Tirai Mandi Dewi Anjani yang Kini Ramai Dikunjungi

PENUTURAN para tokoh sepuh (tua, red) yang diceritakan secara turun-temurun kepada masyarakat Desa Batu Kliang Utara, Kecamatan Batu Kliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah, konon pada masa lalu di pulau Lombok ada putri seorang wali (tokoh ulama, red) yang kecantikannya begitu sangat mempesona.

Kemana-mana putri ini pergi, selalu didampingi para pengiringnya yang setia. Termasuk ketika dia ingin mendaki Gunung Rinjani melalui sebelah utara Lombok Tengah. Keindahan panorama alam di daerah yang kini bernama Batu Kliang Utara itu rupanya menarik perhatian sang putri, sehingga dia betah berlama-lama pesiar (wisata) di lerengnya.

Hingga akhirnya, Dewi Anjani kelelahan, dan berniat untuk mandi di sebuah air mancur yang ada di tengah hutan. Tanpa diminta, para pengiringnya segera memasang tirai untuk menutupi sang putri yang sedang mandi. Sebagai putri seorang wali yang sakti, Dewi Anjani konon juga dikarunai kesaktian seperti ayahandanya.

“Usai mandi, tirai yang sebelumnya digunakan Dewi Anjani untuk menutup ketika dia mandi, berubah menjadi air terjun yang lebar, seperti Kelambu (bahasa Sasak yang berarti tirai-red), atau kemudian masyarakat menamakan air terjun yang tingginya sekitar 40 meter tersebut Air Terjun Benang Kelambu,” kata Abdul Kadir, penemu dan perintis obyek wisata Air Terjun Benang Setokel dan Benang Kelambu, menceritakan legenda yang dia dengar dari leluhurnya itu.

Selesai mandi di Air Terjun Benang Kelambu sambung Kadir, perjalanan mendaki gunung Rinjani kembali dilanjutkan, hingga akhirnya Dewi Anjani tiba di sebuah tempat yang dinamakan Air Terjun Atas Awan. “Dinamakan Air Terjun Atas Awan, karena air terjun ini terletak di atas ketinggian lereng gunung Rinjani. Dimana saking tingginya air terjun, sewaktu-waktu ketika ada kabut turun, air terjun ini seperti berada di atas awan,” jelasnya.

Air Terjun Atas Awan, atau masyarakat Batu Kliang Utara kemudian menyebutnya Air Terjun Tiara Dewi Anjani, terletak di atas ketinggian sekitar 2500 dari atas permukaan laut, atau hampir mendekati Plawangan Gunung Rinjani di sisi utara. “Medan yang menanjak, dan belum ada akses jalan memadai untuk dilintasi kendaraan bermotor, menjadikan potensi air terjun ini hampir jarang sekali dikunjungi para wisatawan. Kecuali para pendaki gunung Rinjani yang mendaki melalui jalur dari Benang Setokel saja yang pernah melihatnya,” tutur Kadir.

Kembali ke air terjun Benang Kelambu, perjuangan Abdul Kadir untuk memperkenalkan potensi wisata air terjun Benang Setokel dan Benang Kelambu, dapat dikatakan tidak mudah. “Sekitar tahun 1970-an, ketika baru tamat Sekolah Teknik Mesin (STM), oleh Kepala Desa Teratak (wilayah Batu Kliang Utara masih berstatus Pedusunan di bawah Desa Teratak), saya diajak bergabung menjadi pengurus LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa),” ucap Kadir.

Sejak itu dia mulai memiliki ketertarikan untuk mempromosikan potensi wisata yang ada di dusunnya (Benang Setokel dan Benang Kelambu). Berbagai upaya dilakukan Kadir untuk menata kawasan kedua air terjun diwilayahnya tersebut, agar layak dikunjungi para wisatawan. “Namun perjuangan saya mencari dukungan, baik ke pemerintah daerah maupun lembaga atau instansi terkait, dianggap angin lalu saja,” papar Kakdir.

Hingga tahun 1976, Dusun Batu Kliang Utara menjadi desa mandiri, terlepas dari Desa Teratak. Perjuangannya untuk mengenalkan potensi air terjun Benang Setokel dan Benang Kelambu tidak pernah padam. “Saya undang orang-orang untuk datang menyaksikan keindahan dua air terjun di Batu Kliang Utara. Bahkan saya sampai mengundang orkes dangdut terkenal di pulau Lombok, OM Pelita Harapan pimpinan Al Mahsyar untuk pentas di sekitar Benang Setokel,” cerita Kadir mengenang perjuangannya.

Pelan namun pasti, masyarakat pulau Lombok mulai berkunjung. Termasuk para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. “Sekarang, air terjun Benang Setokel dan Benang Kelambu yang masih dalam satu kawasan ini kalau pada hari biasa dikunjungi tidak kurang dari 25-an wisatawan. Bahkan kalau hari libur atau hari minggu, wisatawan yang datang bisa mencapai 3000-an lebih,” beber Kadir.

ASESOR: Dua Assesor UGG, ketika datang dan berkunjung ke obyek wisata Air Terjun Benang Kelambu, untuk menilai kelayakan Gunung Rinjani masuk sebagai UGG.

Melihat antusias wisatawan itu, maka atas restu Desa Batu Kliang Utara, Pemda Lombo Tengah, hingga Pemda NTB, termasuk pihak Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) sebagai pemilik kawasan, Abdul Kadir mendirikan Community Based Tourism Organization (organisasi komunitas pariwisata) yang dinamakan BENSTOL, kependekan dari Benang Setokel.

BENSTOL yang anggotanya terdiri dari anak-anak muda Desa Batu Kliang Utara inilah yang kemudian mengelola kedua destinasi wisata kebanggaan Kabupaten Lombok Tengah ini. “Kepada para pengunjung kami kenakan tiket masuk sebesar Rp.3000. Sedangkan bagi wisatawan yang hendak pergi ke air terjun Benang Kelambu yang jaraknya dari air terjun Benang Setokel sekitar 30 menit jalan kaki melalui kebun kopi dan sedikit mendaki. Kalau mereka menggunakan jasa ojek kita kenakan tarif Rp.30 ribu untuk wisatawan domestik, dan Rp.40 ribu untuk wisatawan mancanegara,” jelas Kadir.

Dari pendapatan itu sambungnya, 20 persen disetorkan ke Dispenda Lombok Tengah sebagai PAD, 22 persen untuk pengelola (BENSTOL), dan sisanya dibagi sebagai pendapatan para pekerja yang jumlahnya mencapai sekitar 100 orang, terdiri dari local guide 20 orang, tukang parker 40 orang, dan tukang ojek 40 orang.

Kadir berharap Pemda Provinsi membangunkan lahan perparkiran yang representatif, serta lokasi berjualan para pedagang yang rapi, indah dan nyaman. Mengingat saat ini lahan yang dipakai sebagai areal parkir kendaraan dan lapak para pedagang adalah milik kawasan hutan yang dikelola BTNGR.

Mendengar permintaan itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, HL Moh. Faozal, berjanji mengupayakan lahan parkir milik Pemda, yang nantinya akan diserahkan pengelolaannya kepada BENSTOL. Demikian juga soal lahan untuk mendirikan lapak-lapak para pedagang, pihaknya akan menata sehingga lebih indah dan asri.

“Komitmen kami, Disbudpar NTB adalah untuk menatadan membangun berbagai obyek wisata agar siap dikunjungi para wisatawan. Terpenting, membawa nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan obyek wisata. Karena kalau tidak membawa manfaat, tentu masyarakat tidak akan menjaga kelestarian obyek wisata,” papar Faozal.

Air terjun Benang Kelambu berada sekitar 500 meter ke arah hulu dari lokasi air terjun Benang Setokel yang terletak dekat pintu gerbang kawasan. Untuk menuju air terjun Benang Kelambu dapat ditempuh melalui jalan setapak sejauh sekitar 1 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit berjalan kaki. Air terlihat keluar dari celah-celah batu pada dinding gawir (tebing) membentuk 4 tingkatan air terjun dengan ketinggian sekitar 40 meter. Air yang keluar menyerupai tirai, atau kelambu dalam bahasa setempat, sehingga belakangan lebih dikenal sebagai air terjun Benang Kelambu. (gt)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid