Trek Rempek Idola Baru Penggila MTB

GOWESER: Para goweser (pesepeda) dari komunitas Lombok Mountain Bike Comunity (LMBC), ketika menjajal trek Rempek di Desa Rempek, Kecamatan Gangga, Lombok Utara. (IST FOR RADAR LOMBOK)

KECAMATAN Gangga merupakan salah satu daerah kecamatan di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Wilayah kecamatan yang terdiri dari 5 desa, yaitu Desa Bentek, Desa Gondang, Desa Genggelang, Desa Sambik Bangkol, dan Desa Rempek, sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani.

Hasil pertanian dan perkebunan terbesar dari Kecamatan Gangga ini adalah Padi, Kelapa, Pisang, Kopi dan Coklat, serta berbagai jenis palawija. Termasuk Desa Rempek tentunya.

“Namun selain memiliki potensi ekonomi di bidang pertanian dan perkebunan, sejak beberapa bulan terakhir ini Desa Rempek ternyata juga dikenal luas di kalangan penghobi sepeda downhill (menuruni bukit, red),” ujar Ketua Lombok Mountain Bike Comunity (LMBC), Yusril Arwan, Senin (23/1), usai menjajal trek yang menurutnya sangat memberikan banyak sensasi tersebut.

[postingan number=3 tag=”wisata”]

Menurut Yusril yang juga Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kota Mataram ini, potensi sport tourism (olahraga wisata) yang ada di Desa Rempek ini sangat potensial untuk dikembangkan. Mengingat saat ini Sepeda Gunung merupakan salah satu jenis olahraga ekstrim yang mulai banyak diminati, baik para penggila sepeda di NTB, Nusantara, bahkan dunia.

Dengan medan menyusuri single trek di dalam hutan sambung Yusril, serta menjelajahi double trek jalanan kampung yang lebar, sejumah pesepeda yang tergabung dalam KTP atau Komunitas Tinjal Pedal, semua sangat terkesan dengan trek baru yang menantang di Desa Rempek ini.

“Betapa menantangnya Trek Rempek ini. Daerah ini sangat potensial dikembangkan untuk menjadi destinasi baru wisata minat khusus di Kabupaten Lombok Utara,” imbuh Yusril.

Hanya saja lanjutnya, untuk menjajal trek yang relatif miring seperti Rempek ini, memerlukan teknik tersendiri. Karena salah-salah teknik dan kendali, roda sepeda bisa saja kehilangan traksi. “Parahnya lagi, bagi pesepeda yang tidak tahu, dan menekan rem kuat-kuat ketika melintasi jalan menurun, bisa saja kehilangan kontrol dan terpental dari sepeda,” jelas Yusril.

Khusus di Trek Rempek saran dedengkot MTB di Lombok ini, hindari menggenjot sepeda saat sedang melewati trek menurun seperti ini. “Atur terlebih dahulu kecepatan sepeda bila memasuki trek. Jikalau terpaksa harus menggenjot, lakukan perlahan-lahan dengan halus, dan pusatkan berat tubuh ke pedal. Teknik ini sangat efektif menjaga ban tetap menggigit tanah. Cukup berdiri di atas pedal, dan terus awas mengontrol hadlbar atau stang sepeda,” nasehat Yusril.

Namun Trek Rempek bagi Rider yang sedikit berani, dan bermodal skill diatas rata-rata, tentu saja akan dengan mudah melahap drop-drop kecil seperti ini. “Tetapi kalau melewati dropan seperti kontur trek Rempek ini, membutuhkan lebih dari sekedar kecepatan dan komitmen,” ulas Yusril seraya menambahkan teknik kalau hendak menjelajah trek Rempek, agar lutut dalam keadaan menekuk, dan pedal pada posisi horizontal terhadap permukaan landasan. Sehingga dijamin pendaratan Rider bakal mulus.

[postingan number=3 tag=”pantai”]

“Panjang trek ini kurang lebih 18 kilometer, dan dengan finish di Pantai Tebing (obyek wisata lainnya di KLU), dijamin akan menyuguhkan variasi tantangan yang memacu adrenaline,” tambah Paul Gibson, salah satu pesepeda yang kerap membawa rombongan tamunya bersepeda ke Rempek.

Usai bersepeda, umumnya para Goweser luar daerah dijamu dengan makanan khas KLU, seperti Sate Tanjung dan Pepes Kepala Ikan. “Ini yang menjadi sensasi tambahan trek Rempek ini,” ujar H. Syahrial Azmi, salah seorang tamu yang pertamakali menjajal trek Rempek ini. (gt)