Tuntutan Ditanggapi, BEM Bantah Minta Dosen Dipecat

DEMO: Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam BEM IAIH NW Pancor saat melakukan aksi demonstrasi, Senin lalu (7/12/2020). (dok)

SELONG–Setelah tuntutan aksinya ditanggapi pihak Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) NW Pancor, Lombok Timur kini Badan Eksekutif Mahasiswa(BEM) berkelit soal tuntutan yang disampaikannya.

Koordinator umum (kordum) aksi BEM IAIH, Abdur Qadir Jaelani mengatakan, dalam aksi Senin (7/12/2020) itu, mahasiswa hanya mengajukan tiga tuntutan. Dalam press rilis pernyataan sikap massa aksi yang beredar termasuk diterima wartawan, salah satu poin yang diangkat terkait perbuatan oknum dosen berinsial H yang diduga melakukan pelecehan terhadap seorang mahasiswa PGMI pada pertengahan Oktober 2020 lalu.

Menurut Jaelani, press rilis yang memuat tentang tuntutan oknum dosen itu yang diduga melakukan pelecehan ke mahasiswi agar dipecat, hanya sebagai konsolidasi internal saja. Rilis tuntutan itu hanya disebar untuk kalangan mahasiswa guna dikaji kembali dan tidak boleh disebarluaskan. Lalu pada aksi itu sudah diputuskan untuk tidak menuntut terkait oknum dosen yang diduga melakukan pelecehan terhadap mahasiswi.” Jadi yang kami tuntut dalam aksi itu hanya itu saja, tidak ada terkait dengan pemecatan oknum dosen yang diduga melakukan pelecehan,”bantahnya.

Dalam aksi itu, dirinya kata Jaelani memang sebagai kordum, tetapi tidak pernah melakukan orasi. Saat wawancara dirinya hanya menyampaikan tuntutan mahasiswa terkait hal – hal yang terjadi di dalam kampus, bukan terkait pelecehan oknum dosen terhadap mahasiswi. Pihaknya meminta agar kampus melengkapi fasilitas laboratorium komputer dan perpustakaan. Selain itu dalam tuntutannya, ia meminta agar mahasiwa yang magang tidak dilepas begitu saja oleh pihak kampus.” Jadi itu yang kami tuntut kemarin bukan yang lain,”bantahnya.

Pihak IAIH Pancor sudah memberikan tanggapan terkait dugaan pelecehan mahasiswi yang dilakukan oleh oknum dosen. Menurut Wakil Rektor I IAIH NW Pancor Lombok Timur Heri Hadi Saputra, bahwa dugaan pelecehan ini terjadi pada bulan Oktober 2020 lalu. Saat itu, oknum dosen berinisial H datang ke rumahnya dan meminta maaf. Oknum dosen ini lalu menceritakan persoalan ini.

Berdasarkan keterangan dekan dan ketua prodi, pemecatan itu bukan opsi. Pemecatan itu merupakan sanksi yang tidak adil. Karena tuduhan dugaan pelecehan seksual itu tidak pernah terjadi sama sekali. “Seperti yang diceritakan, karena pada saat ia sedang naik motor, kemudian oknum dosen hanya memegang tangannya sambil mengatakan kamu capek atau ndak. Jadi tidak ada pelecehan disana,” katanya.

Namun pihak kampus akhirnya mengambil kebijakan. Oknum dosen diskor dua semester. Hal ini agar masalah serupa tidak terulang. Dan sanksi itu masih sedang berjalan sampai sekarang. Jika nantinya memang ditemukan dugaan pelecehan, maka tentunya akan ada tindak lanjut lagi.”Tapi sementara kita belum menemukan dugaan itu,” terangnya.

Sementara itu terkait tuntutan mahasiswa tentang fasilitas laboratorium komputer dan perpustkaan, sambungnya, merupakan tuntutan sudah lama. IAIH memiliki dua laboratorium. Satu dijadikan laboratorium bahasa dan satunya lagi laboratorium komputer yang memang digunakan oleh mahasiswa.

Laboratorium komputer ini sudah ada sejak delapan tahun silam. Dengan usia yang sudah tua tentunya ada kerusakan – kerusakan. Dalam hal ini , dirinya mengharapkan mahasiswa bukan hanya bisa memakai saja, tetapi bisa memelihara. Atas dasar itulah, lembaga sebenarnya setiap waktu mengalokasikan biaya perawatan. “Dengan usia yang sudah tua, tentunya ada saja kekurangan yang ditemukan dan itu saya sudah minta tim IT untuk mengecek semua komputer yang ada, ” ujarnya.

Lalu untuk laboratorium bahasa, saat ini sedang direnovasi, sehingga komputernya dipindahkan dulu. Lalu ada 11 komputer yang digunakan untuk pembelajaran online di masa pandemi ini. Terkait dengan perpustakaan, diakuinya koleksinya ini memang tidak representatif. Akan tetapi sebenarnya IAIH memiliki perpustakaan di tingkat fakultas. “Perpusatakaan yang kita miliki jumlahnya empat, satu dimiliki oleh institut, kemudian tiga ada di fakultas,”ujarnya.

Untuk koleksi buku sendiri, sebenarnya sesuai dengan tema fakultas dan itu lebih spesifik diakses oleh mahasiswa fakultas, sehingga bagi mahasiswa yang tidak menemukan buku di perpustakaan institut ini, mahasiswa bisa mencari ke perpustakaan fakultas. “Jadi saya sudah bilang, kalau mahasiswa minta menambah koleksi buku, mari tingkatkan juga minat baca agar perpustakaan kita tidak sepi,” jelasnya. (wan)