Toilet dan Tempat Sampah di Objek Wisata tak Memadai

GIRI MENANG-Badan Lingkungan Hidup (BLH) Lombok Barat mengapresiasi hasil penelitian Angkatan 55 Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), berjudul “Studi Pariwisata Berkelanjutan di Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Utara Tahun 2016” yang disampaikan di Giri Menang belum lama ini. Dimana hasil penelitian ini menyimpulkan Lombok Barat kalah dari Kabupaten Lombok Utara (KLU) berkaitan dengan tingkat kepuasan wisatawan.

Kepala BLH Lombok Barat Lalu Edy Sadikin menerangkan kemarin, penelitian tersebut harus diterima dengan baik, karena begitu banyak masukan di dalamnya. Khususnya terkait rekomendasi perlunya objek wisata dilengkapi dengan toilet dan tempat sampah yang memadai. Faktanya memang benar, bahwa di objek wisata belum banyak tersedia toilet dan tempat sampah.

Beberapa hal yang menjadi kendala pengadaan toilet dan tempat sampah. Kendala utama adalah lahan. Toilet misalnya, Pemkab sering bingung dimana tempat mendirikan bangunan toilet. Apakah investor atau pemilik hotel mau lahannya dibangunkan toilet umum. Kemudian siapa yang nanti menjaga toilet agar tetap bersih dan terjaga. “Jadi hal-hal semacam itu harus kita pikirkan, terlebih ke mana nanti limbahnya dibuang,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (31/10).

BLH  sendiri ingin melakukan kajian berkaitan dengan toilet ramah lingkungan di objek wisata. Semisal toilet portable atau tidak permanen di objek wisata. Ia mengaku sudah mendapat tawaran terkait konsep toilet ramah lingkungan dari pemerhati sanitasi yang bekerja di Dinas Kesehatan NTB. “Rencananya dalam beberapa hari ini saya akan ditunjukkan konsep toilet ramah lingkungan ini. Kita nanti akan mengkajinya, apakah bisa menjadi rujukan atau tidak,” ungkap mantan Camat Sekotong ini.

Kemudian berkaitan dengan tempat sampah, saat ini pihaknya memiliki program tempat sampah. Ada total 40 tempat sampah yang masing-masing terdiri dari dua tong, tong sampah organik dan non organik. Sebanyak 40 tempat sampah ini akan segera dibagikan kepada sekolah-sekolah atau tempat ibadah, yang sudah mengajukan pengusulan. Adapun 40 tempat sampah yang ada saat ini, tampaknya kurang cocok jika ditempatkan di objek-objek wisata atau tempat umum. “Yang cocok itu adalah tempat sampah yang tidak mudah diambil (dicuri). Kalau yang kita punya ini, kita khawatir cepat hilang, karena mudah diangkat. Itu di taman kota, saya lihat juga sudah banyak yang hilang. Ini kita perlu pikirkan, bagaimana bentuk tempat sampah yang cocok di objek wisata atau tempat umum,” jelasnya.

Akan tetapi, kendatipun nanti tempat sampah sudah terpasang, haruslah pula pengangkutannya kontinyu. Untungnya, di Peraturan Daerah tentang organisasi perangkat daerah yang hendak disahkan dalam waktu dekat ini, BLH akan tergabung satu dengan Dinas Tata Kota Pertamanan dan Kebersihan. “ Kalau bergabung, maka kita enak, karena lebih mudah,” terangnya.

Tetapi yang lebih penting pula kata Edy adalah bagaimana agar sampah dari tempat sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) bisa dikurangi signifikan. Dalam artian, sebelum sampah dibawa ke TPA, dilakukan pengelolaan terlebih dahulu melalui bank sampah. “Di Lobar sendri ada lima atau enam bank sampah, namun masih perlu pembinaan. Bank sampah ini kita harapkan semakin banyak agar pengelolaan sampah, bisa lebih maksimal,” ungkapnya. (zul)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid