Try Out, SMAN 5 Mataram Manfaatkan Android

SMAN 5 Mataram
UJICOBA: Siswa kelas XII SMAN 5 Mataram saat menjalankan ujicoba tahap dua menggunakan CBT dan android. (NASRI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Jajaran SMAN 5 Mataram kembali menghadapi try out (TO) atau ujicoba tahap kedua. Namun pada ujicoba kali ini, sekolah tersebut memanfaatkan komputer dan perangkat handphone android.

Kepala SMAN 5 Mataram, Arofiq MM mengatakan, sekitar Februari lalu, pihaknya pernah menggelar ujicoba tahap pertama. Gelaran tersebut dilaksanakan secara manual atau paper base test (PBT).

Bulan ini, pihaknya kembali lagi menggelar ujicoba tahap kedua dengan memanfaatkan computer base test (CBT) dan android. Perbedaan pelaksanaan teknis ujicoba tahap dua sebagai upaya menunjukkan inovasi sekolah yang dipimpinnya. Pasalnya, ujicoba dengan CBT dan android disebutnya cukup banyak manfaat.

“Menggunakan sistem CBT dan android ini lebih kepada inovasi. Kebetulan juga dengan cara ini manfaatnya cukup banyak,” katanya, Kamis kemarin (8/3).

Pada kegiatan ujicoba tahap dua ini melibatkan sebanyak 463 siswa. Jumlah ini tidak berubh sesuai dengan jumlah ujicoba tahap pertama. Pelaksanaannya pun digelar sebanyak tiga sesi.

Saat ujicoba nanti, bebernya, pihaknya mulai sejak pukul 07.30 Wita sampai menjelang waktu salat Ashar. Di setiap sesi, siswa menghabiskan waktu 2 jam dengan 4 fasilitas ruangan selama tiga hari. 

Adapun manfaat ujicoba berbasis CBT dan android, ucapnya, pemanfaatan ruangan tidak terlalu banyak. Proses pelaksanaan juga tidak mengganggu proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) kelas X dan XI.

Tak hanya itu, hasil ujicoba sistem CBT dan android ini bisa langsung dilihat hasilnya di komputer dan HP android siswa, hari itu juga. “Manfaat yang paling kami rasakan, siswa kelas X dan XI tidak terganggu proses kegiatan belajar mengajarnya. Pemanfaatan ruangan juga tidak terlalu banyak,” tambahnya.

Sementara itu, Waka Kurikulum SMAN 5 Mataram, Musani MPd mengungkapkan, pada dasarnya tidak ada yang spesial dengan sistem yang digunakan pihaknya. Hanya saja, proses ini lebih diartikan sebagai inovasi sekolah. Pasalnya, teknologi belakangan ini kian berkembang pesat. Praktis, pihaknya merasa rugi jika tidak memanfaatkan perkembangan tersebut.

“Sama saja sebenarnya, tapi kita cuma ingin berinovasi dan berkreasi saja, toh soalnya juga sama dengan PBT,” tutupnya. (rie)