TKI Asal NTB Tewas di Perairan Malaysia Bertambah jadi 7 Orang

EVAKUASI: Tim penyelamat negara Malaysia sedang mengevakuasi kapal karam yang mengangkut TKI asal Indonesia di perairan Tanjung Balau, Johor Bahru, Malaysia, Kamis (16/12).( ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Jumlah korban kapal cepat yang terbalik di perairan Tanjung Balau, Johor Bahru, Malaysia dipastikan bertambah.

Berdasarkan data terbaru Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi NTB, jumlah korban meninggal dunia asal NTB kembali bertambah menjadi tujuh orang. Di antaranya Gunawan asal Dasan Rambanbela Desa Lenek Kecamatan Aikmel, Yoan Eki Sudiatma, warga Kedondong Daya Kecamatan Pringgasela, Dedi Suryadi warga Anjani Timur Kecamatan Suralaga, dan Samsudin, Pemasah, dan Alwi dari Dusun Mampe Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur, Muhamad Nasir asal Balemontong Desa Kawo Pujut, dan satunya lagi bernama Syech Mulasela, asal Kampung Bineka Desa Kopang Rembiga Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah. “Dari tujuh identitas warga Lombok yang ditemukan, dua orang sudah teridentifikasi meninggal dari Lombok Tengah. Tapi banyak juga yang selamat,” ungkap Kepala Disnakertrans Provinsi NTB, I Putu Gde Aryadi kepada Radar Lombok, Jumat (17/12).

Mengingat masih banyak korban yang belum ditemukan, Gde belum bisa memastikan jumlah keseluruhan korban dalam tragedi maut kapal terbalik itu. Tapi data sementara yang diterimanya, banyak juga warga Lombok yang menumpangi kapal itu selamat dari tawaran maut tengah laut. Mereka berhasil diselematkan tim penyelamat negara Malaysia. Para korban baik yang selamat maupun meninggal dunia sekarang masih dirawat di rumah sakit Johor Bahru, Malaysia. “Ada juga warga Lombok Tengah yang lain tapi meraka selamat dari Dusun Batubangka DESA KAWO KECAMATAN PUJUT. Identitasnya masih kita tunggu informasi. Begitu juga dengan warga kita yang lainnya masih terus telusuri informasinya,” sambungnya.

Gde menambahkan, korban yang masih hilang masih dicari tim penyelamat negara Malaysia. Begitu juga dengan korban yang sudah ditemukan sedang proses identifikasi dan evakuasi oleh petugas setempat. Pihaknya juga tidak tinggal diam untuk mencari informasi mengenai data identitas korban baik yang sudah ditemukan maupun yang belum ditemukan. “Belum ada datanya korban yang lain. Karena masih dalam proses pencarian, terutama yang belum ditemukan. Tapi yang paling banyak dari Jawa infonya,” tambahnya.

Berdasarkan informasi resmi yang diperoleh Disnakertrans Provinsi NTB dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru. Kapal cepat yang berangkat dari wilayah Kepulauan Riau menuju daratan Johor Bahru, Malaysia, tersebut dilaporkan membawa 50 orang. Dari jumlah penumpang itu, 11 orang ditemukan meninggal, 14 orang selamat, dan 25 orang belum diketahui keberadaannya. ‘’Korban yang selamat ini terdiri dari 7 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. Sedangkan dari 14 orang yang ditemukan dalam kondisi selamat terdiri dari 12 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Dari 2 dua perempuan yang selamat, satu orang dirawat di Hospital Kota Tinggi karena kondisi kritis diduga kekurangan cairan atau dehidrasi,’’ sebut Gde.

BACA JUGA :  RSUD Siapkan Peti dan Kain Kafan Jenazah Pasien Covid

Dari 12 orang laki-laki yang ditemukan selamat, sambungnya, polisi menduga satu di antaranya sebagai pelaku TPPO (tekong). Dan 14 orang yang selamat telah diamankan oleh Angkatan Tentara Malaysia (ATM) di Tanjung Sepang Kota Tinggi untuk dilakukan penyidikan. Sementara korban yang ditemukan meninggal dunia, jenazahnya telah dibawa ke Hospital Sultan Ismail (HSI) Johor untuk keperluan otopsi, PCR tes dan penyidikan/identifikasi (pengambilan sidik jari) oleh pihak Forensik HSI.

Dari bukti-bukti dokumen yang ditemukan terdapat beberapa identitas korban kapal karam berupa Paspor RI No. C7768256 atas Fatimah, lahir, Jember, 1 Juli 1978, Paspor RI No. C8244268 atas nama Andy Maulana, lahir, Cilacap, 29 Maret 1999. Kemudian KTP atas nama Andy Maulana dengan alamat Jalan Sibekel No.0138 RT 25 RW 8, Desa Pasuruhan Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, SIM C atas nama Nasirah, lahir: Cilacap, 12 April 1979, dengan alamat Jalan Sibekel No.0138 RT 25 RW 8, Desa Pasuruhan, Kecamatan Binangun, Kab Cilacap, Jawa Tengah.

Kemudian bukti PCR yang dikeluarkan Surya Kartika Medika dengan alamat Jalan Raya
Jetis Nusawungu Cilacap atas nama Tukiman Martameja. Fotokopi KK tercantum nama kepala keluarga atas nama Gunaman, Suhartin (isteri) dan
Huratul Zakiyah (anak) dengan alamat di Ramban Bela Desa Lenek Rabanbiak, Kecamatan
Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, NTB.

Selanjutnya, kartu sertifikat vaksin atas nama Yoan Eki Sudiatma, lahir, Kedondong, 1 Oktober 2000, dengan alamat Desa Kedondong Daya, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, NTB, kartu sertifikat vaksin atas nama Dedi Suryadi, lahir: Anjani, 18 Juli 1987, dengan alamat Desa Anjani Timur, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur, NTB, kartu sertifikat vaksin atas nama Muhamad Nasir, lahir: Kawo, 14 April 1981, dengan alamat Desa Balemontong I, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, NTB. Ditemukan juga boarding pass Lion Air atas nama Muhamad Nasir, berangkat dari Jakarta
8 Desember 2021 tujuan Batam. Fotokopi kartu sertifikat vaksin atas nama Samsuddin, lahir: Pemasah, 1 Juli 1977, dengan alamat Desa Pemasah, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, NTB. Dan berupa fotokopi kartu sertifikat vaksin atas nama Alwi, lahir: Mampe, 16 Juli 1985, dengan alamat Desa Mampe, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, NTB. “Dari data sementara yang kita terima kemarin. Memang identitas yang paling banyak dari Lombok Timur dan Lombok Tengah saja. Tapi sekali lagi, dua orang sudah teridentifikasi meninggal dunia dari Lombok Tengah,’’ sambung Gde.

BACA JUGA :  Pemilihan Rektor Unram Nihil Pendaftar

Gde juga menegaskan bahwa keberangkatan TKI yang jadi korban kapal karam tersebut dipastikan secara nonproseduran atau ilegal. Karena sampai saat ini negara Malaysia belum membuka penempatan tenaga kerja dari Indonesia. Sehingga pihaknya juga akan menelusuri oknum calon yang membarangkatkan para TKI tersebut. “Kita juga sedang telusuri data-data yang korban yang nanti juga kita telusuri siapa yang memberangkatkan meraka. Siapa tahu yang memberangkatkan meraka ikut juga dalam rombongan. Karena sejak awal saya katakan sampai sekarang Malaysia belum buka penempatan tenga kerja,” tegasnya.

Menurut Gde, hal yang dilakukan untuk memastikan lebih jelas identitas siapa yang memberangkan para TKI. Karena tanpa identitas yang jelas pihaknya tidak bisa melakukan penindakan. “Saat ini kita tidak berani menduga-duga dulu. Yang jelas kita akan telurusinya. Baik kronologis dan modusnya seperti apa dan siapa orang-orang yang terlibat perlu kita telusuri,” katanya.

Setelah data lengkap baru nanti akan mengambil langkah seperti apa. Karena kemungkinan dugaanya yang memberangkatan para TKI ikut juga dalam rombongan seperti peristiwa sebelumnya kasus tiga warga Lombok Tengah yang meninggal dunia yang direkrut oleh calo asal Lombok Timur. “Tapi saat ini kita fokuskan dulu penangan warga kita yang sudah ditemukan. Terlebih petugas juga sedang proses pencarian bagi korba kepada korban lain. Karena nanti apakah korban yang ditemukan akan dipulangkan atau tidak. Jadi kita lihat dulu perkembangan selanjutnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Polda NTB  turun tangan menelusuri perihal dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) TKI dari insiden korban kapal karam di perairan Malaysia. “Sambil menunggu kabar dari BP2MI (Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia), kami dari Polri melakukan upaya penelusuran informasi di lapangan,” ungkap Dirreskrimum Polda NTB, Kombes Pol Hari Brata.

Pihaknya akan membiarkan BP2MI bekerja dulu sebagaimana mestinya. Baru hasilnya nanti dikordinasikan dengan Polda NTB. “Jika nanti hasil BP2MI ditemukan ada indikasi pidana baru kita turun mengusutnya. Tetapi sembari menunggu itu kita cari informasi dulu,” bebernya.

Untuk saat ini, Brata mengaku belum dapat berbuat banyak. Pasalnya belum ada pihak yang merasa dirugikan melapor ke Polda NTB. “Saat ini kita menunggu laporannya,” ujarnya. (sal/der)