Triwulan III Ekonomi NTB Bisa Makin Terpuruk

SEPI PEMBELI: Salah satu penjual oleh-oleh di Kuta Mandalika mengalami sepinya pembeli, karena kunjugan wisatawan sepi. (DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK )
SEPI PEMBELI: Salah satu penjual oleh-oleh di Kuta Mandalika mengalami sepinya pembeli, karena kunjugan wisatawan sepi. (DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK )

MATARAM – Pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan II -2020 tercatat minus 1,41 persen. Angka ini dinilai cukup besar, imbas dari adanya wabah virus corona (Covid-19). Jika tidak ada antisipasi dengan program yang jelas oleh pemerintah daerah, maka pada triwulan III-2020, pertumbuhan ekonomi NTB bisa semakin terpuruk dan mengalami minus yang lebih besar dari triwulan II.

Menurut, Pengamat Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram (Unram), Dr Firmansyah bahwa diperkiran pada triwulan selanjutanya, pertumbuhan ekonomi NTB bisa saja mengalami minus yang sama seperti di triwulan II, bahkan lebih parah lagi angka minusya dari sebelumnya. Mengingat, kondisi Covid-19 membuat sektor penggerak ekonomi semuanya ikut berdampak.

“Bila tidak ada antisipasi, maka akan terjadi terkontraksi meluas, sejalan dengan semakin banyak pengangguran dan kemiskinan dan demand side economy (atau disebut inflasi, red) juga macet,” ujar Firmansyah, kepada Radar Lombok, Minggu (9/8).

Firmansyah menilai, ekonomi NTB saat ini mengalami kontarksi meliput hampir semua kawasan. Mengingat, aktifitas penggerak pertumbuhan ekonomi saja semakin berkurang, karena Covid-19. Kondisi ini tidak hanya dialami NTB, tapi hampir seluruh daerah mengalami hal yang sama, dimana pertumbuhan ekonomi minus.

“Ketika daya beli anjlok ditambah ada pengurangan belanja karena pandemi tentu di prediksi ekonomi sulit tumbuh,” bebernya.

Untuk menjaga agar tidak terlalu berdampak pada triwulan selanjutnya, Dr Firmansyah mendorong pemerintah daerah menghadirkan berbagai program,

agar pertumbuhan ekonomi tidak terpuruk terlalu jauh. Pasalnya, kontraksi pertumbuhan ekonomi NTB di triwulan II, minus 1,41 persen membuat sejumlah pengusaha ketar-ketir jika akan mengalami kontraksi lebih parah lagi di triwulan selanjutnya.

“Menjaganya dengan yang pertama tentu pemerintah menggunakan kapasitas fiskal untuk membantu meningkatkan konsumsi dasar masyarakat miskin dan stimulus fiskal untuk perusahaan lokal,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dari pemerintah telah mengantisipasi hal tersebut, yakni dengan memberikan bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang. Di mana melibatkan sejumalh Usaha Kecil dan Menegah (UKM) dalam hal menyediakan bahan baku JPS. Selanjutnya, kedua adalah untuk Industri Kecil Menengah (IKM) atau UKM diperkuat agar melakukan produksi sektor primer (kebutuhan pokok). Apalagi sekarang kebutuhan primer paling utama bagi masyarakat.

Ketiga ada kesadaran kolektif masyarakat untuk beli dan bela produk lokal. Sesuai dengan peraturan Gubernur NTB Zulkifliemansyah. Pasalnya, produk lokal sejauh ini banyak masyarakat enggan untuk membeli produk lokal. Dan keempat gerakan start up yang tumbuh era sulit, biasanya dalam bentuk ekonomi kreatif.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) NTB Suntono, menerangkan Kontraksi pertumbuhan tersebut disebabkan oleh terkontraksinya berbagai kategori lapangan usaha akibat adanya pandemi Covid 19 sepanjang Triwulan II 2020. berdasarkan data BPS perekonomian NTB yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2020 mencapai Rp 32,79 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 23,07 triliun.

“Ekonomi NTB triwulan II-2020 mengalami kontraksi 1,41 persen jika dibandingkan dengan triwulan II-2019 (y on y),” katanya. (dev)