Tokoh PKI Masih Ada di NTB

MATARAM – Kepala Bangkesbangpoldagri Provinsi NTB, Lalu Bayu Windia mengatakan Partai Komunis Indonesia (PKI) sudah tidak ada tetapi pahamnya tidak pernah mati.

Apabila perkembangan PKI dibiarkan, maka bisa saja akan bangkit lagi termasuk di NTB. Diungkapkan Bayu,  NTB memiliki sejarah yang banyak tentang PKI dan tidak kalah dengan daerah-daerah lainnya. Bahkan pada masanya beberapa warga NTB menjadi pengurus pusat partai terlarang tersebut. “Saat ini kita masih punya 6 orang sesepuh yang sangat mengetahui tentang PKI di NTB,” ucapnya saat menjadi narasumber dalam acara dialog di Aula Kantor DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) NTB, Rabu kemarin (25/5).

Penduduk NTB yang menjadi PKI terbagi dalam kelas A, B dan kelas C. Warga NTB yang masuk kategori kelas A merupakan pengurus pusat, sedangkan kelas B adalah pengurus daerah. Dan yang paling banyak adalah kelas C yang tidak terlalu banyak mengetahui tentang PKI.

Dulu kata Bayu, para PKI di NTB juga telah mempersiapkan lubang-lubang sumur sebagai lokasi pembantaian orang-orang yang dianggap membahayakan keberadaan PKI. “Itu sebelum tragedi G30/SPKI, memang ada rencana juga di daerah-daerah,” bebernya.

Tidak hanya itu, eksistensi PKI NTB juga dengan menciptakan lagu berbahasa Sasak. Sampai saat ini lagu tersebut masih terus menyebar secara turun menurun. “Bahkan pernah ada pawai PKI, yang pria bawa parang dan wanita bawa alat penenun. PKI di NTB memang ada sejarahnya dan pernah besar,” kata Bayu.

Sampai saat ini, generasi PKI masih memelihara ajaran yang diturunkan padanya. Menurut Bayu, rasa dendam tentu masih ada karena ayah atau kakeknya pernah dibunuh. “Makanya tidak mengada-ada kalau di NTB juga berkali-kali kita temukan simbol PKI,” ujarnya.

Ajaran-ajaran yang berbau provokasi dan doktrin ala PKI juga disebarkan di NTB saat ini. Misalnya seperti doktrin ‘Ganyang Tujuh Syetan Desa’ yang masih melekat. “Saat ini ada tokoh PKI di Pulau Lombok dan di Pulau Sumbawa, mereka sangat menghormati tokohnya,” beber Bayu.

Sementara itu, menurut Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Mataram (UMM) Syafril mengatakan, salah satu cara menghalau kebangkitan PKI adalah melenyapkan ajarannya. “PKI secara partai tidak ada, tapi pikirannya masih bertahan. Makanya saya setuju kalau pemikiran-pemikiran komunis yanga ada di sebuah buku itu dilenyapkan saja,” ujarnya.

Buku-buku hasil karya Mark, Lenin dan lain-lain yang beraliran kiri sangat jelas  komunis. Apabila buku-buku tersebut bebas disebarkan maka bisa merusak pola pikir bangsa Indonesia termasuk penduduk NTB. “Ini jelas ada upaya sekelompok pihak untuk bangkitkan PKI, kita harus waspadai,” katanya.

Ketua DPD KNPI NTB, Hamdan menyampaikan dialog yang diselenggarakan kali ini untuk menjawab kerisauan masyarakat akan keberadaan PKI. “Biar masyarakat dan khususnya pemuda tahu bahwa PKI itu ada, dan apakah itu berbahaya atau tidak sudah disampaikan oleh narasumber. Makanya semua OKP kita undang,” ujarnya. (zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid