Tren Baru Mendaki Gunung Rinjani Tanpa Sampah

Geopark Rinjani Lombok Undang Perempuan Indonesia yang Punya Jiwa Petualang

MENDAKI TANPA SAMPAH: Menciptakan budaya mendaki Gunung Rinjani tanpa sampah, Geopark Rinjani Lombok akan menggelar Women Geo-Adventure Camp 2022, pada 13-17 Agustus mendatang.

MATARAM—Upaya edukasi bagi para pendaki gunung yang bertanggung jawab dan berwawasan lingkungan, serta menciptakan budaya berpetualang alam bebas yang bebas sampah (zero waste) di kawasan Gunung Rinjani. Geopark Rinjani Lombok, selama empat hari, 13-17 Agustus 2022 mendatang, akan menggelar “Women Geo-Adventure Camp 2022”.

“Kegiatan sekaligus mendukung wisata yang ramah perempuan di Gunung Rinjani. Harapannya, ini dapat berkontribusi terhadap pemecahan permasalahan sampah di Gunung Rinjani, dengan memelopori melalui pendakian tanpa sampah,” kata General Manager Rinjani Lombok Unesco Global Geopark, M Farid, Rabu kemarin (27/7).

Kegiatan ini sambung Farid, juga didukung oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), untuk mendukung program zero waste yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi NTB.

“Prinsipnya, mencegah akan selalu lebih baik dari pada mengobati. Sehingga keindahan Gunung Rinjani yang ada sekarang bisa tetap terjaga secara berkelanjutan,” ujarnya.

Dimulai dari Gunung Rinjani, diharapkan ke depan ini akan ditiru di objek wisata lainnya di NTB. ”Bila semua tempat dapat menerapkan kebiasaan bebas sampah sejak dini, maka dapat dipastikan persoalan sampah di objek-objek wisata di NTB khususnya, akan jauh berkurang,” jelas Farid.

Karena itu, pihaknya mengundang semua perempuan Indonesia yang memiliki jiwa petualang, untuk mengisi empat hari yang menyenangkan, berpetualang dan menikmati keindahan Gunung Rinjani melalui even Women Geo-Adventure Camp 2022.

Rencana kegiatan Women Geo-Adventure Camp 2022 lanjutnya, setelah semua peserta bertemu dan berkenalan di titik kumpul yang telah ditentukan di Kota Mataram. Maka selanjutnya mereka akan berangkat bersama-sama menuju ke kaki Gunung Rinjani, di titik pendakian di Desa Sembalun, Lombok Timur.

“Menginap semalam di Desa Sembalun, peserta akan merasakan denyut kehidupan sebuah desa yang dulunya adalah kaldera tua yang telah lama mati berusia lebih dari 500 ribu tahun, di ketinggian 1.156 meter dari permukaan laut,” beber Farid.

Peserta juga akan menikmati kuliner khas, sambil menikmati api unggun. “Namun sebelumnya, sore hari peserta diajak belajar melukis baju t-shirt-nya sendiri menggunakan daun-daun dan bunga-bunga dari tanaman yang tumbuh diatas kesuburan tanah bekas letusan Gunung Samalas tahun 1257, melalui teknik pewarnaan alam ecoprint, sehingga motif yang dihasilkan pasti unik dan tidak akan ada duanya,” papar Farid.

Pada saat yang sama, para porter dan guide yang akan membantu kebutuhan peserta selama pendakian, juga menyiapkan seluruh kebutuhan logistik, peralatan dan perlengkapan pendakian.

Yang paling menarik dan berbeda dari pendakian ini. Semua potensi sampah berupa bungkus plastik, kaleng, botol, dan lainnya akan dilucuti, dengan tujuan mencegah potensi sampah masuk ke kawasan Gunung Rinjani (Reduce).

“Karena pendakian ini adalah pendakian zero waste, maka semua bahan makanan dan minuman akan dimasukkan ke dalam wadah-wadah yang bisa digunakan kembali (reuse). Mulai dari bungkus mie, bungkus roti, bungkus rokok, busa puntung rokok, kaleng minuman, botol beling dan semua jenis sampah, dilucuti dan tidak akan dibawa naik Gunung Rinjani,” tegas Farid.

Baca Juga :  Tahun Baru, Pendakian Gunung Rinjani Ditutup Total

Demikian sebagian besar perbekalan makanan akan menggunakan lauk matang siap saji. Sehingga porter tidak perlu terlalu sibuk memasak saat berada di kawasan gunung nanti.

“Bekal makanan dan minuman yang dibawa sesuai dengan daftar menu yang direncanakan dalam rencana detil perjalanan (itinerary). Seperti berapa porsi kebutuhan makanan, berapa lauk pauk, berapa makanan ringan, berapa buah dan berapa minuman di setiap jadwal makan, semua direncanakan dengan cermat,” jelasnya.

Ini dilakukan, agar proses menyiapkan makan minum jadi lebih mudah dan praktis. Nantinya akan digunakan stiker bertuliskan kode unik dengan keterangan tertulis tentang jenis makanan, jumlah porsi dan keterangan lain yang diperlukan.

“Sehingga Porter mudah mengatur dan menyajikannya tanpa harus buang waktu. Dan yang terpenting tidak bakal ada sampah yang dihasilkan,” tandas Farid.

Untuk mencegah sampah berupa botol air kemasan, pendaki juga diwajibkan membawa botol minum ukuran minimal 1 liter, atau kantong minum (water bladder) minimal kapasitas 2 liter.

Porter juga akan membantu membawa persediaan air minum dalam wadah jerigen. Sehingga para peserta dapat melakukan isi ulang di pos-pos peristirahatan.

Sedangkan untuk mencegah sampah berupa puntung rokok, porter dan guide yang perokok akan diberikan pipa khusus untuk merokok.

“Semua rokok yang akan dibawa harus dilucuti busa filter rokoknya sebelum mendaki. Sehingga tidak ada lagi sampah berupa puntung rokok di Rinjani,” ulasnya.

Sedangkan untuk sampah kotoran manusia, pendakian ini juga akan dilengkapi dengan toilet tent.

“Dengan menggunakan bantuan skop kecil, tissue kering dan pasir, kebutuhan buang hajat bisa dilakukan dengan nyaman pada lubang yang disediakan didalam toilet tent, tanpa mencemari lingkungan sekitar,” beber Farid.

Untuk pendakian, hari pertama, peserta akan berjalan mendaki membelah padang savana selama 2 jam ke pos 2 bersama guide berpengalaman, dan juga interpreter bersertifikat Nasional, yang akan membantu peserta menikmati perjalanan dengan berbagai wawasan kebumian Rinjani.

Seluruh tim yang nanti terlibat, berkomitmen untuk menjadikan pengalaman pendakian menjadi nyaman, aman, menyenangkan, bermanfaat dan berkesan.

“Hari pertama pendakian, peserta berhenti istirahat untuk makan siang di saung-saung Pos 2, tempat para porter menyajikan makan siang yang dibuat sepenuhnya dengan menggunakan produk-produk makanan dan minuman yang telah bebas sampah plastik, kaleng dan botol,” terangnya.

Usai makan siang, perjalanan dilanjutkan menuju ke pos 3, dan bersantai sembari menikmati minuman hangat dan buah segar, serta melihat puncak Gunung Rinjani yang sudah semakin dekat dari ketinggian 1.800 Mdpl.

Baca Juga :  Pemuda Sembalun Sambut Antusias Event Rinjani Color Run 2022

Berikutnya perjalanan dilanjutkan menuju ke lekuk datar terakhir Campsite Pelawangan Sembalun, lokasi terindah untuk menikmati matahari tenggelam tepat di atas puncak Gunung Sangkareang (jalur pendakian Senaru).

“Walau hanya sebagian terlihat dari Campsite, namun keindahan Danau Segara Anak akan sangat memanjakan mata. Menginap semalam di tempat ini, sambil menikmati sajian makan malam di ketinggian 2.641 Mdpl dengan menu-menu terpilih, sebelum pada keesokan harinya kembali mendaki menuju puncak,” jelasnya.

Pengalaman paling menantang selama perjalanan mendaki ke puncak Gunung Rinjani, yakni berjalan melintasi medan yang berdebu.

“Lelah, namun semua itu akan terbayar dengan suguhan pemandangan indah di ujung timur yakni Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, dan di ujung barat, Gunung Batur serta Gunung Agung di Pulau Bali. Tak hanya itu, indahnya panorama 360 derajat yang mempesona, akan menciptakan sensasi yang menawan untuk panca indra,” janji Farid.

Usai dari puncak, dan kembali ke Pelawangan Sembalun, para pendaki selanjutnya akan turun menuju ke Danau Segara Anak yang rupawan. Menuruni lembah berbatu yang eksotis, hutan pinus yang tak begitu lebat, dengan dibawahnya terdapat hamparan taman bunga abadi Edelweis yang merupakan rumah bagi aneka burung, monyet ekor hitam, babi hutan dan terkadang kawanan Rusa.

Sampai di Danau Segara Anak, peserta kembali akan menikmati santam makan siang di tepi danau, sambil menatap semilir kepulan asap dari kawah Gunung Baru Jari di tengah danau.

Dan jangan lewatkan untuk memanjakan tubuh letih anda dengan berendam di mata air panas Aiq Kalaq yang kaya kandungan belerang, dengan jarak hanya sepelemparan tombak dari tenda di tepi danau.

“Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menikmati keindahan selama berkemah di pinggir Danau Segara Anak. Ada yang berenang, memancing, bernyanyi sambil main gitar, melamun sambil menulis puisi atau dengan hanya duduk termenung bercengkerama dengan nostalgia sambil melihat burung belibis berenang di kejauhan,” gurau Farid.

Selanjutnya petualangan hari ketiga, usai sarapan di pinggir danau, peserta bersiap pulang melalui jalur Torean. Perjalanan akan menyusuri pinggir sungai putih (kokoq puteq) sembari menikmati kemegahan lembah spektakuler yang membentang dikiri kanan jalur menuju Torean.

Di antara bentangan pemandangan yang tenang dan tenang, peserta pasti tak akan henti mengagumi keindahan alam di sepanjang jalan yang dilalui. “Yang paling epic adalah saat mencapai air terjun penimbungan yang view-nya sangat spektakuler,” tandas Farid. (gt)