Toko Modern Wajib Akomodir 30 Persen Produk Lokal

H. Fauzan Khalid
H. Fauzan Khalid (IST FOR RADAR LOMBOK)

GIRI MENANG-Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid angkat bicara soal menjamurnya toko modern seperti Alfamart dan Indomaret di Lombok Barat. Toko modern yang bahkan masuk kampung menimbulkan kekhawatiran ketidakberdayaan pengusaha lokal atas modal besar yang menggerakkan ritel modern. Yang terbaru, ada Alfamart beroperasi di Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung.

Bupati mengungkapkan, berbicara mengenai ritel modern memang serba salah. Dikarenakan keberadaannya sudah ada sebelum dirinya menjabat Bupati Lobar. Namun ada solusi yang dikeluarkan. “Ini memang kita serba salah karena dia sudah ada. Sehingga hal yang kami lakukan adalah membuat semacam peraturan yang mewajibkan 30 persen (dagangan) pasar modern itu harus ada produk lokalnya,” jelasnya.

Akan tetapi kendati dibuatkan regulasi lanjutnya, tidak serta-merta produk lokal masuk toko modern. Untuk masuk ada standar dan persyaratan yang harus dipenuhi. “Seperti pembayaran harus belakangan, kemudian juga harus ada SNI-nya, BPOM-nya, ini tugas pemerintah memfasilitasi para pelaku IKM kita. Ini sedang kita lakukan melalui Dinas Perindag, Dinas Kesehatan untuk memfasilitasi usaha IKM, supaya kita memperoleh kayak SNI-nya, BPOM-nya supaya bisa diterima di pasar modern,” beberanya.

Kemudian diterangkan berkaitan dengan pasar tradisional, itu terus juga dilakukan upaya revitalitasi agar pembeli betah. Tahun 2018 direncanakan revitalisasi tiga pasar tradisional. “Insya Allah pada 2018, paling tidak ada tiga pasar tradional yang akan kita revitalisasi, bentuknya tetap, tetapi ada tambahannya. Tambahnnya yaitu bersih. Alhamdulillah kita sudah mendapatkan jaminan back up dari pusat,” bebernya.

Kemudian dalam konteks lainnya, kemiskinan di Lobar itu penyumbang tertingginya adalah petani atau buruh tani. Solusinya adalah mengintervensi istri-istri petani untuk diberikan modal melalui Disperindag Lobar bekerja sama dengan Dinas Pertanian Lobar untuk berusaha, meningkatkan nilai tambah produk hasil pertanian. Misalnya menjadi panganan. Lebih-lebih saat ini juga sudah ada peraturan bupati yang juga mewajibkan SKPD di Lobar agar menggunakan produk lokal. Salah satunya panganan rapat. Selain membantu, daerah juga memperoleh Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Ahamdulillah sekarang sudah masuk Rp 1,8 miliar PAD dari biaya membeli konsumsi lokal dan produk IKM, yang biasanya banyak dibeli di Kota Mataram,” tandasnya.

Seperti diketahui, Pemkab Lobar memang mesra dengan retail modern seperti Alfamart. Alfmart pun bersedia menampung sekitar 20 produk IKM di Lobar, mulai dari kopi, dodol dan lainnya. Sebelumnya, Branch Manager Alfamart Wilayah NTB Dani Febriawan mengatakan, sebanyak 20 item produk IKM Lobar tersebut dijual pada 30 lebih Alfamart di Lobar. Hal itu juga sebagai bentuk komitmen mendukung gerakan “Ayo Pakai Produk Lobar” sesuai yang dicanangkan Bupati Lobar H. Fauzan Khalid.

Adapun target produk IKM yang direncanakan bisa terserap di Alfamart sesuai target bersama dengan Disperindag adalah 30 persen dari produk IKM se Lobar.

Diterangkan, bisa-bisa saja produk IKM Lobar dijual di gerai Alfamart luar Lobar. Hanya saja sejauh ini IKM di Lobar terkendala dengan produksi yang masih terbatas. Selanjutnya nanti akan di-review kembali tingkat penjualannya juga. Sebagai contoh beras 69 dari Sumbawa. Itu dijual juga di Lombok, karena selain produsennya siap menjual dengan jumlah banyak, penjualannya juga bagus.

Kepala Disperindag Lobar Agus Gunawan mengatakan, terdapat sekitar 15.000 produk pangan baik formal dan informal. Produk pangan formal sekitar 5.000 sementara produk pangan informal sekitar 10.000. Saat ini di Alfamart sendiri memang baru 20 item produk pangan yang bisa masuk. Target 30 persen dari total produk pangan yang diproduksi IKM di Lobar untuk masuk Alfamart tentunya akan diwujudkan bertahap. (zul)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid