUI Kecamatan Dilantik

Rudi memastikan, UMK Rp 2.416.000 tersebut berlaku untuk pekerja dengan masa kerja minimal 1 tahun. Sedangkan pekerja dengan masa kerja di atas 1 tahun dengan pendapatan atau gaji yang lebih tinggi.

“Artinya ini untuk karyawan baru yang masa kerjanya minimal 1 tahun. Kalau sudah di atas 1 tahun dia pake struktur upah nanti. Lebih tinggi dia. UMK ini jadi acuan pekerja yang baru-baru masuk itu. Jadi dia harus menerima upah sebesar ini,” jelasnya.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Mataram, Nyanyu Ernawati mengatakan, cukup mengapresiasi kenaikan UMK Mataram tahun 2022. Karena ada peningkatan dan sudah melalui proses cukup panjang. “Ketika ini ditetapkan saya berharap semua pihak untuk melaksanakannya. Karena kasihan juga saudara kita kalau tidak menerima sebesar itu. Jadi itu harus dikawal juga sudah sesuai tidak yang diterima,” katanya. (gal)