Tongkek Binaan Hamzanwadi Go To Australia

Mengikuti Kegiatan Adelaide Fringe Festival

Tongkek Binaan Hamzanwadi Go To Australia
KESENIAN TONGKEK: Rektor Universitas Hamzanwadi, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, foto bersama tim rombongan kesenian musik Tongkek, yang akan berangkat mengikuti kegiatan Adelaide Fringe Festival di Australia. (IRWAN/RADAR LOMBOK)

SELONG—Rektor Universitas Hamzanwadi, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah melepas rombongan Tongkek binaan Hamzanwadi ke Australia, untuk mengikuti kegiatan Adelaide Fringe Festival.

Menurutnya, Adelaide Fringe Festival merupakan event seni terbesar yang diselenggarakan setiap tahun di Negeri Kanguru Australia. Pada even kali ini, Adelaide Fringe menghadirkan 3000 artis dari seluruh dunia. Dimana acaranya sendiri telah berlangsung mulai tanggal 16 Februari – 16 Maret mendatang.

“Untuk kesenian Tongkek ini akan pentas pada tanggal 2, 3 dan 4 Maret mendatang di dua tempat yang berbeda. Pertama akan tampil di TGI at Adelaie Town Hall, dan kemudian di NACC,” kata Rohmi.

Sanggar Armonica16 di bawah binaan program Studi Sendratasik sendiri akan menampilkan kesenian musik Tongkek yang dipadukan dengan kesenian Tari Gandrung, yang merupakan satu diantara sekian banyak Sanggar atau Group Kesenian dari seluruh dunia yang diterima pentas di Adelaide Fringe tahun ini.

“Sanggar Armonica16 yang telah lulus melalui serangkaian proses, sehingga berhasil tampil dari sekian banyak jenis kesenian yang ikut mendaftarkan diri untuk terlebih dahulu di kurasi di Adelaide, merupakan berkah dan prestasi yang patut diapresiasi,” ujarnya.

Subtansi pertunjukan Tongkek yang akan ditampilkan mengacu pada pemaknaan, serta pemakaian simbol-simbol adat, budaya dan tradisi masyarakat Pancor, Lombok Timur (Lotim). Lebih khusus mengangkat fenomena kehidupan masyarakat Pancor yang merupakan pemilik tunggal kesenian musik Tongkek ini, dimana kesenian ini pernah sangat dibanggakan oleh Almagfurullah Maulana Syaikh, yang menyatakan “Unteng ne erek dodok ite sembahyang, ine iye tongkek”. “Jadi kesneian Tungkek ini dulu dibuat oleh Almagfurullah Maulana Syaikh sebagai alat musik yang membangunkan masyarakat pada saat makan sahur,” jelas Rohmi.

Sementara dari sisi penyajiannya, bercerita mengenai bagaimana kehidupan kaum muslim di Pancor saat membangunkan orang untuk makan sahur di bulan Ramadhan. “Sepintas kita akan bercerita soal semangat kebersamaan, kerjasama dan kebulatan tekad,” papar Rohmi.

Selain itu lanjutnya, sepintas juga bercerita soal konflik, dan kemudian penyelesaiannya secara kekeluargaan, yang hadir dari nuansa epik Cepung dan Pangkur Sasak (Lagu Sasak). ”Lalu kita juga tak lupa bercerita soal keberagaman sebagai suatu bangsa, yang kesemuanya itu tersusun apik dalam satu pementasan utuh,” terangnya.

Disampaikan Rohmi, Tongkek merupakan kesenian musik tradisional dari Lombok Timur yang pertama kali mewakili Indonesia di Adelaide Fringe Festival. Maka dari itu, sudah sepatutnya masyarakat mengucapkan selamat dan sukses kepada seluruh tim yang berangkat.

“Saya sampaikan selamat berjuang di Negeri Kanguru adik-adik, kawan-kawan serta dosen-dosen saya. Terima kasih telah mendedikasikan diri kalian melalui jalur kesenian ini. Mari kibarkan merah putih kita, kibarkan hijaunya bendera Hamzanwadi di sana. Insya Allah berkah buat kita semua,” pungkas Rohmi sambil melepas secara resmi rombongan kesenian musik Tongkek. (cr-wan/adv)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut