Uji Nyali, Dua Pemuda Terseret Arus Sungai

Dua Pemuda Terseret Arus Sungai
PENCARIAN : Tim Gabungan bersama masyarakat terus berupaya mencari tubuh korban yang terhanyut di Lokok Segara Todo. (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

TANJUNG – Keberanian Munawir mengadu nyali bersama teman-temannya ternyata membawa petaka baginya.

Pemuda 22 tahun asal Dusun Todo Lendang Gala Desa Bentek Kecamatan Gangga, terbawa arus ketika mandi di sungai Segara sekitar pukul 17.30 Wita, Sabtu lalu (27/1). Waktu kejadian, Munawir mandi bersama tujuh teman sebayanya sehabis bekerja mengangkut pasir sore itu. Yaitu, Juanda, Riki, Roni, Ali, Kambut, dan Gibran.

Waktu itu menjelang Magrib. Intensitas hujan cukup lebat sore itu. Dan, arus sungai pun sangat deras. Munawir bersama teman-temannya langsung menceburkan diri ke sungai begitu tiba. Tetapi, hanya dia sendiri yang berani ke tengah menacoba adu nyali menantang arus. Sementara teman-temannya tak ada yang berani ke tengah. Mereka hanya mandi seadanya di pinggir sungai mengingat arusnya sangat deras.

Setelah sampai ke tengah sungai, Munawir sempat menantang teman-temannya adu nyali melawan arus. Tapi, arus deras sungai sepertinya meladeni tantangan Munawir. Tubuh pemuda itupun seperti diseruduk hingga akhirnya terpontang-panting dikerubungi arus. Melihat kejadian itu, Juanda yang awalnya merasa nyalinya tertantang akhirnya ikut berenang melawan arus.

BACA JUGA :  Kantor Desa Kembang Kerang Terbakar, Diduga Ada Unsur Kesengajaan

Namun, tubuh pemuda itu juga ikut terseret arus begitu sampai di tengah sungai. Sekitar satu menit berenang, tubuh kedua pemuda itupun  hanyut dan terbentur dam pembatas air (dam pembagian air). Keduanya langsung pingsan, lalu terseret air sungai yang deras sekitar 500 meter. “Munawir terbawa arus sekitar 500 meter dan Juanda sekitar 100 meter terbawa arus ke bawah dengan ketinggian tiga meter,” tutur saksi mata Gibran kepada Radar Lombok, Minggu kemarin (28/1).

Saat kejadian, lanjut Gibran, korban hampir tiga kali berusaha berenang ke tepi sungai. Tapi gagal karena derasnya arus yang menyeret tubuhnya. Setelah menyadari kejadian itu, Gibran bersama empat teman lainnya kemudian mencoba berlari lewat pinggir sungai. Dengan spontan, mereka berbagi tugas menyelematkan korban. Gibran sendiri kemudian berhasil menyelematkan Juanda dengan menarik tangannya. Waktu itu, tubuh Juanda sempat terbentur ke batu hingga akhirnya bisa tertolong.

Sedangkan Munawir yang masih dalam keadaan pingsan tidak terlihat mengapung. Baru muncul tiba-tiba ketika tubuhnya sempat tersangkut di sebongkah batu besar. Melihat tubuh Munawir, Roni kemudian berlari menarik tangan temannya. Tapi tubuh Munawir kembali terlepas karena derasnya air yang menghanyutkan tubuhnya. “Tubuh korban besar dan arus deras membuat Roni tidak mampu menyelamatkannya,’’ ujarnya.

Sebelum mandi, lanjut Gibran, dia sudah menyarankan kepada Munawir agar jangan mandi di sana karena arusnya deras, tapi korban mengacuhkannya. Karena waktu itu, arus sungai itu memang deras dan lebih besar dibandingkan hari kemarin. Bahkan, Gibran yang mencoba mandi pertama merasa lemas dan tidak kuat menahan arus. Karenanya, Gibran memberitahukan teman-temannya.

Setelah korban terhanyut, temannya lain mencari bantuan masyarakat dan melakukan pencarian menyisir sungai tapi belum bisa ditemukan. “Sampai sekarang belum bisa temukan korban,” ratapnya.

Ditambahkan kakak korban Hendrayadi, sudah ada firasat korban akan tewas tenggelam. Firasat pertama, perut di bawah pusarnya bergetar selesai salat. Kemudian mimpi menemukan sandal di sungai dalam keadaan terisi karung. Dan, korban makan mi instan kedaluwarsa per tanggal 27 Januari 2018. “Firasat-firasat ini saya kira saya sendiri yang akan mati. Tapi, saya juga sering ingatkan adik saya untuk berhati-hati,” tuturnya.

Hendra bertutur, korban ini merupakan anak ketiga dari empat bersaudara yang merupakan anak pasangan Setriadi dan Marni. Kondisi bapak korban dalam kondisi sakit lumpuh. “Kami berharap korban bisa ditemukan, kami sudah ikhlas menerima korban,” harapnya sedih.

Soalnya, korban belum ditemukan hingga Minggu kemarin sejak hanyut Sabtu lalu. Tim penyelamat sendiri sudah diterjunkan sejak kejadian. Mulai dari Tagana Dinsos PPPA Lombok Utara, tim Sar Mataram, BPBD, kepolisian, TNI, dan Mapala. Namun, hingga kemarin korban belum ditemukan. “Kita terus berupaya mencari korban dengan menyasar dari atas terakhir korban terbawa hingga ke hulu,” ungkap Petugas Tagana  Dinsos PPPA Lombok Utara Lalu Saparudin, kemarin.

Kepala BPBD Lombok Utara Iwan Maret Asmara yang dikonfirmasi terpisah menuturkan hal sama dengan Gibran. Bahwa, BPBD menerima laporan beberapa jam setelah korban hanyut. Pihaknya langsung menerjunkan TRC BPBD, Tagana, SAR Mataram, dan warga hingga Sabtu malam, namun korban belum ditemukan. Pencarian pun dihentikan karena air sangat keruh dan arusnya deras akibat hujan deras di hulu sungai. “Ada 50 personel gabungan yang ikut mencari. Pencarian dihentikan pada Sabtu malam sekitar pukul 22.30 Wita karena kondisi tidak memungkinkan, kemudian dilanjutkan Minggu pagi,” katanya.

BACA JUGA :  Jalan ke Sembalun Lombok Timur Masih Ditutup

Hingga Minggu pagi kemarin, lanjut Iwan, Munawir juga belum ditemukan. Pencarian sudah dimulai sejak pukul 07.00 Wita. Kondisi air di Sungai Segara pun masih cukup deras. ‘’Kita masih penyisiran di lokasi bersama tim gabungan,” tambahnya.

Humas Kantor SAR Mataram I Gusti Lanang Wisnunanda yang dihubungi terpisah juga menambahkan, timnya yang berada di Bangsal Pemenang langsung turun mencari saat mendapatkan laporan malam itu. Pihaknya kemudian menerjunkan personel tambahan dari Mataram. Untuk pencarian kemarin dibagi menjadi dua tim. Satu tim menyisir menggunakan rafting hingga ke muara pantai. Sedangkan satu tim lagi menyisir aliran sungai dan bebatuan. ‘’Kita lakukan pencarian hingga radius empat kilometer dari lokasi awal korban hanyut, tapi sampai Minggu sore masih belum bisa ditemukan,” katanya. (flo)