Tradisi Menangkap Ipun di Lombok Utara Akan Dijadikan Event Pariwisata

ANTUSIAS: Masyarakat KLU antusias menangkap Ikan Ipun yang muncul saat musim hujan yang disertai gelombang tinggi dan petir. (IST FOR RADAR LOMBOK)

TANJUNG–Penangkapan Ikan Ipun di Dusun Lekok Teluk Sedayu, Desa Gondang, Kecamatan Gangga diwacanakan menjadi event pariwisata daerah. Mengingat penangkapan Ipun menjadi magnet tersendiri bagi warga setempat, seperti halnya penangkapan nyale atau cacing laut di Lombok Tengah.

Dengan dikemas dalam event pariwisata, diharapkan akan meningkatkan kunjungan pariwisata ke daerah serta meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar. “Kita ada rencana untuk menjadikan event tahunan penangkapan Ikan Ipun di Muara Kali Segara itu, karena mampu menyedot perhatian masyarakat yang beramai-ramai menangkap seperti Bau Nyale,” ujar Kades Gondang Supriadi kepada Radar Lombok, Rabu (17/2).

Menurutnya, Ikan Ipun memang biasa muncul di Muara Kali Segara ketika musim hujan yang disertai gelombang tinggi dan petir. Tetapi untuk waktu kemunculan belum bisa diprediksi kapan. Hanya berupa tanda-tanda. “Untuk menjadi budaya tahunan perlu dibahas bersama dengan masyarakat dan stakeholder untuk memastikan waktu yang tepat perayaannya,” katanya.

Apa yang diharapkan masyarakat dan pemerintah desa ini disambut antusias oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) KLU. Mengingat penangkapan Ikan Ipun bisa menyedot wisatawan. “Kita menyambut baik antusias itu,” ucap Kepala Disbudpar KLU Vidi Ekakusuma.

Menurutnya, untuk menjadikan penangkapan Ikan Ipun sebagai event pariwisata, terlebih dahulu perlu mengumpulkan data dan sejarah dari Ikan Ipun tersebut. Sebab, pengunjung akan tertarik apabila terdapat histori di balik event tersebut. “Kita akan mulai mencoba mengumpulkan data dan sejarah,” katanya.

Tokoh Masyarakat Lekok Jaharudin, mengungkapkan, Ikan Ipun yang bermunculan di Muara Kali Segara sebenarnya berasal dari laut yang terbawa ombak deras, sehingga memilih bermigrasi gerombolan ke kali. Dan di Lombok Utara, Kali Segara yang merupakan kali terbesar yang nyaman untuk migrasi. “Dulu bermunculan bisa seminggu, sekarang puncaknya dua hari dan hari ketiga sudah mulai hilang dan berkurang karena ditangkap oleh warga setempat. Termasuk warga dari luar Lombok Utara berdatangan jika sudah tahu melalui media sosial. Kalau dulu lama karena hanya warga sekitar saja yang menangkap. Kalau sekarang sudah ramai yang tahu makanya (Ikan Ipun) merasa terganggu sehingga bermigrasi ke kali yang lain separuhnya, tapi Kali Segara tetap menjadi pusat Ikan Ipun bermigrasi,” tuturnya.

Diungkapkan, Ikan Ipun biasanya diolah menjadi ikan asin atau dimasukkan ke dalam bambu lalu dibakar. Ada juga yang dipepes dan lainnya. (flo)