Tradisi ‘Maleman’ Selama Bulan Suci Ramadan di Kota Mataram

Malam Ganjil dan Genap Tetap Nyalakan ‘Dilah Jojor’

Tradisi Maleman
SEMANGAT: Anak-anak di Lingkungan Sayang Daye, Keluarahan Sayang-Sayang saat memainkan ‘dilah jojor’ di depan rumah mereka. (SUDIR/RADAR LOMBOK)

Bulan suci Ramadan penuh keberkahan. Di bulan ini, banyak cara yang dilakukan untuk menyambutnya oleh warga Kota Mataram. salah satunya dengan melestarikan tradisi Maleman.


SUDIRMAN-MATARAM


MENYAMBUT bulan suci Ramadan di Kota Mataram oleh warga setempat rupanya cukup semarak. Ini terlihat dari antusiasme yang ditunjukan warga.

Di lingkungan Sayang Daye, Kelurahan Sayang-Sayang misalnya. Warga di sini menggelar tradisi ‘maleman’. Tradisi ini kabarnya sebagai manifestasi rasa syukur warga atar pertemuannya dengan bulan penuh rahmat tersebut.

Setiap malam tampak warga senantiasa  menyalakan ‘dila jojor’. Dilah jojor merupakan sejenis suluh penerang yang dibuat secara tradisional oleh warga. Bahannya yang digunakan untuk membuat barang ini juga disediakan langsung oleh warga.

Dilah jojor dinyalakan bukan hanya malam ganjil. Namun setiap malam ratusan warga sampai anak-anak menyalakan lampu tersebut. Biasanya, dilah jojor dibakar di depan rumah mereka sambil bersawalat.