Tujuh Sumur Bor Tuntas Dikerjakan

SELONG—Tahun ini kurang lebih sebanyak 10 bantuan sumur bor yang dibangun di sejumlah tempat di wilayah Lotim. Jumlah itu terdiri dari bantuan sumur bor dari dana APBD dan bantuan dari dana aspirasi dewan. Pembangunan sumur bor sebagian besar sudah selesai dikerjakan. Bahkan tujuh sumur bor yang telah selesai dibangun, kini sudah mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Ketujuh sumur bor yang telah tuntas dikerjakan itu berada di wilayah Terara, Pena , Ekas , Rarang Selatan, Sikur,dan  Suralaga. Semua bantuan sumor bor yang dibangun harus melalui proses geolitrik. Termasuk bantuan sumur bor yang anggaranya dikucurkan dari dana aspirasi dewan. Dalam hal ini tentu harus melibatkan pihak ESDM, termasuk masyarakat yang berada di lokasi pembangunan sumur bor tersebut.

“Meski pun dari dana apsirasi dewan, tetap harus melalui proses geolistrik. Itu harus kita minta persetujuan dari masyarakat dan pemerintah desa,” kata Kabid ESDM Dinas ESDM Perindag Lotim, Siti Hijriani, Jumat kemarin (11/11).

Pembangunan sumur bor ini tidak dilakukan dengan asal-asalan. Dalam ketentuanya, sebelum  dilakukan pengerjaan terlebih dahulu harus melalui proses geolistrik. Geolistrik ini dilakukan untuk mengetahui kedalaman air, dan kondisi tanah. Jika semua itu sudah dilakukan, baru dilakukan pengeboran. “Terkait adanya bantuan sumur bor yang mangkrak, itu bukan dari kami,” elaknya.

Beberapa sumur bor di sejumlah tempat memang ditemukan mangkrak, contohnya di Desa Pena. Disini sumur bor yang telah selesai dikerjakan keberadaannya menjadi mubazir dan terbengkalai begitu saja. Bahkan mesin untuk penyedot juga hilang dicuri, sedangkan sumur sendiri dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah oleh masyarakat.

Menyikapi ini, Hijriani mengaku, kemungkinan bantuan sumur bor itu berasal dari dana aspirasi dewan. Namun khusus di Desa Pena, pihaknya sudah membangunkan sumur bor yang baru. Bahkan keberadaannya juga sudah bisa difungsikan masyarakat. “Yang jelas masyarakat harus dilibatkan dalam pembangunan sumur bor itu,” ujarnya.

Sementara terkait dengan anggaran, untuk sumur yang dikerjakan dari APBD, per satu sumur bor diperkirakan menghabsikan biaya paling sedikit sekitar Rp. 200 juta. Namun jumlah itu bisa lebih, tergantung dengan kedalaman sumur, berdasarkan hasil geolistrik yang telah dilakukan sebelumnya.

Dari jumlah anggaran itu diperuntukkan untuk pengeboran, mesin, termasuk bak penampungan air. Sedangkan untuk sumur bor dari dana aspirasi dewan, sejuah ini anggaran yang dihabiskan jumlahnya bervariasi. “Kalau sumor bor dari aspirasi dewan, karena tidak konsultasi ke sini, anggarannya macam-macam,” bebernya.

Menurutnya, dari 10 bantuan sumur bor yang dibangun di sejumlah lokasi di wilayah Lotim, hanya empat sumur bor yang dikerjakan dari APBD Lotim. Sedangkan sebagiannya berasal dari dana aspirasi dewan. “Kebanyakan dari dana aspirasi, dari kita hanya empat,” sebut Hijriani.

Lebih lanjut dikatakan, agar keberadaan sumur bor bisa dimanfaatkan dalam jangka waktu panjang, tentu dibutuhkan pemeliharaan dan pengelolaan. Pihaknya pun telah mengarahkan masyarakat dan pemerintah desa, agar menjadikan sumur bor tersebut sebagai PAMdes. “Sehingga ada pemeliharaan dan pengelolaan, supaya ketika rusak tidak mangkrak,” sarannya.

Untuk tahun berikutnya lanjut Hijriani, program sumur bor ini rencananya akan diprioritaskan untuk wilayah Selatan Lotim. Baik itu di Kecamatan Sakra Timur, Sakra Barat, Keruak, dan Jerowaru. (lie)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid