Tradisi Tiu Warga Keturunan Sumbawa di Jantuk Lombok Timur

TRADISI TIU: Inilah tradisi Tiu atau menunggang kuda yang dilakukan masyarakat Desa Jantuk, Kecamatan Sukamulia, Lombok Timur, Senin kemarin (2/5/2022). (M.Haeruddin/ Radar Lombok)

SELONG–Ratusan warga Desa Jantuk, Kecamatan Sukamulia, Kabupaten Lombok Timur, membanjiri jalan desa setempat ditemani kuda tunggangan. Mereka berjalan seperti pawai pada Senin sore (2/5/2022).

Tradisi yang bernama Tiu ini, dilakukan tiap tahun oleh warga setempat untuk menjadi hiburan pada lebaran Idulfitri.

Penunggang kuda ini umumnya pria, namun ada juga wanita. Kuda yang digunakan ada milik pribadi dan ada juga sewaan. Hebatnya, untuk mempertahankan tradisi ini, warga rela merogoh uang jutaan rupiah untuk menyewa kuda.

Kepala Desa Jantuk, Junaidi mengatakan Tradisi Tiu ini merupakan tradisi turun-temurun yang ditinggalkan nenek moyang. Warga terus melestarikan tradisi tersebut.

Untuk momen Idulfitri tahun ini, warga melakukan Tiu pada sore hari sekitar pukul 16.00 WITA hingga menjelang Magrib. Kemudian dilanjutkan pada Selasa (3/5/2022) usai Salat Subuh.

BACA JUGA :  Kain Kafan Kempis, Jenazah TGH Lalu Albayani Akbar Menghilang?

“Tradisi Tiu atau menunggang kuda ini adalah tradisi yang setiap tahun saat lebaran, ini tradisi sudah ratusan tahun dan tetap dilestarikan,” ungkap Junaidi saat ditemui di lokasi acara Tiu, Senin (2/5/2022)

Ia menceritakan konon tradisi ini dilakukan untuk membuat hiburan usai turun Salat Idulfitri. “Kebetulan dulu orang banyak pelihara kuda di sini (Jantuk,red). Hampir semua orang pelihara kuda,” jelasnya.

Sehingga dulu kuda yang ditunggang oleh warga merupakan kuda asli Jantuk, hanya saja saat ini warga sudah mulai berkurang memelihara kuda, maka warga memilih mendatangkan kuda dari luar atau menyewa. “Dari ratusan kuda ini hampir semua kuda luar. Kalaupun ada kuda sini, palingan ada beberapa kisaran lima atau enam kuda saja,” tambahnya.

BACA JUGA :  Perempuan Asal Sukamulia Ini Kabur Saat Mencoba 2 Kalung Emas di Pasar Renteng

Sementara salah seorang warga, Ukank mengatakan, selain hiburan, tradisi ini dilakukan juga sebagai bentuk penghormatan nilai-nilai perjuangan melawan penjajah.

Masyarakat Jantuk sendiri dominan merupakan keturunan Sumbawa yang sebelumnya banyak mengandalkan hidupnya dari beternak kuda. Sementara nama Tiu konon merupakan nama bendungan yang berada di Sumbawa yang dijadikan warga untuk lokasi memandikan kuda mereka.

‚ÄúTradisi Tiu ini sudah ada dari jaman nenek moyang kita, sehingga warga Jantuk yang berada di luar juga kalau lebaran dia balik untuk mengikuti tradisi Tiu ini,” terangnya.

Tradisi Tiu ini juga diakui membuat Desanya banyak dikunjungi oleh wisatawan. “Kadang keluarga dari luar Desa Jantuk sampai menginap untuk bisa menyaksikan tradisi ini,” pungkasnya. (met)