TKW Asal Lenek Disandera Majikan di Libya

SELONG—Salah seorang warga RT 4 Dusun Karang Bile Barat, Desa Lenek Pesiraman, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur  bernama Ermiwati binti Kemen, 23 tahun, yang kini menjadi TKW di Libya dikhabarkan keluarganya menjadi korban penyekapan oleh majikannya sendiri. Kekhawatiran ini diungkapkan oleh ibunya, Kinen alias Inaq Ardi, 47 tahun, kepada Radar Lombok, Rabu kemarin (31/8).

“Sejak lama anak saya ingin pulang, akan tetapi tidak diberikan (izin) oleh majikannya,” katanya dengan mimik sedih dan rindu pada anak kelimanya yang telah berada di Libya sejak 2,5 tahun lalu itu.

Inaq Ardi juga mengaku kalau dia tidak pernah bisa kontak dengan putri dari suami pertamanya tersebut, semenjak kepergiannya. Hingga kemudian mendengar khabar dari teman anaknya yang juga bekerja sebagai TKW di Timur Tengah, jika anaknya disekap dan tidak diberikan pulang, bahkan tidak diberikan gaji selama dua tahun lebih.

Sejak tahun lalu dikatakan dia berupaya, bahkan memelas kepada majikannya melalui salah satu keluarganya yang mahir berbahasa Arab untuk memintakan ijin agar anaknya diperkenankan pulang. Akan tetapi dikatakan hanya dijanjikan saja, dan sampai saat ini tidak juga diberikan ijin. Bahkan selama ini menurut pengakuan anaknya pada temannya yang juga bekerja sebagai TKW di Timur Tengah yang sering berkomunikasi melalui HP dan facebook, kalau dia disekap tidak diberikan keluar rumah meski hanya ke halaman rumah sekalipun.

Tidak itu saja, untuk makanpun dia sering diberikan nasi atau makanan sisa, dan selalu diancam manakala hendak keluar rumah, meskipun itu ke halaman. “Bahkan saking inginnya anak saya pulang, sampai dia beralasan jika saya mati,” sedihnya.

Tentu saja hal itu membuatnya sangat sedih, terlebih mendengar anaknya di sekap dan diperlakukan kasar, bahkan diancam. Yang lebih miris menurut pengakuan anaknya pada rekannya, saat anaknya datang bulan tidak diberikan pembalut oleh majikannya, dan disuruh menggunakan pampers orang tua majikannya yang lumpuh yang ia asuh selama dua tahun lebih di sana.

Sejauh ini pihaknya memang belum mendengar kalau anaknya disiksa, dan berharap itu tak sampai terjadi. “Mungkin karena tidak bisa bercerita, karena untuk telpon atau facebook-an, ia katanya harus sembunyi-sembunyi,” tuturnya.

Kepada pemerintah, ia berharap bisa melacak keberadaan anaknya di Libya, dan dipulangkan dengan selamat. Namun ketika ditanyakan alamat anaknya bekerja, ia mengaku tidak tahu, karena putrinya sendiri juga mengaku tidak tahu alamat dimana ia berada saat ini.

Demikian pula dengan berkas-berkas kewarga negaraan dan surat penting lainnya yang diperlukan sebagai warga asing di negara orang, dikatakan sama sekali tidak dipegang oleh anaknya. Juga perusahaan yang memberangkatkan anaknya, juga tidak diketahui. Terlebih yang menjadi sponsor pemberangkatan anaknya, khabarnya telah meninggal.

“Kami sudah bersurat ke DSTT di Selong kemarin, dan berharap pemerintah bisa membantu mengurus korban (anaknya), sehingga bisa pulang dengan selamat, serta  mendapatkan hak-haknya selama dua tahun setengah bekerja di Libia,” harap Aris Munandar, Ketua Forum Pemuda Paer Lenek, yang mengaku memiliki empati terhadap penderitaan korban dan juga keluarganya di rumah yang ditinggalkan, sehingga pihaknya berupaya membantu mengadukan hal ini ke pemerintah dan media, bahkan LSM seperti ADBMI. (lal)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut