Tokoh Adat Minta Dilibatkan Pengelolaan Gunung Rinjani

DANAU SEGARA ANAK: Tampak kawasan Danau Segara Anak Gunung Rinjani yang begitu indah, namun kini jadi kotor karena banyak yang buang sampah sembarangan. (IST/RADAR LOMBOK)

MATARAM  — Kondisi Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) di pulau Lombok, dinilai memprihatinkan, kotor dan kumuh. Apalagi area di sekitar Danau Segara Anak, banyak sampah berserakan, sehingga tak layak lagi disebut destinasi wisata.

Kritikan itu disampaikan Tokoh Adat Sembalun, Purnipe, menyikapi masih banyaknya pengunjung yang tidak sadar lingkungan, membuang sampah atau kotoran sembarangan di Gunung Rinjani. “Orang buang kotoran semau-maunya, dan kita tidak bisa melarang, penyakit itu,” katanya, kemarin.

Selain itu, dia juga menyorot tidak adanya fasilitas toilet di kawasan TNGR. Padahal Gunung Rinjani masuk 10 besar daerah tujuan wisata di Indonesia. Dimana para wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini (Gunung Rinjani) juga dikenakan tiket masuk Rp 35 ribu per orang. “Jangan hanya karcisnya saja Rp 35 per orang. Berapa milliar itu per tahun, tetapi toilet-toilet tidak ada,” sindir Purnipe.

Baca Juga :  Empat Indikator RPJMD Lotim Lampaui Target

Kesempatan itu, Purnipe juga mengingatkan kepada Balai TNGR agar melibatkan para sesepuh adat setempat dalam pengelolaan kawasan TNGR. Apalagi sebelumnya Gunung Rinjani banyak digunakan untuk kegiatan semedi. “Tolong libatkan kami (sesepuh adat), ini tangis Rinjani kami sampaikan lewat sini,” pintanya.

Purnipe juga mengaku telah melayangkan surat ke pemerintah pusat, supaya keberadaan para tokoh adat Sembalun lebih diperhatikan, untuk memelihara dan mengelola kawasan TNGR. Sebab, Gunung Rinjani masih dijadikan tempat untuk melaksanakan sejumlah kegiatan spiritual oleh masyarakat setempat. “Ini pesan kami sebagai sesepuh adat NTB. Tolong lindungi dan perhatikan Rinjani ini,” ujarnya.

Baca Juga :  Penipuan Invetasi PT Losinta Menjadi Ranah Pidana

Ketika bencana gempa bumi Lombok 2018-2019, lanjutnya, daerah Sembalun, Lombok Timur, hampir rata dengan dengan tanah. “Saat itu kami sampaikan kepada beliau (pejabat) yang di provinsi, tolong lah kami masalah Sembalun untuk memelihara Rinjani. Sebab, dampaknya di seluruh NTB, bahkan Bali juga kena,“ ujar Purnipe.

Namun begitu, dia tidak melarang Gunung Rinjani dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. Hanya saja pihaknya menginginkan agar Taman Nasional Gunung Rinjani bisa dikelola secara adat, dan tidak ada lagi yang buang kotoran sembarangan. “Jangan buang kotoran sembarang tempat,” pungkas Purnipe. (rat)

Komentar Anda