Transformasi Layanan Menuju BPR NTB Go Digital

BPR NTB
KONSOLIDASI : Owner Vendor USSI Grup Aman Tirta Rukmana, Ketua Tim Konsolidasi BPR NTB Lalu Suwandi Arwan dan sejumlah direksi PD BPR NTB saat mengikuti pertemuan terkait transformasi BPR NTB Go Digital, Rabu malam (4/11).

MATARAM – Kesiapan merger (penggabungan) BPR NTB mulai menemui menitik terang. Berbagai persyaratan untuk pengajuan izin yang harus dilengkapi untuk diajukan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai dilengkapi, termasuk yang cukup krusial adalah kesiapan Teknologi Informasi (TI). Vendor yang ditunjuk penyedia perangkat IT sudah datang ke Mataram untuk mematangkan dan menyiapkan seluruh ketentuan yang harus difinalkan untuk kemudian diajuka ke OJK.

Bahkan, tidak hanya kesiapan server dan perangkat lainnya terkait IT, tapi juga bagaimana menyiapkan PT BPR NTB menerapkan layanan serba digital atau BPR Go Digital. Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan antara Owner Vendor USSI Grup Maman Tirta Rukmana bersama seluruh jajaran direksi PD BPR NTB yang juga menjadi Tim Konsolidasi BPR NTB, Rabu malam (4/11).

Owner USSI Grup Maman Tirta Rukmana mengatakan, transformasi digital BPR Go Digital yang harus dilakukan BPR sejalan dengan era ekonomi digital, menuntut adanya perubahan peran teknologi digital yang selama ini sudah digunakan di BPR. IT tidak lagi hanya sebagai alat bantu pengelolaan operasional BPR untuk pemrosesan data yang lebih cepat, efektif dan efisien. IT untuk digitalisasi BPR, harus juga mampu untuk memenuhi tuntutan kebutuhan pasar dan dunia usaha mitra yang juga sudah serba digital.

Dipaparkannya, proses transformasi digital BPR, paling tidak harus meliputi 4 aspek, pertama digitalisasi operasional untuk penerapan sistem informasi manajemen berbasis teknologi informasi yang bertujuan agar pengelola BPR dapat mengelola proses-proses operasional dengan lebih cepat, tepat, murah dan benar, efisiensi dan efektifitas.

Kedua, digitalisasi pelayanan, adalah penerapan teknologi digital yang bertujuan agar BPR bisa lebih memuaskan dan memenuhi berbagai kebutuhan layanan keuangan anggota. Ketiga, digitalisasi usaha adalah penerapan teknologi digital untuk pengembangan usaha (bisnis). Melalui penggunaan teknologi digital, BPR harus mampu meningkatkan volume dan keuntungan usahanya.

Teknologi informasi sebagai profit center dan keempat adalah digitalisasi pengawasan adalah penerapan sistem informasi manajemen berbasis teknologi informasi yang bertujuan agar pengelolaan BPR sesuai dengan prinsip-prinsip dan ketentuan yang berlaku yang sudah ditetapkan oleh para stake holder.

“Salah satu bentuk digitalisasi pelayanan kepada nasabah adalah penggunaan aplikasi mobile BPR, dan juga berbagai transaksi lainnya termasuk untuk pembayaran air dan listrik serta pulsa,” kata Kang Maman. 

Sementara itu, Ketua Tim Konsolidasi BPR NTB Lalu Suwandi Arwan mengatakan dalam pertemuan dengan Vendor USSI Grup mendapatkan banyak pengalaman berharga dalam mengembangkan BPR NTB Go Digital.

“Jajaran direksi PD BPR NTB mendapatkan banyak ilmu menuju transformasi menuju BPR NTB Go Digital,” kata Lalu Suwandi.

Menurut Lalu Suwandi, dalam meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah, BPR NTB menuju Go Digital sudah menjadi keharusan di tengah perkembangan Revolusi Industri 4,0 sekarang ini.

“Mau tidak mau, BPR NTB harus beradaptasi dengan kemajuan teknolgi. Transformasi digital BPR NTB ini juga sesuai dengan arahan bapak Gubernur,” ungkap Direktur Utama BPR NTB Lombok Timur yang akrab disapa Miq Awan ini. (luk)